Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Friday, 27 May 2016

Yang Lain

Tidak ada baiknya, tidak ada pula kebaikan
Berbicara, bersikap dan bertindak lurus
Ini bukan meja judi, yang ingin terus menang
Bukan pula berdoa yang selalu ingin kuat dan mudah
Ini masalah dapur bagaimana bisa terus berasap
Bisa makan, kenyang dan damai
Ini kehidupan didunia

Tidak ada gunanya, tidak ada kegunaannya
Menyingkirkan, Meluruskan 'yang lain' biar sama sama
Ini bukan jalur kereta yang tidak akan keluar jalur
Bukan pula udara yang selalu mengisi ruangan
ini masalah sandiwara yang melibatkan banyak tokoh
Bengis, jujur, sabar dan rajin bertemu dalam 1 masalah
Ini perbedaan




Thursday, 17 December 2015

Hujan yang mengajari

Hujan sudah mengajariku
Hujan yang jatuh tak beraturan
setelah jatuh bisa langsung tahu
ia mau apa dan kemana

Alangkah bahagianya aku 
dijadikan manusia yang menghuni bumi
Segala apa yang diciptakan adalah pelajaran
yang tidak beresensi pada satu nilai kepuasan.

Dimulai dari pertanda hujan
Awan awan semrawutan kemudian menghitam
Menyebar merata sesuai kadarnya
Sampai sang tuan meneduh sebisa

Hujan yang tidak bisa adil
Membagi tetesan tak hingga
Tetesan yang tak sebesar gunung
Pada semua ciptaan Tuhan

Hujan yang ketakutan pada alam
Pada tuan yang menyalahi datangnya
Ketika tetesan hujan sebesar gunung
Mengelun daratan sampai isinya

Hujan yang bersalah
Datang bukan waktunya
Tetapi hujan yang mengajari
Hujan hanya bisa memberi

Ludbizar, hujan yang mengajari, desember 2015

Wednesday, 14 October 2015

Tak keluh-puisi diri untuk diri sendiri

Hingga pagi ini dan sampai aku tak menemukan pagi,
Tuhan pasti tidak mengatakan
siapa yang melempar aku ke ruang rasa yang tak berbatas,
Aku rasa ini karunia, Aku pikir ini dunia.

Dunia,,
Pagi ini tidak ada sebilah kata satu pun untuk memukulmu.
Pagi ini begitu lesu membuat tersayup sayup di tempat tidur.
Kian membosankan dengan segala pekerjaan di depan komputer.
Mata keruh sulit menghadapi terang diluar sana.
Diluar yang penuh fatamorgana kehidupan.
Mungkin disinilah kenyataan, didalam kegelapan,
karena didalam kegelapan aku bisa melihat siapa yang putih dan siapa gelap,
siapa yng terang dan siapa yang redup.

Mungkin dengan Secangkir kopi ini akan kucukupkan bersama senja,
bersama anak anak kecil yang riang mengenakan pakaian beribadah.
Puji syukurku sebagai bagian darimu,
wahai kalian anak anak yang telah ditinggalkan bapak ibumu.

Ibu,
Biarkan saja gelap menelanmu hari ini lebih cepat
Aku masih disini, memandangmu dengan jelas
Karena lelahmu bersinar diantara keringatmu yang masih mengalir
Nyamanlah disampingku, malam ini dan malam malam yang lain.

Aku,
Lama lama bisa ku pukul bayanganmu
Bayanganmu membuat lamur akalku
pergilah, bermain dengan hayal
jengahlah pada cita yang sudah melambai
Pergilah
Malam ini aku akan bermalam dengan tenang
Menyibak bersih hayal dengan doa
Sudahlah tidur,
sepotong malam ini akan kusimpan.
Biarkan saja lampu lampu taman sendirian.
Jangan sampai cahaya menyibakku esok hari.

Monday, 12 October 2015

Aku dan Kotak

ilustrasi
Hujan mengguyurku saat pulang menggendong pengetahuan. Saat tiba dirumah, tubuhku terbaring lemas di atas ranjang. Aku meringik sembari memegang dadaku yang lembek. Sore ini keluarga begitu cemas menyandangku. Terlebih ibuku, setiap detik tak memalingkan mata belainya yang tulus. Beribu doa telah terucap untuk menyelamatkan satu-satunya anak yang tersisa. Sang pemberi asi gamang padaku, kehilanganku. Aku paham perasaan ibu, sorot kecemasan yang menyilau. Matanya begitu sayu, tak berseri.

Sore ini hujan mulai deras. Aku ingin duduk bersandar sambil memandang sebuah kotak yang lusuh, kecil, seperti sebuah hadiah kecil. Kulihat ukurannya seperti kotak cincin. Tak jelas apa yang ada didalamnya. Kotak itu ada sebelum aku berada disini. Setiap orang yang masuk akan menganggapnya sebuah barang antik. Ah, masa bodo. Kotak itu seperti mainan yang tersedia di tukang mainan keliling.

Kotak kecil itu adalah kotak mainan kakakku. Ibu menjawabnya begitu setiap kali aku tanya tentang kotak itu. Oh, mungkin ibu masih mengenang mainan kakakku. Entah, ibu hanya bisa berpasrah, kakakku dan aku yang sedang dipikirkannya, anak anak yang lemah.

Dulu setiap sore, aku dan kakak mengobrol di sini, didekat jendela, tak kala aku memandang matanya yang teduh. Mata yang seolah bercerita dengan riang. Mata yang membuat aku percaya bahwa dia seorang kakak yang tabah. Aku belum pernah melihat wanita yang penuh cinta dan gairah. Sosok ibu yang turun kepada anak pertamannya.

Suara yang lembut seperti alunan yang membilas genderang telingaku, begitu sejuk. Kakak cerdas dan luar biasa bila ia bercerita, menawan dan bersabda. Banyak bercerita tentang hidupnya dan kotak itu. Katanya, dalam kotak itu adalah mainan kakakku, mainan kesayangan ketika aku menanggis. Kakakku dengan kotaknya lihai membuat aku bergembira lagi. Masa kecilku, masa balitaku. Aku tak bertanya perihal pernyataan kakak. Karena jelas kotak itu mainan bersama aku dan kakakku.

Suatu sore kakak bercerita ”Kita adalah kotak yang mempunyai empat sisi samping, satu sisi atas dan satu sisi bawah. Kita adalah keluarga yang sepeti kotak, aku, kau, ibu dan bapak empat sisi sampingnya, lalu sisi bawah dan atas adalah kekuatan dan cinta. Oleh sebab itu, Ketika salah satu sisi roboh, kekuatan dan cinta bisa menjaga sisi yang roboh” kakak begitu lugas. Setelah selesai, kakak biasanya memegang kotaknya. Kami selalu seperti itu, selalu mengumbar rasa pada segala yang ada di sekitar. Walau cuma ada kotak. Bagi kami, hidup tak bakal habis meski digali dari sebuah kotak. Mungkin ini kenangku pada kotak dan kakakku.

Hujan telah lebat, selebat kecemasan ibu kepadaku. Sebab tak biasanya aku sakit meringik akhir ini. Sebelumnya, sehari atau paling lambat tiga hari, ada hal yang aneh padaku. Hal itu menjadi biasa karena aku terlalu keras beraktivitas. Aku pikir itulah sebab aku merasa sakit di dada, dadaku yang lembek. Ibu juga mengatakan bahwa ibu merawat kakak seadanya sebelum pergi. ibu tidak mau mengulangi. Ibu memandangku penuh harap, aku akan tetap hidup. Ibu pun membawaku ke rumah sakit.



Di ruang yang semakin sempit justru tak tenang, pandanganku terbatas seperti dalam kotak. pandanganku yang hanya sampai pada tembok tembok putih. Apalagi, orang orang cengeng yang mendekatiku. Sungguh, aku ingin berdiri dan lari ke halaman belakang rumah. Mendapati sepoinya angin dengan pandangan tanaman padi yang hijau dan kicau burung emprit yang merdu.

Sudah tengah malam, orang orang penunggu orang sakit tidak segan melepas kantuknya. Alunan sendu karunia Tuhan mengalir merdu ke telinga. Sang pemberi asi yang terus memuntahkan suara kecemasan, tampak layu raut mukanya. Jelasnya, aku tak bisa menahan hari demi hari di ruang kecil yang berbatas. Gerah, aliran keringat mengalir. Kondisi ini dirundung duka.

Mungkin sebuah banyolan aku melompat dari keadaan ini. Cepat atau lambat pasti bisa melewati keadaan terbatas ini. Berdoa mungkin jadi tindakan mulia, ketika berjanji dan bersumpahku luntur oleh lembeknya jiwaku. Terus berdoa, dan melihat orang orang yang berdoa untukku.

Aku tak menganggap besok adalah hari baikku. Setidaknya, aku bisa bersandar untuk melihat tegak kedepan, bukan keatas yang selalu nampak putih dan fana. Kemudian bisa mengangguk untuk setiap pertanyaan “kamu tidak apa apa?” karena setiap orang yang menyapaku mengatakan begitu dengan membawa sebuah hasil bumi dari kampungnya, sekalipun aku tak percaya yang sesuai kemampuannya. Mereka tidak peduli sesakit apapun mereka, ketika melihat orang lain berada di rumah sakit.

Lebih dari sebuah renungan panjang ketika berbaring lama disini, terlalu lama !! Aku ingin segera bangkit, aku ingin melolohi hobi hobi kesayanganku, membuat jemari ini lemas merangkai kata demi kata, membuat syair indah tentang hidup. Sayang, kabar sehat itu belum juga datang.

Ku rasa belum saatnya, padahal aku ingin berjuang lagi demi sehelai nafas. Bagaimana bercinta yang halal dengan hobiku. Selanjutnya, aku baru membuang harapan palsu, membersihkan jiwa dan menuju kamar peristihatan terakhir. Lebihnya, para penyandang baju hitam membawakan ragaku kelubang pertiwi.

Kita kenal kereta jawa yang beroda manusia. Itu kendaraan istimewa dan suci untuk manusia. Aku akan terbujur di kendaraan itu. Kalian pun pasti ingin menaikinya kelak. Walau akhirmu tiada prediksi terhebat yang sanggup menganggukinya.

Aku hanya bisa melihat dunia yang fana. Kembali menikmati kehidupan abadi di tumpukan kebaikanku yang ada. Buruknya, jika tumpukan itu tidak terlalu sanggup menahanku. Aku jatuh dalam bara panas dan busuk.

Setelah lama merenung, aku bisa merasakan sebuah keikhlasan dengan keadaan ini, hatiku tenang. Aku pun bisa melemaskan tubuhku untuk bergerak, walau sekedar duduk sambil bersandar sambil menikmati saji sehat dari penjenguk. Dalam hatiku “semoga saja ini bukti aku sudah kembali” . Ternyata benar, kabar sehat itu kembali padaku, aku nanti siang bisa pulang. Kembali pada rumah sederhana yang cukup luas.

Dirumah, aku justru ingat ayah. Ketika sepanjang sore ayah mencoba tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa, Nampak lebih keras. Ia tetap menekan tinta dengan kesumukan. Tetapi justru menodong secangkir teh hangat. Aneh, ia seakan tidak peduli dengan hawa sekitar.

Ayah mengambil lembaran folio terus menerus dari ia mulai menulis. Folio itu berserakan dengan bekas genggaman kuat. Entah, ia sedang mengalirkan rasanya pada sebuah tulisan. Aku ingin tahu apa yang ayah kerjakan sebenarnya. Lantas aku mendekatinya dengan tubuh yang masih lemas. Ternyata ayah sedang membuat surat, Ia menggeleng nggelleng, ia kesulitan dan tidak tenang. meskipun kenyataan ayahku dulu sampai sekarang adalah orang paling gemar mengajariku untuk tenang.

Tetapi yang muncul di kepalaku hanyalah keadaanku belum kembali. Tak sadar, ayah menatap keras ke arahku, mungkin ayahku menyuruhku kembali ke kamar dan berbaring. Kenyataan tubuh ini belum beger, masih lemas mengulai.

Keadaan dikamar yang mulai sirung, tak jelas. Suasana yang mungkin cocok untuk tidur dikala sehat, namun keadaanku yang lemah membuat tidak tenang. Aku masih teringat kata kata kakak ketika ia masih disini dan berpikir apa benar keluargaku seperti kotak?

Lantas aku berpikir, Keluargaku sudah kehilangan satu sisi, apa akan kehilangan satu sisi lagi? Jika iya lantas bagaimana dikatakan kotak? Ayah dan ibu tentu tidak mempunyai cinta dan kekuatan ketika anak anak mereka telah lenyap dari pelukannya. Sebagaimana yang diceritakan kakak, jika kekuatan dan cinta tidak ada lagi, tidak ada lagi sisi yang tumbuh, kotak itu akan hancur selamanya.

Friday, 11 September 2015

Cerpen Bahasa Banyumasan ; Obong Obongan

Ninine enggal dina ruwing ndelengi bocah bocah pada mbuang runtah sekarepe dhewek. Apa maning runtah plastik, bekas bungkus jajan. Ninine saking kepengin njunjung blukang nggo nggurah bocah sing sering dolanan neng latare.

Saben esuk ninine rawat latar nganti bersih, wis kaya taman kota bersihe. Banjur wayah sore latare ninine wis kaya TPA gunung tugel, latare merah meruh. Ninine munggah darah, saben ana bocah liwat domaih kaya wong ora waras.

Wektu kuwe pas ninine lagi menggeni, ujug ujug mbuh gedumbreng neng pager sentonge ninine sing mung dialing alingi seng. Ninine sing lagi menggeni njimprak kaya bancet kawin karo ngomong "gusti pangapura, sapa kiye sing gawe kaget, kaya asu !". Asune metu kang cangkeme ninine nganti tangga teparo pada krungu.

"Allahhh, gusti untung jantungku ora copot" ngresulane ninine. Ninine sing lagi alon alon nyebut krungu cekikikane bocah. Ninine ngerti bahwa cekikikane bocah kuwe sing gawe kaget. Ninine sing wis medegel banjur nyeneng blukang metu sekang pedangan utawa sentong.

"woy, koe bocah apa anak mbelis !! wong lagi enak enak menggeni dikageti, anake sapa jane!" medegele ninie karo nyincing jarit. Bocah sing weruh ninine nggawa blukang banjur pada pecicilan mlayu kaya celeng.

Ninine sing esih medegel mlebu pedhangan maning, nerusna menggeni. Ora nyana, para sing isi suluh kebakar. Apese ninine wis lagi medegel ditambah para kebakar gara pawone ora ditungguni dadi  mlagar gara gara ngurusi bocah edan.

"Tulung,,, tulung,,, pedhanganku kebakaran,tulung kiye gusti........ !!" suarane ninine nyaingi toa langgar, serune poll.

Bersambung...

Saturday, 5 September 2015

Putri Anggasuta | PUISI Edisi KKN

Aku yang tak berbekas di alam anggasuta, aku ingin menyampaikan rasa selayang untukmu. Putri-putri anggasuta yang berbudi luhur, ramah dan santun. Kepada Tuhan dan Alamnya ku persembahkan sebuah rangkaian kata yang tak tertata rapi.

Dendang angin berayun ayun
Mengalun sendu di alam anggasuta
Menemani bocah berparas ayu
Menyiru sumbul hasil bumi

Telatah kalbu putri menggugah rasa
Menampik kecemasan yang tak seimbang
Sebutir hati yg keras menggerai kuat
Sebongkah koin merampas seisi pandang
Tepenuhi bayang putri
 
Mungkin ku tulis sinis
Di lembar pangkuan jiwa
Untuk menampik muslihat yang abadi
Dalam gerangan setangkai hasrat terurai rapi
Menyodorkan kasih yang bergerayangan

Kini sebatang dahan yang kau beri
Melebur tunggal menjadi satu
Dalam nyanyian-nyanian rindu yang membersit
Lugas tak menampakkan kelukur yang terperanjat
Selengan kerlipan mata merapal kalimat dipadang tandus
Anggasuta...


Mungkin itu ungkapan kecil dari pikir yang mungkin sempat tertinggal disini. Aku kira sudah selesai, tapi hubungan yang abadi antara alam dan jiwa yang bersih akan selalu abadi di singahsana Anggasuta. Sekian dan trima kasih

Saturday, 25 July 2015

Tulisan itu sampah

Ruang hampa, luas dan tak berbatas adalah ruang yang nyaman untuk menulis. Ini teori terbalik dari ilmu kepenulisan dan asumsi penulis-penulis pemula. Apabila kita balik dan ubah sedikit kalimat itu maka akan menjadi "Menulis adalah ruang hampa, luas dan tak berbatas" itulah esensi menulis.

Bagaimana? jika kalian susah menulis, maknailah kalimat diatas. Tidak lama kemudian kalian akan segera menulis dengan mudah. Sekalipun masih berantakan, anggap saja tulisanmu itu sampah ! sampah yang akan terus kalian buat setiap hari.

Seorang yang pandai menulis akan mempunyai ruangan luas, tenang, bebas dan tak berbatas walau ditempat yang sempit, ramai, dan berdesakan. Apakah selama ini kalian belum merasakan keadaan ini? belajarlah lagi menulis sampah.

Kok menulis sampah? menulis sama seperti mengeluarkan kotoran dari tubuh. Memberi kelegaan sendiri pada tubuh. Renungi saja, siapa membuang kotoran akan merasa lega. Siapa orang yang berhasil menulis itu lega.

Semakin lancar membuang kotoran tubuh, sehatlah badan anda. Semakin anda menulis, semakin sehat tulisan anda. Sampah sampah yang akan berlimpah sama (tulisan tulisan yang berlimpah) adalah anugerah.

Bagaimana cara mengeluarkan kotoran, kita makan dulu. Bagaimana cara memulai menulis, baca dulu. Tulislah apa yang menjadi sampah dipikiranmu, ASU, BANGSAT, TAEK, Boleh boleh saja. Sastra tidak mengenal kejelekan, tulisan adalah  pesan. sekian dan terima kasih


Informasi penting !
  1. Bagi kalian sudah mengirim naskah puisi bersama wadahcerpen, terima kasih banyak atas partisipasinya.
  2. Pemenang adalah peserta yang naskahnya sudah dinominasikan (Silakan menghubungi saya selaku pj event di 083893833037 atau di 7e729f55 (pin bb) sampai tanggal 10 agustus)
  3. Bagi yang ingin bertanya mengenai lomba juga silakan, saya terbuka bagi siapapun.

Sunday, 7 June 2015

Diskriminasi dalam dompet


Sore ini hujan memaksa tetanggaku mengankat jemuran, kayu bakar yang hampir kering dan sisa nasi kemarin dengan tergesa gesa. Mereka bagai mainan yang dikontrol oleh remot, mereka serentak bergerak dari dalam rumah mengambil apa yang sedang dijemur. Itulah remot, remot alam yang akan menyusahkan ketika kita tidak mengenal lingkungan.

Di atas tanah yang mulai becek, ada sedikit yang menarik. Selembar daun tetean, mainan anak dulu yang dijadikan uang mainan. Daun itu sudah basah dan kotor yang akan terbawa air hujan. Air hujan adalah perubahan dan kau daun adalah hal yang akan selalu terbawa dalam perubahan.

Hujan, apakah engkau pernah berpikir berhenti menjatuhkan air dari atas? Manusia sudah tidak sama ketika mengharapakanmu sebagai anugrah. Kini kau penyebab bencana. Berbeda ketika ayah dan ibu belum melarang bermain denganmu di sawah kering kala kau turun pertama kali.

Ini rinduku, Hujan. Bak lelaki yang merindukan kekasihnya di malam minggu. Aku kini kesepian mengharapkan hujan sebagai teman bermain. Sulit bagiku untuk memetik daun sebagai mahkota. Bercumbu dengan tanah, sungai dan tentu denganmu, Hujan.

Mungkin ini lamunan masa kecil dan masa kini yang jauh berbeda. Tidak ada bising motor, tidak ada bising pabrik dan tidak ada bising media politik. Hanya ada kicau burung dan riangnya anak, suara air mengalir dan suara semangat gotong royong.

Alamku yang terdiskriminasi oleh aku sendiri. Tidak disadari akulah pelakunya. Ketika aku mulai senang membeli mainan plastik dari orang sitip. Ketika uang jadi alat serba guna menunaikan ibadah. Gopoh tubuh ini, ketika mendengar temanku bangga membeli roda besi, wungkal berbaterei dan kain bule.

Maafkan aku alam, aku tidak mencintaimu.  Sungguh kejam, tempat yang kutempati sudah dimiliki oleh orang lain. Kini hanya ada sejarah tertulis rapi tiada bukti dilembaran buku yang ditulis oleh para pemenang perang. Tempatku hilang....

Ludbizar, 6 juni 2015

Thursday, 4 June 2015

CERPEN LUCU TERBARU : Jam Londog



Oleh Ludbizar

Pagi masih memberi embun di dedaunan. Sejuk dan nyaman hari ini, bahkan terlalu nyaman. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 06.45, selayaknya anak sekolah sudah berangkat ke sekolah. Alarm yang terus berbunyi tidak mengindahkan aku untuk bangun.

Ya, sekian kali aku bangun telat. Dengan gerak malas, aku meluruskan badan dan membuka mata. Alarm yang setia berdering membuat aku bangun juga. “Yah, kesiangan” ungkap aku sambil memegang handphone. Aku lari ke belakang, mengambil air untuk cuci muka. Dengan tergesa gesa, aku langsung mengkayuh sepeda. Tak sempat aku pamit, tak sempat juga mengambil uang saku.

Jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor membuat sepedaku tak berani cepat. Sungguh, aku risih dengan kendaraan yang berasap. Asap itu kadang memaksaku untuk berhenti sejenak menikmati aroma mata di gedung mewah. Perempuan bersandang rapi dan menawan.

Di perempatan jalan aku menghembus nafas segar sambil menepi didekat jembatan sungai, tepatnya di sebelah gedung tadi. Belum sampai menepi, sebuah sepeda melewati sebelah kiri aku. “AWASSS !!!” Teriak seorang bapak. Bapak itu nyungsep di pinggir sungai. Sempat aku tertawa, liat bapak itu nyungsep tetapi sepedanya masih melaju.

Sepeda yang melaju sampai melewati jalan satunya. Hingga nampak seorang bocah ketar ketir melihat sepeda melaju tanpa pesepedanya. Itu gelak tawakku sesaat. Sang bapak justru terlihat sibuk mengutak utik benda yang ada di tangannya.

“Pak, bapak tidak apa apa?” Tanyaku dengan suara agak keras.

“Aku tidak apa apa nak, tapi jam tanganku kayaknya bermasalah” jawab bapak dengan nada lemah.

Bapak itu tidak menghiiraukan sepedanya yang di sebelah jalan. Dia hanya peduli dengan jam tangan.

“Lihat nak, kemari” dia memintaku untuk melihat jam tangannya. Dia menanyakan, “apa benar ini jam 6.30 petang?” “salah pak, waktu ini masih pagi, jam 08.00“ jawabku cepat sambil melihat jam di handphone.

Dia termenung sesaat “Ah, gak mungkin. Handphone kamu jadul” dia agak membela jam tangannya.

“Jam tanganku ini produk luar negri” sambung bapak sambil menunjukan jam tangan yang terdapat tulisan made in china. Padahal handphone jadulku juga made in china. Jam tangannya mungkin sempat terbentur benda keras ketika dia jatuh sehingga bermasalah. Dia tidak percaya, jam yang dibeli dengan harga melebihi sepedanya itu rusak. Anehnya, dia menggerutu “orang hari udah gelap kok, dibilang jam 08.00 pagi, dasar bocah !”.

Lekas dia berjalan menuju sepedanya yang disebelah jalan, dia pun masih memegang jam tangannya.

Hari menunjukkan pukul 08.20, waktu yang semakin membuat aku terlambat. Aku segera bergegas menuju sekolah. “Woy, bocah. Mau kemana? Kemari ” Ternyata bapak itu memanggilku.


Aku tak menhiraukan bapak yang sibuk dengan jam tangannya, tetapi bapak itu memanggilku berkali kali. Jadi aku terpaksa mendekatinya. Bapak itu justru menyerahkan jam tangannya kepadaku. Dia menceritakan bahwa jam tangannya yang membuat hidupnya tak menentu, karena terlalu mengatur waktu.

Dia bercerita, jam tangan itu adalah pemberian sang ibu yang sangat dicintainya. Dia yang sering terlambat kerja. Hampir setiap hari dia kena marah dari bosnya. Teman temannya pun mengejeknya dengan sebutan “Londog”.

Dia juga bercerita bahwa temannya pernah mengejek dengan kata “Londog” dalam urusan mendekati perempuan. Dengan ekspresi menjijikan bapak itu berkata “Sakitnya Tuh disini”. Banyolan bapak itu membuat aku lupa dengan sekolahku.

Sesudah mendengarkan cerita bapak itu, aku bergegas pergi dengan mengkayuh sepeda lebih cepat. Sampailah di sekolah, sekolah yang terlihat indah dari depannya saja. Sekolah dengan luas 22 hektar dengan 4 jurusan yang ada. Aku menyusup dari samping, lewat terobosan jalan yang sudah biasa dilalui siswa terlambat.

kamu telat lagi? Ini jam berapa? Tanya bapak munar yang langung menyambutku didepan ruangan. Jam 09.00 pak, Jawabku. “Mana jam kamu?” lanjut pak munar, aku menunjukan jam tangan pemberian bapak itu tadi, Jam Londog namanya.

Pak munar melihat jam tangan dan sambil memegang brewoknya pak munar tersenyum dan memperbolehkan aku untuk pulang lebih cepat dari teman temanku

huah, si brewok menunjukan taringnya. Begitulah panggilan ketua jurusan yang terkenal galak dan mempunyai brewok lebat. Pak munar adalah ketua jurusan. Dia sangat disiplin daripada guru guru lain di jurusannya.

Ya, waktunya pulang gasik. Dengan raut muka yang senang, Aku mencoba melangkah lebih jauh dari sekolah. Belum lama mengkayuh sepeda, rantai sepedaku lepas. Oh, nasibku.

Aku menepi dan memcoba memperbaikinya. Setelah beberapa menit, akhirnya jadi. Eh tiba tiba ada nenek nenek memanggil. “Nak, itu jamnya Londog?” Dengan sedikit bingung aku jawab “ini memang jamnya Londog, kok nenek tahu?” Dengan sigap nenek menjawab “Aku ini ibunya nak”.

Oh, ternyata nenek itu adalah ibunya bapak yang memberi jam tangan tersebut. Bapak itu memang sering dipanggil londog, bahkan oleh ibunya. Karena nenek itu memintanya lagi, jadi aku kasih jam itu. Mungkin Jam itu berharga bagi nenek itu sehingga diminta kembali. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan pulang tanpa jam Londog.




Thursday, 21 May 2015

PUISI "Sakit Selangkangan"

Sakit itu modal hidup, hidup dalam ranjang reot.
Tak peduli insan, tak pula iman.
Hidup tetap nyaman di tengah selangkangan
Selangkangan dari Tuhan kekinian

Sejauh pikiran menangkap guna berkhayal
Sunyi, senyap berharap harap
Kelalaian akal jadi peluang
Meniup risih suasana selangkang

Tak tahan lama, tak ada guna
Menahan sakit di ranjang
Di antara selangkangan yg tak kompak
Menguji batang kokoh berambsisi

Lama, terlalu lusuh ditahan
Kembang jangar sudah mekar
Sela selangkang yg tak longar longar
Ya sudah, biar jadi pendekar yang tegar


Jeblogan, 21 Mei 2015
Arti dari puisi diatas bisa ditanyakan kepada saya melalui email atau via sms. Lihat saja di halaman kontak. Trima kasih


Proudly present : Bizarlduxisme Indenpendent

Saturday, 25 April 2015

Bumbu Sentong

Bumbu Sentong

Oleh Ludbizar

Bumbu bumbu kehidupan didalam sentong
Sudah habiskah untuk membumbui hidup ini
Bumbu makna sumber kehidupan manusia
Bumbu yang ada di mbritan rumah
Masih kah tertanam rapi?
atau sudah terpagar rasa ketagihan?
Bumbu dari luar yang beraji

Kunir, kuning yang melekat dijidad
Jidad bayi yang belum ada jatidiri
Kencur, bau segar dari anak anak
Anak-anak penerus blakasuta
Jahe, rasa hangat dari pemuda satria
Satria pelindung serayu dan slamet
Serta isi dari hakikat bumi yang gemah

Rantai budi yang mulai seret
Tak lagi melaju sesuai hakiki
Ambang khayal bersua "better"
Dari deretan penandu sipanji
Sudahkah mencicipi bumbu yang ada?
Bumbu yang masih melekat di jidat?
Cobalah, selagi masih jadi satria


***Puisi ini dibuat khusus untuk Banyumas yang kini berumur 433 tahun.

Bumbu Sentong

Bumbu bumbu kehidupan didalam sentong
Sudah habiskah untuk membumbui hidup ini
Bumbu makna sumber kehidupan manusia
Bumbu yang ada di mbritan rumah
Masih kah tertanam rapi?
atau sudah terpagar rasa ketagihan?
Bumbu dari luar yang beraji

Kunir, kuning yang melekat dijidad
Jidad bayi yang belum ada jatidiri
Kencur, bau segar dari anak anak
Anak-anak penerus blakasuta
Jahe, rasa hangat dari pemuda satria
Satria pelindung serayu dan slamet
Serta isi dari hakikat bumi yang gemah

Rantai budi yang mulai seret
Tak lagi melaju sesuai hakiki
Ambang khayal bersua "better"
Dari deretan  penandu sipanji
Sudahkah mencicipi bumbu yang ada?
Bumbu yang masih melekat di jidat?
Cobalah, selagi masih jadi satria

Friday, 24 April 2015

CERPEN JAWA BANYUMASAN : BAKUL WEDHUS

Bakul Wedhus

Duke karo Mame

Mbreng…. mbreng…., suara mobil coake mame mbedah esuk sing esih sepi. Gawe kaget bae wong sekitare sing esih krodong sarung. Jam 5 esuk dina setu wayahe mame karo aku adol wedus neng Pasar Sokaraja. “Duke,,, duk, ayuh mangkat” suarane mame mblosnong maring kupingku. Aku langsung njimprak kang kasur nuju maring suarane mame. “iya kang, mayuh”. Aku karo mame langsung mangkat maring pasar.

On my way, Mame takon maring aku,
 “duk, kepriwe tanggapanmu maring pemimpin saiki sing gawe gulu wong cilik mengkerut ora teyeng mbaor? Koe kan cah sekolah, mesti pikirane mandan gamblang” ora ana angina ora ana apa, aku langsung cekakakan “tumben tumbene rika mikiri kaya kuwe, arep dadi mentri peternakan? hahaha” “Ndasmu !!!, wong SD be ora tamat kon mikiri wong senegri” jawabane mame ngegas.
Mame banjur nglanjutna critane,
mame : kaya kiye duk, bocah paling ganteng ng pasar kewan. Aku kawit ngingu wedus batine ora sepira, kawit jamane metu sekolah tekan seprene nggo mangan anak bojo kadang ora nyukup. Sebabe, wong sing cokane goleti wedus kue kaya asu, bajingan !. Gole tuku murah neng kandang didol meh separone, mbok kaya asu kencoten?, terus sing nggal dina ngarit ng swah panasan kudanen, nganti puyeng mbok langka suket, batine ora sepira. Sing ngingu wulanan karo sing kerja sedina, batine akeh sing kerja sedina, mbok ora adil? Mulane siki aku adol dewek, bati bati nggo dwek.
aku : oohh, kaya kuwe? Terus aku kon ngapa?
mame : Ohh tai ngasu, koe !, genah genah koe sing sekolah, sing Mandan ngerti masalah wong nduwur koh.
aku : ya kaya kiye kang, genah system utawa aturane ng Indonesia kaya ciwel, lembek!!, wis ngerti dewek mbok? Ya kaya miki rika crita, sing ngode taunan karo sedina gajine gede sing sedina, kecuali kerja njunjung gunung lha patut, wong mung adar eder nawakna dagangan tok, karo cocote sing ndawa, lanyap kaya bebek gajihe lewih gede. Ibarate system tata dagang sing ora karuan amburadul kaya rupane rika.
mame: Allahhh, kaya ganteng gantengaa.., ngaca kuwe karo watu akik !, oh dadi sing amburadul kuwe system tata dagange?
aku : kurang lewih kaya kuwe kang, urusane wong duwur karo wong ngisor kuwe sebenare langka dalan, dalane ditutupi karo wong sing ngelegi duit mentah mentah, arep ngurus kprwe, urung tekan tempate wis dijejeli duit” penjelasane aku
mame : Apa doyan ngeleg duit? Wong ciwel be kayane ra doyan?” Gobloge kang mame metu. Aku : Mulane mangan bangku sekolah, ditamat sekolahe kang, maksude kuwe korupsi kang!?
Mame : Ya aja ngegas, iyaya,,genah aku lagi sekolah maring ko sing wis mangan bangku nganti sewidak
Aku : congor congor wong desa pancen munine ya kaya kuwe, iya arep takon apa maning kang?
mame : kaya ko uripe wong ndesa ngarani aku kaya kuwe, lha kuwe sing jenenge korupsi deneng sering temen metu ng tifi?
Aku: iya memang sering kuwe, tapi mun metu tok. Ukumane ora metu, anu disumpel duit si.
Mame: jan jane ya korupsi kuwe kudu degorok gulune ya duk? Mangani duit wong cilik, ibarate wong cilik ya kaya sandal jepit “sing cilik ditekek, sing ng ngisor didek”, ya ora?
aku: waduhh, rika sinau ng ndi kuwe, nggoli ngibaratake cocok karo topike?
mame: lah sinau ming panjenenang mas duke, tapi ya jujur asline nyong anu pinter tapi anu dong dongan, kaya gurune.
Let suwe goli kandah banjur wis tekan pasar kewan sokaraja. Aku karo mame golet panggonan sing nggo adol wedus.
Bersambung……..


Note : Cerita “Bakul Wedus: duke dan mame” ini akan terbit setiap jum’at malam. Terima kasih Salam ngapak raya !!!

Sunday, 12 April 2015

Autobiografis

Sepanjang sore pria itu mencoba tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa, nampak lebih keras. Ia tetap menekan tinta dengan kesumukan. Tetapi justru menodong secangkir the hangat. Aneh, ia seakan tidak peduli dengan hawa ini.

Ia mengambil lembaran folio terus menerus dari ia mulai menulis. Folio itu berserakan dengan bekas genggaman kuat. Entah, ia sedang mengalirkan rasanya pada sebuah tulisan atau yang lain. Ia mencoba menelusuri masa nakalnya, karena terlihat sebuah raut wajah penyesalan dan bermonolog “maafkan aku, mama”. tapi hanya coretan tak tampak saling berkaitan yang timbul dalam folio. .

Ia menggeleng, meskipun kenyataan Ibunya dulu adalah orang paling memuakkan di seluruh semesta alam. Ia mengambil mainan kecilnya, dan duduk kembali pada posisi ia menulis. Ia mencoba untuk mengingat ingat. Ia pun berpikir, ”Apa yang membuat ibunya memuakkan?” dan kemudian menuliskan jawabannya.

Tetapi yang muncul di kepalanya hanyalah rupa orang memuakan. Ia menatap kertas, membaca kalimat pertama tulisannya: ”ibu biasanya membawa beberapa buku dan menghabiskan waktu dengan membaca.” Ia mengernyit, merasa membaca buku bukanlah karakter yang memuakkan, ibu.

Ia pun mengganti jawabanya. Ia memikirkan ”shop buatan ibu” dan akan menuliskan apapun respons otaknya terhadap rangsangan kata itu. Ya, kemuakan itu justru semakin homogen.m Ia menghela napas putus asa. Siapapun yang menulis kisah ini, pikirnya, pastilah rancu dan amatiran.

Ia memutuskan untuk berhenti menulis kisah itu. Ia mulai membaca, dan mengambil surat kabar mingguan yang tergeletak di meja. Belum lama, ia langsung melotot pada salah satu rubik surat kabar. Tentu dan apalagi kalau bukan cerpen. Hanya satu cerpen yang tercetak. Ia mulai membaca dengan saksama. “Intravert” itulah judulnya.

Ia terus menatap matanya pada cerpen itu. Gamang, "Apa maksudnya ini semua, pikirnya, ketimpangan dan ketidaksempurnaan ini?” Aku tidak bisa memahami cerpen ini”. Apa gunanya mencipta apabila kau tak mampu mencukupi apa yang ciptaanmu butuhkan? Ia berharap penulisnya paling tidak masih ingat bahwa semua orang memerlukan cinta, semua orang, tidak hanya dirinya.

seseorang telah menuliskan untuknya. Ia berharap ceritanya bukanlah kisah konyol yang diniatkan untuk menjaring pembaca-pembaca putus asa. Ia berharap ceritanya ditulis tanpa melibatkan soda jahat.
 
Berpikir kegilaan ini akan berakhir. apabila tidur cukup. Ia berharap, meski ia telah tahu ini mustahil akan terbangun sebagai manusia biasa keesokan harinya.

Di istirahat, ia teringat ada tugas membuat cerpen tentang pengembangan diri. Ia tak sempat membujur lemas. Ia bergegas menuju meja belajar dan membuat cerpen.

Ia mencoba membayangkan apa yang harus dikembangkan dirinya, ini rupa penulis yang menuliskan cerita yang aneh. Apa ia konyol? Atau aneh? Seperti pikirnya, kalau ia mengembangkna dirinya sebagai orang idiot yang suka menulis tentang keidiotannya.

“aku mustahil bernasib semalang ini” lanjut pikirnya. Kalau begitu tentu tidak memiliki kesempatan kuliah layak, berpenghasilan dan kaya.

Jangan-jangan ia menuliskan itu hanya sebuah karya autobiografis, pikir ia, sehingga bisa jadi di atas sana, di balik awan, di balik bintang-bintang, di balik tepi-tepi dari semesta yang terus mengembang perlahan, ada seorang lelaki yang sepertinya.

Barangkali ia sudah lama ingin menulis sebuah cerita metafiksi, dan habis pulang kuliah ia memulainya samapi tertidur di subuh. Ia mulai berpikir lagi, semua ini, kehidupanku ini, adalah kesia-siaan, dan ada hanya karena seseorang yang kurang kerjaan.

Saturday, 4 April 2015

Kembali

Sudah tengah malam, orang orang penunggu orang sakit tidak segan melepas kantuknya. Alunan sendu karunia Tuhan mengalir merdu ke telingaku. Sang pemberi asi yang terus memuntahkan suara kecemasan, tampak layu raut mukanya. Jelasnya, aku tak bisa menahan hari demi hari di ruang kecil yang berbatas. Gerah, aliran keringat mengalir. Kondisi ini dirundung dika.

Ruang yang semakin sempit dengan tatapanku yang hanya melihat tembok tembok putih. Apalagi, orang orang cengeng yang mendekatiku. Sungguh, aku ingin berdiri dan lari ke halaman belakang rumah. Mendapati sepoinya angin dengan pandangan tanaman padi yang hijau.

Mungkin sebuah banyolan aku melompat dari keadaan ini. Cepat atau lambat pasti bisa melewati keadaan terbatas ini. Berdoa mungkin jadi tindakan mulia, ketika berjanji dan bersumpah menjadi luntur oleh lembeknya jiwa.

Aku tak menganggap besok adalah hari baikku. Setidaknya, aku bisa bersender untuk melihat tegak kedepan, bukan keatas yang selalu nampak putih dan fana. Kemudian bisa mengangguk untuk setiap pertanyaan “kamu tidak apa apa?”

Lebih dari sebuah renungan panjang ketika berbaring lama disini, terlalu lama !!. Aku ingin segera bangkit, aku ingin melolohi hobi hobi kesayanganku.

Ku rasa sudah tepatnya, sang dewi kembali. Membuang hidangan busuk, membersihkan jiwa dan menuntunku ke kamar peristihatan terakhir. Lebihnya, para penyandang baju hitam membawakan ragaku kelubang pertiwi.

Kita kenal kereta jawa yang beroda manusia. Itu kendaraan istinewa dan suci manusia. Aku akan terbujur di kendaraan itu. Kalian pun pasti ingin menaikinya kelak. Walau akhirmu tiada prediksi terhebat yang sanggup menganggukinya.

Kemudian aku hanya bisa melihat dunia yang fana. Kembbali menikmati kehidupan abadi di tumpukan kebaikanku yang ada. Buruknya, jika tumpukan itu tidak terlalu sanggup menahanku. Aku jatuh dalam bara panas dan busuk.

Monday, 30 March 2015

CERPEN : Kotak Lusuh

Kotak Lusuh
Oleh Ludbizar

ilustrasi kotak

Hujan mengguyurku saat pulang mengusung pengetahuan. Tiba dirumah tubuhku terbaring lemas di ranjang. Aku meringik sembari memegang dadaku yang lembek. Sore ini keluarga begitu cemas menyandangku. Terlebih ibuku, setiap detik tak memalingkan mata belainya. Beribu doa telah terucap untuk menyelamatkan satu-satunya anak yang tersisa. Sang pemberi asi gamang padaku, kehilanganku. Aku paham perasaan ibu, sorot kecemasan yang menyilau. Matanya begitu sayu, tak berseri.

Sore ini hujan mulai deras. Aku ingin duduk bersender. Memandang sebuah kotak yang lusuh, kecil, seperti sebuah hadiah kecil. Kulihat ukurannya seperti kotak cincin. Tak jelas apa yang ada didalamnya. Kotak itu ada sebelum aku berada disini. Setiap orang yang masuk akan menganggapnya sebuah barang antik. Ah, masa bodo. Kotak itu seperti mainan yang tersedia di tukang mainan keliling.

Kotak kecil itu adalah kotak mainan kakakku. Ibu menjawabnya begitu setiap kali aku tanya tentang kotak itu. Oh, mungkin ibu masih mengenang mainan kakakku. Entah, ibu hanya bisa berpasrah, kakakku dan aku yang sedang dipikirkannya, anak anak yang lemah.

Dulu setiap sore, aku dan kakak mengobrol di sini, menghadap kakakku. Aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang seolah bercerita dengan riang. Mata yang membuat aku percaya bahwa dia seorang kakak yang tabah. Aku belum pernah melihat wanita yang penuh cinta dan gairah. Kulit putih menjadi segar meliuk ketika ia menggerakkan badannya. Suaranya yang lembut seperti alunan yang menarik genderang telingaku, begitu lirih. Kakak cerdas dan luar biasa bila ia bercerita, menawan dan bersabda. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti seorang aktris andal. Seolah tak satu pun ketuaan tertoreh di setiap hempasan napasnya.

Banyak bercerita tentang hidupnya dan kotak itu. Katanya, dalam kotak itu adalah mainan kakakku, mainan kesayangan ketika aku menanggis. Kakakku dengan kotaknya lihai membuat aku bergembira lagi. Masa kecilku, masa balitaku. Aku tak bertanya perihal pernyataan kakak. Karena jelas kotak itu mainan bersama aku dan kakakku. 

Suatu sore kakak bersabda ”Perbedaan antara kita dan kotak ialah berbatas. Kita mesti mencari cinta kasih yang kekal, tanpa hukum-hukum material yang menyebabkannya terputus. Kita harus dapat melampaui keadaan putus tersebut.” kakak begitu lugas. Setelah selesai, kakak biasanya memegang kotaknya. Kami selalu seperti itu, selalu mengumbar rasa pada segala yang ada di sekitar. Walau cuma ada kotak. Bagi kami, hidup tak bakal habis meski digali dari sebuah kotak.
 
Hujan telah lebat, selebat kecemasan ibu kepadaku. Sebab tak biasanya aku sakit meringik akhir ini. Sebelumnya, sehari atau paling lambat tiga hari, ada hal yang aneh padaku. Hal itu menjadi biasa karena aku terlalu keras beraktivitas. Aku pikir itulah musabab aku merasa sakit di dadanya. Ibu juga mengatakan bahwa ibu merawat kakak seadanya, sebelum pergi. ibu tidak mau mengulangi. Ibu memandangku penuh harap, aku tetap hidup.

Aku mencoba menghilangkan kecemasan perihal aku dan kakak. Aku menggali-gali kenangan yang sempat ditanam dalam hidupku. Sewaktu kecil, kakak gemar bermain kotak itu, kali ini aku menirunya untuk membuat ibu gembira, pikirku. Namun tubuh yang lemas, aku hanya bisa berkata "Aku tetap hidup disini bersama ibu" dalam selembar kertas yang aku masukan dalam kotak. Kotak kecil yang lusuh.

CERPEN : Kesetiaan Sahabat

 Kesetiaan Sahabat
Oleh Alifah Resiani
Ilustrasi Alifah dan sahabat

Teng..teng..teng…bel tanda pulang pun berbunyi. Akhirnya setelah lama menunggu, Rere, Wita, Cindy, dan fina bergegas menyambar tas dan pulang. “rasanya lama banget kalo pas pelajaran matematikanya bu Weny! Gumam Cindy di tengah perjalanan pulang. “iya tuh, berasa di kurung di tengah hutan dehhh” sambar Fina menambahi perkataan Cindy. Serentak mereka tertawa bersamaan “haaaahaaaa…..”. Eeiittt, kalian tuh jangan gitu sama guru sendiri, lagian enak kok kalo ibu Weny ngasih materi, bisa nyambung di otakku, ujar Rere yang dari tadi hanya diam. “iyalah, namanya juga murid kesayangan, pasti ya gurunya selalu di bela” tukas Fina mencibir.

Rere merupakan sosok yang selalu mengalah jika teman-temannya sedang berdebat hebat, dia akan menengahi dan memberi nasehat kepada teman-temannya, Fina merupakan anak yang bawel dan cerewet. Sedangkan Cindy merupakan anak yang super rajin dan di siplin dengan waktu, Bertolak belakang dengan si Wita, Wita merupakan anak yang selalu ngaret dan tidak tepat waktu. Itulah sifat mereka berempat, walaupun banyak perbedaan mereka saling memaklumi satu sama lain.

Candaan, ejekan, dan gurauan dari ke empat sekawan itu tak pernah diambil hati oleh mereka. Karena mereka sudah terbiasa bersama sejak mereka masih SD, dan sekarang mereka duduk di kelas 2 SMA. Persahabatan mereka bermula karena jarak rumah mereka yang cenderung berdekatan di tambah sekolah mereka yang selalu sama. Rumah Rere dengan Cindy hanya bersebrangan jalan, sedangkan rumah Wita dan Fina berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rere dan Cindy, tetapi walaupun lumayan jauh, mereka kemana-mana selalu bersama.

Hari minggu pagi biasanya mereka jogging ke taman dekat rumah Wita dan Fina. Diantara mereka berempat yang paling malas bangun pagi adalah Wita, jadi mereka harus kerja keras jika membangunkan Wita. “witaaaaa….” Mereka bertiga serempak membangunkan Wita. “arrgggg.. “,Wita hanya menggeliat lalu menarik selimut kembali. Karena tidak sabar membangunkan Wita, akhirnya mereka bertiga mempunyai akal untuk membangunkan Wita, dan alhasil mata Wita langsung melek dan bergegas bangun. Ternyata Wita paling tidak suka dengan aroma bunga melati, dan kebetulan di depan rumah Fina banyak bunga melati. “haaahaha, mereka ngakak melihat aksi Wita yang kelimpungan mencari aroma bunga melati. “hmmmm…dasar ya kalian, tunggu pembalasanku nanti, gerutu Wita sambil bergegas bangun.

Saat jam istirahat, Wita dan Rere pergi ke kantor karena ada guru yang memanggil mereka berdua, dan tinggallah Cindy dan Fina di dalam kelas. “Fin, kamu tau gak tim basket sekolah kita, yang di kelas 12.A itu lho..” ucap Cindy memulai pembicaraan. “iya ya..aku tau, yang anaknya ramah, tim basket sekolah kita kan? Ujar Fina menaggapi. “aku seneng banget kalo lagi liat dia main basket, trus kemaren itu pas aku di perpustakaan, gak sengaja aku ngambil buku yang sama dengan dia, kemudian dia tersenyum kepadaku, waaaww, rasanya seperti mau terbang.hihihi” fina mulai bercerita dengan hati berbunga-bunga.

Di lain tempat, Cindy juga menceritakan hal yang sama mengenai Danang tim basket sekolah mereka. Beda dengan Wita, kalau Cindy ketemu Danang ketika mereka sama-sama pergi ke mushola, tetapi memang danang anak yang ramah, jadi ketemu siapa aja pasti senyum. Wita dan Cindy yang merespon lebih dan beranggapan bahwa Danang menyukai mereka. Sejak saat itu Wita dan Cindy sering senyum-senyum sendiri dan jarang mau pulang bareng, mereka selalu menunggu kesempatan untuk pulang bareng dengan Danang. Walaupun mereka tahu bahwa mereka menyukai orang yang sama, tetapi mereka tidak saling bermusuhan dan mereka berencana untuk bersaing secara sehat.

Satu bulan sudah Wita dan Cindy bersaing untuk mendapatkan hati Danang, dan sampai saat itu Danang tidak menerima satu dari mereka, karena Danang tahu, jika dia memiih salah satu maka persahabatan mereka akan hancur. Suatu hari Rere di panggil bu Weny untuk menghadap ke kantor. Ternyata Rere diberi kepercayaan oleh bu Weny untuk mewakili sekolahnya dalam olimpiade Matematika.  Setelah sampai kantor, Rere kaget karena rekannya yang di kirim untuk mewakili sekolahnya adalah Danang, cowok yang diidolakan sahabatnya. Rencananya Rere akan memberitahukan kepada sahabatnya mengenai Danang, tetapi karena waktu olimpiade hanya tinggal 1 minggu maka Rere belum sempat memberitahunya. Hingga pada akhirnya Wita dan Cindy melihat Rere sedang berdua bersama Danang di perpustakaan. Mereka berdua langsung mengira kalau Rere telah menghianati mereka berdua.

“aku gak nyangka, ternyata Rere bisa seperti itu kepada kita wit,” ucap Cindy dengan nada sedikit geram. “iya Cin, diam-diam dia telah menghianati kita, dia sering tidak ikut pelajaran ternyata hanya ingin berduaan dengan Danang, sambung Wita menambahkan. Kesalahpahaman Wita dan Cindy membuat Fina menjadi bingung dan penuh tanda Tanya. Tetapi setiap Fina bertanya, mereka tidak ada yang mau buka mulut. Kebingungan Fina bertambah setelah melihat perlakuan Wita dan Cindy yang begitu dingin kepada Rere.

“wit. Apa kamu liat bukuku?” Tanya Rere yang dari tadi mengobrak-abrik tas miliknya. “apa kamu menuduhku?” jawab Wita cetus. “aku gak bermaksud menuduhmu, aku hanya bertanya, siapa tau bukuku nyelip ditas kamu, ucap Rere menjelaskan. “jelas-jelas bukan Wita yang mengambil, kenapa kamu masih menuduhnya? Kata Cindy memojokkan Rere. Fina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabat-sahabatnya saling berdebat. Fina semakin heran kenapa Wita dan Cindy selalu memojokkan Rere. Karena Fina penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi, sehingga fina mencari tahu penyebab Wita dan Cindy memusuhi Rere.

Setelah Fina menyelidiki, akhirnya Fina mengetahui apa penyebab Wita dan Cindy menjauhi Rere. Ternyata itu semua gara-gara mereka melihat kedekatan Rere dan danang tanpa mengetahui apa alasannya terlebih dahulu. Kemudian Fina mengajak sahabatnya brkumpul dan menyuruh mereka untuk saling memaafkan. “aku tidak mengerti mengapa kalian seperti ini kepada Rere, jika ada masalah tolong beritahu, siapa tahu aku bisa membantu.” Ucap Fina membuka percakapan. “kamu tidak tahu apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur, kata Wita. “oh, rupanya kalian sudah tidak menganggapku sebagai sahabat kalian lagi? Oke fine, terimakasih untuk kejujuran kalian, tapi aku harap kalian berikan alasan kenapa kalian membenci Rere,” tukas Fina.  “emmm..bukan maksud aku dan Wita seperti itu Fin, tolong jangan salah faham dulu.” Kata Cindy menjelaskan. “sudah-sudah, ini semua salahku, aku tau sekarang kenapa akhir-akhir ini kalian membenciku, aku minta maaf karena belum sempat menjelaskan apa maksudku sering bersama Danang.” Ucap Rere menengahi.

Setelah mendengar penjelasan dari Rere, mereka semua menjadi mengerti dan Cindy mulai memaafkan Rere. Lain halnya dengan Wita, sepertinya Wita masih belum bisa memaafkan Rere lalu Wita berlari keluar kelas dan di ikuti dengan Fina. Wit, kamu mau kemana? Tunggu dulu, ucap Fina seraya menyambar tangan Wita. “aku benci dengan Rere, kenapa dia gak pernah cerita sebelumnya, biasanya kalau ada apa-apa pasti dia cerita dulu kepada kita, apa dia udah gak menganggap kita sahabatnya lagi? Wita terus bertanya kepada Fina. Selang beberapa menit, terlihat Rere dan Cindy mnyusul mereka berdua. Karena rasa bersalahnya, Rere lalu memohon kepada Wita untuk memaafkan Rere. Atas penjelasan Fina akhirnya Wita dapat memaafkan Rere. “wit, kenapa kamu belum bisa memaafkan Rere? Harusnya kita sebagai sahabatnya mendukung dan memberikan support kepadanya karena sebentar lagi dia akan mewakili sekolah kita untuk mengikuti olimpiade, Rere pasti sedih, karena di saat dia butuh dukungan, ternyata sahabat-sahabatnya malah membencinya. Ucap Fina. “iya aku sadar, tindakanku selama ini salah, Rere aku benar-benar minta maaf karena di saat seperti ini kita tidak mendukungmu, ucap Wita dengan suara serak dan tak kuasa menahan butiran airmatanya. Mereka berempat pun saling berpelukan, dan saling menyadari kesalahan masing-masing.

Berkat dukungan dan doa dari para sahabatnya akhirnya Rere berhasil meraih juara pertama olimpiade matematika antar sekolah. Setelah kejadian itu, mereka banyak mengambil pelajaran yaitu tidak ada yang lebih berharga kecuali sahabat yang selalu ada dalam setiap moment dan selalu memberikan support tanpa pamrih.