Thursday, 26 March 2015

BiBu



Bibi dan Buku (bibu)
Oleh Ludbizar*



Abu-abu menghibur pagi, menampung derajat kegirangan orang orang yang menyapa kemenangan.  Lupa memandang awan, hari ini menyisihkan sebagian kebahagian di hari kemenangan. Bara semangat tidak beku meski udara dingin menguasai hari ini.
Gerak bibir manis mereka memudarkan kegelisahanku dan bibi dari gubuk kecil. Puluhan wajah baru sepanjang hari dengan pakaian rapi, mendatangi kami. Mereka adalah orang-orang yang sedang merayakan kemenangan. Berbeda dengan kami yang selalu berteduh di gubuk dengan harapan besar ada seorang yang mau berbagi kemenangan dengan kami.
Mereka berkata “minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin,  ” sempat bertanya pada sang bibi “itu siapa bi?” Tanyaku lugu, bibi menjawab mereka adalah saudara kita, yang akan membantu kita. Bibi selalu menuliskan kalimat di buku kecil, bibi melakukannya agar aku paham jawaban bibi. Walau seperti bibi tidak pernah mendengarkanku, tetapi, bibi selalu menulis dibuku kecil dengan pensil untuk menjawab setiap pertanyaanku. Bibi tidak pernah mengabaikan pertanyaanku.
Dunia sunyi, memperjelas keadaanku yang sehari hari di kursi berayun. Aku bergerak kala bibi disampingku, menyuapiku dan memandikanku. Kesendirian, membuat rasa penasaran untuk meramaikan perbedaanku diluar sana.
Aneh, setiap sore aku makan, dan pagi buta. Aku dibangunkan untuk melahap sedikit jerih payah bibi. Namun, pagi itu bibi memberiku semangkuk ketupat dan ayam. Pagi yang cerah dan tidak biasa dengan banyak orang lalu lalang menghampiri. Karena heran, aku pun bertanya pada bibi.
“kenapa bibi memberikan aku makan pagi hari?” tanya aku. Tak lupa bibi merangkai aksara untuk aku lewat buku kecilnya, sekalipun saya membaca masih terbata.
“ini adalah pintu keluar, pintu keluarnya cahaya dari kegelapanmu, nak”.
Aku bingung dengan penjelasan bibi. Lantas aku mencoba menunjuk gerombolan anak yang sedang bermain,
“bibi sedang apa mereka?, kenapa mereka menutup telinga setelah melemparkan benda itu?”
lewat buku kecil, bibi menjawab bahwa mereka sedang bermain petasan.
Entah apa yang ingin aku mengerti, keadaan ini seperti pernah aku alami. Apalagi ketika mereka berlarian. Aku ingin sekali mengikuti mereka tetapi, dayaku hanya bisa melihat dipundak bibi. Aku tidak tega menyuruh bibi mendekati mereka.

Melihat
mereka, aku kebingungan. Bibi menyodorkan bukunya ”bibi lelah nak, ayo kita masuk dan istirahat”. Bibi tersenyum cerah walau harus menahan berat badanku di pundaknya. Bibi pun segera masuk, dan menaruh aku ke tempat biasa, kursi berayun buatannya. Sambil berayun, aku merasakan keindahan hari ini. Meski aku bingung dengan kehidupanku.
Tiba tiba muncul laki laki berkaca mata. Dia masuk dan mengelus rambut kumalku sambil tersenyum. Walau aku tidak mengenal, aku pun membalas senyumnya. Laki laki sepertinya mencari bibi. Dia bertatap muka lama dengan bibi. Aku juga menatap mereka berharap aku tahu keadaannya. Setelah lelaki itu pergi, bibi mendekatiku. Menyodorkan buku kecilnya “besok bibi mau pergi cukup lama, kamu hati hati dirumah ya? Bibi mau bertemu dengan seseorang yang akan menolong kita”. Aku pun mengangguk dengan sedikit keberatan.
Malam hari, bibi tidur disebelahku sambil memeluk erat tubuhku. Aku berdoa, semoga bibi kuat merawatku sampai aku besar nanti. Sunyinya malam aku lewati, tak lupa melafalkan doa doa umtuk bibi. Pagi buta bibi belum terbangun, masih terlelap. Hari ini tidak seperti biasanya, kala aku dibangunkan bibi untuk melahap makanan.
Sampai pagi aku hanya terlelap beberapa waktu yang tidak lama. Bibi sudah terbangun dengan pekerjaan ringan yang rutin. Menyapu dan mencuci. Bibi melirikku dengan senyum.
tanpa jeda, aku langsung menanyakan kepergiannya.
“bi, katanya bibi mau pergi? Pergi kemana? Aku tidak diajak.”
Dengan sabar aku menunggu bibi menjawab lewat buku kecil yang hampir penuh.
“Bibi pergi sebentar lagi, setelah memandikanmu nak. Bibi pergi ke rumah laki laki yang kemarin datang. Bibi tidak mau kamu kenapa kenapa. Jadi, kamu lebih baik tinggal disini, disana banyak orang jahat, baik baik ya” Bibi menatapku, dan meneteskan air matanya sambil memelukku. Sekalipun diusap, bibi terlihat sedih. Mungkin agar aku tetap bahagia di matanya.
Bibi pun pergi dengan mata cerah dan wajah sumringah. Aku berpikir, apakah bibi akan meninggalkanku selamanya? Dalam benakku, mungkin bibi akan diberi batuan oleh laki laki itu. Bibi tidak akan meninggalkan aku. Tetapi, Aku menangis deras takut bibi benar-benar meninggalkanku.
Beberapa waktu tangisku berhenti. Sekelompok orang datang memakai baju putih panjang. “Ada apa ini?” Sejenak berpikir, mungkinkah bibi mengalami nasib serupa. Aku menjerit memanggil bibi.
“Bibi, bibiii, bibiiiii....!!! ” mereka membawaku dalam sebuah mobil berwarna putih. Aku tidak bisa melawan, hanya jeritan yang diabaikan oleh mereka. Mereka menutup mulut dan hidungku sampai
aku tidak sadar.
Dalam ruangan kecil dengan sebuah tempat tidur, aku sadar. Ruangan aneh yang baru aku lihat. Aku langsung teringat bibi
“bi, bibi dimana? Apakah bibi benar benar meninggalkanku”. Ucap aku
Datang seorang laki laki, dia adalah orang yang dituju oleh bibinya sebelum meninggalkanku. Aku langsung bangun dengan setengah badan.
“hey, dimana bibiku ?!” bentak keras aku kepada laki laki itu.
Dia tidak menjawab, “apakah kamu tidak mendengarkanku ?!  katakan !” tambah aku.
“Cepat, katakan !! meninggi.
Sontak, dia menunduk dan meneteskan air matanya.
Aku pun bingung ditengah nada tinggiku dan terengah engah. Dia memberikanku sebuah buku kecil, buku milik bibi.
“dimana bibi? Kenapa buku bibi ada di kamu?” Sambil menarik tangan laki laki itu.
“bibimu menitipkan sebuah buku kecil kepadaku untuk kamu, dia memberikan pesan untukmu dihalaman terakhir bukunya” kaget aku, aku bisa mendengar jelas suara dari dia berbicara. Aku sadar kenapa bibi menuliskan ucapannya di buku itu.
dia meneruskan pembicaraannya bahwa bibiku yang sangat baik itu memberikan jantungnya kepada istriku, dia berpesan kepadanya “ nanti kalau istrimu sembuh dengan jantungku, mohon anda mau mengobati telinga dan kaki Qonat serta merawatnya sebagai anaknya” dia menyetujuinya.
Ternyata namaku Qonat. Aku diam, lemas dan menangis sambil memeluk erat buku kecil bibi. Aku kehilangan orang yang sangat menyayangiku. Sekalipun aku mendapatkan hidup baru, aku merasa bersalah dan berhutang budi kepada bibi yang telah merawatku  sampai sekarang ini.
Laki laki itu mendekat, lalu memelukku “ nak, sudah nak. Bibimu sudah tenang dan bahagia disana, apalagi kalau kamu berhenti menangis” laki laki itu juga menjelaskan Qonat adalah pemberian nama bibimu. Bibimu mengadopsimu dari seorang ibu yang telah meninggal karena kecelakaan didekat gubuk bibimu.
“Semakin jelas bahwa aku bukan siapa siapa. Tetapi Tuhan memberikan aku orang orang yang sangat baik disekelilingku” ucap aku dalam isak tangis
“Aku sadar, betapa besar pengorbanan bibi terhadapmu. Aku juga berutang budi terhadap bibimu, aku akan merawatmu seperti anakku sendiri nak” tanggap laki laki itu yang juga menangis.
Isak tangis terhenti, aku ingin membaca pesan terakhir dari bibi,
“Nak, maafkan bibimu nak
bibimu tidak bisa menepati janji untuk merawatmu.
tetapi, bibi akan menemanimu sampai kapan pun
bibi kasihan kepadamu yang tidak bisa mendengar dan berjalan
bibi sering menangis tengah malam meratapi kesedihanmu nak
bibi tidak tega, melihatmu menderita
jadi, bibi putuskan untuk mendonorkan jantung ke yang membutuhkan
bibi membuat perjanjian,
kalau sembuh, keluarganya akan mengobatimu dan merawat seperti anak kandungnya.
jika kamu membaca surat ini, ini jadi pesan terakhirku nak
semoga kamu baik baik saja
berbahagialah dengan kehidupan barumu nak
aku sangat menyayangimu, Qonat.”
Derai air mata tidak bisa aku tahan, menghadapi kenyataan seperti ini. Suara, kaki dan buku kecil ini jadi saksi betapa mulia bibi. Aku janji akan mendoakan bibi, memanfaatkan kehidupan baruku agar tidak sia sia. Bibi, bibi, bibi yang sangat aku sayangi.
Setelah pulih, aku hidup bersama orang tua angkatku, mereka menerima dan menyayangiku. Namun, tidak jarang aku mengunjungi makam bibi yang dimakamkan didalam gubuk yang dulu bibi tinggali bersamaku. Saya membiarkan gubug itu tetap utuh dengan kursi berayun yang aku gunakan waktu itu.

0 komentar:

Post a Comment