Showing posts with label Adat dan Kebiasaan. Show all posts
Showing posts with label Adat dan Kebiasaan. Show all posts

Monday, 6 April 2015

Makna Hari Jadi Kabupaten Banyumas Pada Tahun 1582

Kabupaten Banyumas kini sudah berumur 433 tahun, tepatnya pada tanggal 6 April 1582. Pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Peraturan Pemerintah Kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah, termaksud dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.

Daerah–daerah yang termasuk wilayah provinsi Jawa tengah ada 28 daerah kabupaten, antara lain Kabupaten Banyumas termasuk nomor urut ke 14 yaitu :

1. Semarang, 2. Dan seterusnya 13. Blora, 14. Banyumas, 15. Cilacap, 16. Dan seterusnya, sampai dengan 28. Wonogiri.

Peraturan in ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 18 Agustus 1950, yang di tandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Pemangku Jabatan sementara Mr. As Saat, dengan Mendagri : Susanto Tirtoprojo, yang kemudian diundangkan pada tanggal 8 Agustus 1950 oleh Menteri Kehakiman A.G. PRINGGODIGDO.

Setelah kita tahu berdirinya, apakah kita tahu makna berdirinya pada tahun 1852?


Candra atau surya sengkala untuk hari jadi Kabupaten Banyumas adalah
“BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” artinya tahun 1582
Bektining, kata asal bekti artinya sembah angka ( 2 )
Manggala, artinya pimpinan angka ( 8 )
Tumataning, kata asal tata (administrasi) angka ( 5 )
Praja, artinya bumi/budhi angka ( 1 )
Bila diartikan dengan kalimat adalah “ KEBAKTIAN DALAM UJUD KERJA SESEORANG PIMPINAN/MANGGALA MENGHASILKAN AKAN TERTATANYA ATAU TERBANGUNNYA SUATU PEMERINTAHAN “

Demikian makna berdiri pada tahun 1582. Semoga bermanfaat dan menjadi kenangan budaya yang harus dilestarikan.

Mengenang Sejarah Banyumas

Logo Kabupaten Banyumas
Kabupaten Banyumas yang kita kenal saat ini memang sudah cukup megah dan modern. Bukan Banyumas pada saat itu yang masih tradisional. Banyak perubahan yang terjadi di Banyumas. Apalagi anak anak sekarang yang sudah dicekoki ilmu dan teknologi sejak dini, mungkin Banyumas hanya sekedar kabupaten yang cukup ditempati.

Adalah manusia yang tidak menhargai jika tidak tahu sejarah berdirinya dan siapa saja yang telah berjasa untuk Kabupaten Banyumas. Oleh karena itu, marilah sobat Banyumasan mengulas sedikit sejarah Banyumas secara singkat.

Berawal pada suatu peristiwa yang menyebabkan kematian Adipati Wirasaba ke - 6 (Warga Utama ke-I) dikarenakan kesalah pahaman dari kanjeng sultan pada waktu itu. Sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang), sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang. 

Dari peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya, sultan Pajang memanggil para putra Adipati Wirasaba, Namun tidak ada yang berani menghadap. Kemudian salah satu diantara putra menantunya memberanikan diri menghadap, Joko Kahiman namanya. Namun apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan apabila mendapatkan anugerah, mohon kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata beliau diberi anugerah dengan diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke-7.

Semenjak itulah Raden Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Kemudian sekembalinya dari kesultanan Pajang atas kebesaran hatinya, dan dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian yang kemudian diberikan kepada para iparnya.

Pembagian Wilayah Wirasaba oleh Joko Kahiman:
  1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
  2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
  3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
  4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dengan membuka hutan mangli, yang kemudian dibangun pusat pemerintahan dan yang kemudian menjadi nama Kabupaten Banyumas.


Kabupaten Banyumas berdiri pada tanggal 6 April 1582 atau bertepatan dengan tanggal 12 Robiul
Awal 990 Hijriyah. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1990.

Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama, dikenal dengan julukan atau gelar Adipati Marapat (Adipati Mrapat), karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para iparnya.









 




Siapakah Adipati Mrapat atau Joko Kahiman itu ?
Raden Joko Kahiman adalah putra Raden Banyak Sosro dengan ibu dari Pasir Luhur. Raden Banyak Sosro adalah putra Raden Baribin, seorang Pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran dan akhirnya dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran.

Sedangkan Nyi Banyak Sosro, ibu Raden Joko Kahiman adalah Putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Mranggi, semudi kejawar yang dikenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu Putri Raden Baribin yang bungsu.

Adipati Banyak Galeh adalah keturunan ke-9 dari Raden Arya Bangah dari Galuh Pakuan Putra pajajaran. Dari sejarah terungkap bahwa Raden Joko Kahiman adalah merupakan SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan :

  1. Sifat altruistis, yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri.
  2. Pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon.
  3. Pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh Pakuan, Pajajaran) menjadi satu daerah dan memberikan kesejahteraan kepada semua saudaranya.

Dengan demikian tidak salah apabila MOTTO dan ETOS KERJA untuk Kabupaten Banyumas adalah SATRIA.

Sunday, 5 April 2015

PARIKAN JAWA BANYUMASAN: Pancen Lucu dan patut dilestarikan

Banyumas memang kaya budaya dari wisata sampai adat. Waktu kecil pasti kalian mengenal parikan. Biasanya orang kuna mengenalkannya buat menghibur anak anak kecil, kemudian anak kecil menirukannya. Sehingga turun temurun parikan ini masih dikenal. Sayangnya hanya beberapa orang yang masih melestarikannya, parikan ini sudah tergantikan lagu pop masa kini.

Siapa yang masa kecilnya kurang bahagia? Mari kita menyanyikannya lagi sedulur.

Sapa sing weruh umahe guteng
Ayo teng-tengok jaran
Ayo ran-rante sepur
Ayo pur-purwokerto
Ayo to-toko baru
Ayo ru-rumah sakit
Ayo kid-kidang mlayu
Ayo yu-yuyu kangkang
Ayo kang-kanggo gawe
Ayo we-wedang kopi
Ayo pi-pilagesut babaran mbambu entut

Lirik ini mungkin versinya admin Banyumasan. Beda daerah beda lagi. Mana versimu? ayo lestarikan !!

Saturday, 4 April 2015

Apa itu Ngrinso? Mengais Gabah di Sawah

Panen padi/liputan6
BANYUMASAN-Ngrinso adalah istilah yang digunakan untuk mengais gabah disawah. Mengais dari sisa panen padi. Jika musim panen berlangsung, ibu ibu di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi rezeki tersendiri sebagai tukang ngrinso atau pencari gabah. Seperti yang dilansir Liputan9.com pada Ahad (5/3) pagi, puluhan wanita yang kebanyakan telah berusia lanjut berkumpul di sawah-sawah untuk mencari gabah. Mereka mendatangi tempat-tempat para petani tengah melakukan panen padi.

Di Banyumas, profesi mencari gabah ini memang populer. Para tukang ngrinso itu mengais sisa-sisa gabah yang telah diambil petani untuk kemudian dikumpulkan dalam karung yang mereka bawa. Biasanya, mereka berkelompok dan terdiri dari tiga hingga lima orang. Hasil gabah yang didapat kemudian mereka bagi rata yang sebelumnya telah dipilih agar tidak bercampur dengan gabah yang busuk. Ada juga yang sendiri sendiri tergantung daerah di Banyumas.

Kebanyakan kaum ibu di wilayah Banyumas memang menjadikan musim panen sebagai saat datangnya berkah. Bagaimana tidak, mereka dapat mencari gabah untuk dijadikan beras dan dimakan tanpa perlu membeli. Meski hasilnya pas-pasan, panas dan capek tetap lumayan bisa membantu penghasilan sumai. Biasanya, Sepanjang hari sejak pukul enam pagi hingga menjelang malam, para ibu tukang ngrinso bekerja pada musim panen.

Namun dalam dekade ini para perinso berkurang karena kemajuan teknologi. Warga yang panen kini anyak yang menggunakan mesin padi, tidak menggunakan istilah gepyok lagi. Gepyok adalah memisahkan padi dari batangnya dengan cara menggepyok atau memukul ke alat yang dinamakan Gripyak.

Sangat disayangkan jika seorang warga Banyumas tidak mengerti istilah yang ada di Banyumas. Periharalah budayamu, jika tidak kelihalangan jadi dirimu. Semogaa selalu terpelihara istilah istilag budaya ngrinso, gepyok dan gripyak.

Thursday, 2 April 2015

Sejarah Ebeg Banyumasan

Ilustrasi ebeg banyumasan

Ebeg atau kuda lumping merupakan tari adat tradisional di Banyumas. Ebeg sangat familiar dengan properti yang digunakan, yaitu berupa kuda kepang. Kesenian ini menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukkan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul & cépét. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe.

Sejarah
Ebeg sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Selain itu Ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain. 
Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak lengkap dengan logat khasnya. Jarang ada lagu Ebeg yang menggunakan lirik bahasa Jawa Mataraman dan bahasa selain Banyumasan. Beberapa contoh lagu-lagu dalam Ebeg yang sering dinyanyikan adalah Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, Waru Doyong, Ana Maning Modele Wong Purbalingga dan lain-lain.

Kesurupan atau wuru
Kesenian ini bisa dibilang magic karena pemain ebeg ini akan kesurupan disaat pemain dijantur. biasanya saat akan dijantur si penimbul biasanya membakar kemenyan untuk dikelilingi. setelah para pemain kesurupan mereka tidak sadarkan diri, bahkan mereka kadang melakukan adegan-adegan yang bisa dibilang membahayakan. namun pada saat itu mereka tidak merasakan sakit atau yang lainnya, karena mereka sedang dimasuki oleh roh lain ( indang ). namun setelah mereka sembuh dari kesurupan mereka, mereka akan merasa lemas dan kadang ada juga yang kesakitan.

Alat Musik
Biasanya ebeg ditampilkan dengan iringan musik calung banyumasan atau gamelan banyumasan. Nayaga atau pengiring sudah menyatu dengan para penarinya. Awalnya memang pertunjukan Ebeg biasanya diiringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Kemudian peralatan musik lain adalah Gendhing Banyumasan pengiring seperti kendang, saron, kenong, gong dan terompet. Barongan Ebeg, salah satu karakter topeng macan sebagai pendukung pementasan seni ebeg di pasar Kroya. Mungkin masih berkaitan erat dengan barongsai, singo barong dan leak.

Sesaji
Ketersediaan sesaji atau menyan adalah syarat pementasan ebeg Sesaji digunakan untuk persembahan kepada para arwah maupun penguasa makhluk halus disekitar agar mau mendukung pementasan. Efeknya para pemain ebeg akan mengalami trans atau kerasukan yang dalam bahasa Banyumas disebut mendem karena dirasuki makhluk halus. Disaat inilah para pemain ebeg biasa memakan berbagai benda yang tidak lazim dimakan seperti pecahan kaca (beling), bunga-bunga sesaji, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, memakan dhedek (katul), bara api, dan lain-lain. Keadaan mendem ini menunjukkan bahwa pemain ebeg sedang menunjukan bahwa dirinya adalah Satria yang kuat. Pada akhir laga, pemain yang kerasukan akan disembuhkan oleh pemimpin grup Ebeg yang biasanya adalah seorang tetua adat dan disebut dengan istilah Penimbul.


Demikian cerita singkat tentang ebeg atau kuda lumping Banyumas. Terima Kasih sudah membaca Sejarah Ebeg Banyumasan

Pesan didalam Pelaksanaan Begalan Banyumas

ilustrasi begalan

Begalan merupakan sebuah tradisi yang harus tetap dilestarikan. Kenyataannya masih banyak yang menggunakan tradisi begalan, terutama masyarakat didesa. Adapapun pesan pesan yang terkandung dalam pelaksanaan begalan yang tersimbolkan oleh abrag abgrag atauperalatan dapur.

Cething
Cheting adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi yang terbuat dari bambu. Cething menjadi simbol bahwa manusia hidup di masyarakat sebagai mahluk sosial, melakukan semua hal sendiri tanpa bantuan orang lain dan lingkunganya.

Centhong
Centhong adalah alat yang digunakan untuk mengambil nasi. Centhong terbuat dari bahan kayu atau dari bahan tempurung kelapa. Centhong menjadi simbol seorang yang sudah berumahtangga harus mampu mengoreksi diri. Harapannya ketika terjadi perselisihan antara suami istri mereka dapat menyelesaikan dengan baik, mengutamakan musyawarah mufakat sehingga terwujud keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin.

Irus
Irus adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Irus menjadi simbol orang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga.

Siwur atau ciduk
Siwur adalah alat untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa utuh dengan diberi tangkai kayu atau bambu. Siwur menjadi simbol orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan hawa nafsu dan jangan suka menabur benih kasih sayang atau perasaan cinta kepada orang lain. Siwur juga sering dimaknai oleh masyarakat banyumas sebagai kependekan kata dari Asihe aja diawur-awur (rasa cintanya jangan ditebar).

Kukusan atau kusan
Kukusan adalah alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut seperti gunung. Kukusan menjadi simbol bagi orang yang sudah berumah tangga agar berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.

Ilir
Ilir adalah kipas yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya berbentuk segi empat. Ilir menjadi simbol bagi seseorang yang sudah berkeluarga supaya bisa membedakan perbuatan baik dan buruk.

Ian
Ian adalah alat untuk menaruh nasi pada saat dikipasi dengan ilir. Ian terbuat dari anyaman bambu yang menjadi simbol atau melambangkan bumi dimana tempat kita berpijak.

Saringan
Saringan adalah alat dapur yang terbuat dari bambu. Saringan adalah simbol bahwa dalam kehidupan berumahtangga harus bisa menyaring isu atau kabar, baik kabar baik maupun kabar buruk dengan sikap. Wangkring juga menjadi alat pelengkap dalam tradisi Begalan.

Selain alat diaras juga terdapat wangkring atau pikulan terbuat dari bambu sebagai simbol dalam kehidupan berumahtangga harus bisa memikul tanggungjawab bersama sebagai suami dan istri. Menurut Hadi Suwito, salah satu pemeran Begalan di Kabupaten Banyumas. Demikian pesan yang terkandung dalam tradisi begalan. Terima kasih sudah membaca Pesan didalam Pelaksanaan Begalan Banyumas.

Sejarah Begalan di Banyumas


Ilustrasi : Begalan
Begalan adalah salah satu dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Begalan biasanya dilaksanakan dalam rangkaian resepsi pernikahan. Jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan. Pagelaran Begalan pada resepsi pernikahan dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan pengantin ketika kelak mereka menjalani kehidupan rumah tangga.

Awal mula begalan berasal dari kisah pada Adipati Wirasaba, saat itu masih dalam wilayah kadipaten wirasaba. Adipati mempersunting putri dari Adipati Banyumas di hari sabtu pahing. Namun dalam perjalanan menuju banyumas sang adipati dihadang oleh garong atau  rampok. Layaknya begal yang dilakukan saat ini (2015).

Rombongan Adipati Wirasaba terpakssa mempertahan diri dengan rombongannya untuk menhadapi begall. Pertarungan tidak bisa dihindari hingga beberapa prajurit tewas. Untungnya, pertarungan dimenangkan oleh rombongan Adipati Wirasaba dan rombongannya. Tempat terjadinya pertarungan kemudian diberi nama Sokawera, kini menjadi nama sebuah desa di kabupaten Banyumas, karena Adipati Wirasaba yang bertarung secara rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Kemudian rombongan itu beristirahat sebentar di tengah hutan sambil memeriksa barang bawaan, dan ternyata barang yang dibawa itu kurang (long dalam bahasa banyumas). Sehingga tempat tersebut diberi nama Pegalongan. Dan ketika di tengah perjalanan hendak menyeberangi sungai, rombongan itu menemukan mayat dari perampok yang bernama Suradilaga. Tempat ditemukannya mayat dari perampok yang bernama Suradilaga, kemudian diberi nama Cindaga. Lalu perjalanan dilanjutkan sampai di tempat acara pernikahan, hingga pernikahan pun dapat terlaksana.

Cerita singkat ini, merupakan bagian yang melatarbelakangi adanya tradisi begalan pada masyarakat Banyumas. Cerita ini juga terlihat dalam pementasan Begalan, yang diperankan oleh dua orang. Seorang berperan sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka, dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna. Cerita ini juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Banyumas yang masih memegang kuat adat dan tradisi untuk menghindari bepergian jauh pada hari sabtu pahing. Mereka percaya jika orang bepergian jauh pada hari sabtu pahing maka bisa celaka.

Dalam pelaksanaan tradisi Begalan, seorang yang memerankan Gunareka akan membawa barang-barang yang dipikul. Barang-barang tersebut adalah peralatan dapur yang masing-masing alat memiliki makna dan pesan untuk pengantin pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Demikian cerita begalan di Banyumas. Terima kasih sudah membaca sejarah begalan di Banyumas.