Indonesia bagai surga yang hilang bidadarinya
![]() |
| Ilustrasi |
Wacana tersebut sudah hilang setelah bertahun tahun kita hanya membacanya, menurut ki titut salah satu budayawan banyumas menuturkan bahwa Indonesia adalah sorga yang hilang bidadarinya, tidak ada kebahagiaan. Segala diukur dengan uang. Hal hal yang bersifat kemanusian mulai luntur.
Orang orang yang bercocok tanam sudah jarang. Ibarat mencari orang yang mau kerja di sawah sangat sulit, harus mendatangkan orang dari daerah lain untuk kerja disawah untuk menanam. Padahal negara ini subur, sayang petani kita bukan petani yang memiliki lahan. Petina kita hanyalah buruh tani.
Tidak hanya itu, tanaman tanaman yang dulu bisa kita ambil seperti daun singkong saja tidak banyak. Hanya beberapa segelintir orang yang menanamnya. Walau progam progam pemanfaatan lahan kosong digalakan melalui ibu ibu PKK, tapi muspra hasilnya. Sebab, banyak lubang di saluran dana menuju ke desa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyataan diatas adalah berubahnya sistem sosial dan ekonomi seperti yang dituturkan oleh agus (16/03) bahwa saat ini apa apa perlu biaya besar, karena beralihnya hubungan kemanusiaan yang bersifat kasih sayang ke sistem transaksional.
Lebih dari itu, hilangnya tokoh tokoh masyarakat yang mengedepankan prinsip ekonomi gratis atau freenomics, tidak membebani masyarakat membuat masyarakat tidak harmonis dan terombang ambing. Sehingga mudah terpengaruh pada kebiasaan kebiasaan buruk yang terpaksa menjadi budaya.
Tokoh masyarakat dalam membangun sistem sosial dimasyarakatnya menggunakan prinsip freenomics untuk menciptakan keadaan sistem sosial yang harmonis. Dari keadaan yang harmonis itu kegiatan yang bersifat kemanusiaan seperti gotong royong, kerigan, sistem kondangan muncul ditengah masyarakat.
Sayangnya, gotong royong dan kerigan mulai luntur dengan sistem sosial ekonomi dimana masyarakat teguh memakai prinsip ekonomi, dengan pengeluaran seminimal mungkin mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam artian lain, kondisi masyarakat sudah tidak harmonis dan takut tidak memiliki hal yang dapat diukur dengan uang.
Oleh karena itu, sudah menjadi fardu bagi kita yang tau, paham dan berpotensi untuk mengubah system social yang harmonis kembali. Tidak menjadi masyarakat yang kuno diera modern. Sebisanya, kita menjalankan fungsi agen of change dari posisis kita sebagai mahasiswa.

0 komentar:
Post a Comment