Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, 22 July 2017

Puisi Tentang Alam "Sabtu Pagi"



Sabtu Pagi



Oleh Ludbizar




Stop tuangkan kopinya lagi nak

Gelap yg mau berakhir adalh gejala rutin alam

Kau bisa menemuinya lagi esok




Ayam ayam mulai berkokok,

dapur dapur mulai beroperasi

Dan bapak bapak pergi bersuci




Khalayak ramai akan kau temui

Di persimpangan jalan

Di tempat belajar

Dan tempat tempat umat mengabdi




Lalu

Kau hanya bisa diam

Mengamati apa yg ingin kau nikmati

Sebuah jalan sepi menuju mimpi




Kau indahkan sisa malam

Dari sudut jendela kau berjanji

Suatu saat nanti,

Pagi akan tidak kau temui lagi




Setetes embun yang jatuh

Dari daun daun melati

kaca kaca buram

Dan rumput rumput teki




Kau sendiri, kini

Di keheningan mimpi

Kau sudah jauh

Meninggalkan nuansa pagi




Antologi Puisi, Ruang huni bernama sepi

Puisi Tentang Indonesia Saat Ini, "Kami Melihat"


Kami melihat



Oleh Ludbizar




Kami melihat,

Sekumpulan orang berpartisipasi

Bukan audisi, bukan pula kompetisi

Lebih mirip rutinitas para Abdi




Kami mencatat

Tukar tukar dasi

Gonta ganti asumsi

Dan lalu lalang pencuri




Kami mendengar,

Sekumpulan orang masturbasi

Bukan karena gadis seksi

Bukan juga jabatan tinggi




Kami mengkaji

Orang orang yg beraksi

Memuja memuji pemimpin suci

Sambil mengalungi belati




Kami menyadari

Ruang demokrasi dikencingi

Ruang suci dikotori

Oleh pencinta eksistensi




Kami sekali lagi menyadari

Kami korban subsidi

Korban hoax setiap hari

Dan pencitraan foto selfi




Kami malu

Pada diri sendiri yg tak mau berdiri

Punya wakil aspirasi Yang suka berahi

Dan para pengutip kitab yg kurang literasi






Friday, 27 May 2016

Yang Lain

Tidak ada baiknya, tidak ada pula kebaikan
Berbicara, bersikap dan bertindak lurus
Ini bukan meja judi, yang ingin terus menang
Bukan pula berdoa yang selalu ingin kuat dan mudah
Ini masalah dapur bagaimana bisa terus berasap
Bisa makan, kenyang dan damai
Ini kehidupan didunia

Tidak ada gunanya, tidak ada kegunaannya
Menyingkirkan, Meluruskan 'yang lain' biar sama sama
Ini bukan jalur kereta yang tidak akan keluar jalur
Bukan pula udara yang selalu mengisi ruangan
ini masalah sandiwara yang melibatkan banyak tokoh
Bengis, jujur, sabar dan rajin bertemu dalam 1 masalah
Ini perbedaan




Thursday, 17 December 2015

Hujan yang mengajari

Hujan sudah mengajariku
Hujan yang jatuh tak beraturan
setelah jatuh bisa langsung tahu
ia mau apa dan kemana

Alangkah bahagianya aku 
dijadikan manusia yang menghuni bumi
Segala apa yang diciptakan adalah pelajaran
yang tidak beresensi pada satu nilai kepuasan.

Dimulai dari pertanda hujan
Awan awan semrawutan kemudian menghitam
Menyebar merata sesuai kadarnya
Sampai sang tuan meneduh sebisa

Hujan yang tidak bisa adil
Membagi tetesan tak hingga
Tetesan yang tak sebesar gunung
Pada semua ciptaan Tuhan

Hujan yang ketakutan pada alam
Pada tuan yang menyalahi datangnya
Ketika tetesan hujan sebesar gunung
Mengelun daratan sampai isinya

Hujan yang bersalah
Datang bukan waktunya
Tetapi hujan yang mengajari
Hujan hanya bisa memberi

Ludbizar, hujan yang mengajari, desember 2015