Monday, 30 March 2015

CERPEN : Kotak Lusuh

Kotak Lusuh
Oleh Ludbizar

ilustrasi kotak

Hujan mengguyurku saat pulang mengusung pengetahuan. Tiba dirumah tubuhku terbaring lemas di ranjang. Aku meringik sembari memegang dadaku yang lembek. Sore ini keluarga begitu cemas menyandangku. Terlebih ibuku, setiap detik tak memalingkan mata belainya. Beribu doa telah terucap untuk menyelamatkan satu-satunya anak yang tersisa. Sang pemberi asi gamang padaku, kehilanganku. Aku paham perasaan ibu, sorot kecemasan yang menyilau. Matanya begitu sayu, tak berseri.

Sore ini hujan mulai deras. Aku ingin duduk bersender. Memandang sebuah kotak yang lusuh, kecil, seperti sebuah hadiah kecil. Kulihat ukurannya seperti kotak cincin. Tak jelas apa yang ada didalamnya. Kotak itu ada sebelum aku berada disini. Setiap orang yang masuk akan menganggapnya sebuah barang antik. Ah, masa bodo. Kotak itu seperti mainan yang tersedia di tukang mainan keliling.

Kotak kecil itu adalah kotak mainan kakakku. Ibu menjawabnya begitu setiap kali aku tanya tentang kotak itu. Oh, mungkin ibu masih mengenang mainan kakakku. Entah, ibu hanya bisa berpasrah, kakakku dan aku yang sedang dipikirkannya, anak anak yang lemah.

Dulu setiap sore, aku dan kakak mengobrol di sini, menghadap kakakku. Aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang seolah bercerita dengan riang. Mata yang membuat aku percaya bahwa dia seorang kakak yang tabah. Aku belum pernah melihat wanita yang penuh cinta dan gairah. Kulit putih menjadi segar meliuk ketika ia menggerakkan badannya. Suaranya yang lembut seperti alunan yang menarik genderang telingaku, begitu lirih. Kakak cerdas dan luar biasa bila ia bercerita, menawan dan bersabda. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti seorang aktris andal. Seolah tak satu pun ketuaan tertoreh di setiap hempasan napasnya.

Banyak bercerita tentang hidupnya dan kotak itu. Katanya, dalam kotak itu adalah mainan kakakku, mainan kesayangan ketika aku menanggis. Kakakku dengan kotaknya lihai membuat aku bergembira lagi. Masa kecilku, masa balitaku. Aku tak bertanya perihal pernyataan kakak. Karena jelas kotak itu mainan bersama aku dan kakakku. 

Suatu sore kakak bersabda ”Perbedaan antara kita dan kotak ialah berbatas. Kita mesti mencari cinta kasih yang kekal, tanpa hukum-hukum material yang menyebabkannya terputus. Kita harus dapat melampaui keadaan putus tersebut.” kakak begitu lugas. Setelah selesai, kakak biasanya memegang kotaknya. Kami selalu seperti itu, selalu mengumbar rasa pada segala yang ada di sekitar. Walau cuma ada kotak. Bagi kami, hidup tak bakal habis meski digali dari sebuah kotak.
 
Hujan telah lebat, selebat kecemasan ibu kepadaku. Sebab tak biasanya aku sakit meringik akhir ini. Sebelumnya, sehari atau paling lambat tiga hari, ada hal yang aneh padaku. Hal itu menjadi biasa karena aku terlalu keras beraktivitas. Aku pikir itulah musabab aku merasa sakit di dadanya. Ibu juga mengatakan bahwa ibu merawat kakak seadanya, sebelum pergi. ibu tidak mau mengulangi. Ibu memandangku penuh harap, aku tetap hidup.

Aku mencoba menghilangkan kecemasan perihal aku dan kakak. Aku menggali-gali kenangan yang sempat ditanam dalam hidupku. Sewaktu kecil, kakak gemar bermain kotak itu, kali ini aku menirunya untuk membuat ibu gembira, pikirku. Namun tubuh yang lemas, aku hanya bisa berkata "Aku tetap hidup disini bersama ibu" dalam selembar kertas yang aku masukan dalam kotak. Kotak kecil yang lusuh.

2 comments: