Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, 28 January 2016

Pengadilan Jalanan

Gue mah mau crita bukan tentang  agama. Bukan. Gue mau bicara tentang Hak azazi manusia, HAM. Lu tau kan Gafatar ? Kalo lu sering baca berita pasti taulah. Gue mau ngbahas GAFATAR yang katanya di "cap" sesat oleh hampir seluruh umat agama yang bersangkutan. Bahkan ame sopir agama aja ikut ikutan. Biar jelas! 


GAFATAR kepanjangan Gerakan Fajar Nusantara terdiri atas beragam latar belakang pendidikan, umur, pekerjaan dan suku. GAFATAR cukup pesat dalam mencari pentolan dan pengikutnya. Bisa dibilang tidak sedikit orang yang berkumpul di GAFATAR. Dalam kasus beberapa waktu lalu, Kelompok ini mendapat pengusiran paksa sama masyarakat dan petugas setempat. Bukan hanya diusir, harta benda mereka juga dibakar ludes. Sisanya hanya abu, tetapi bukan abu rijal bahri yang suka pakai baju kuning.

Banyak kerugian yang dialami anggota GAFATAR baik itu materi maupun non materi, yang jelas adalah trauma berkepanjangan dan kebencian pada sesama manusia, terutama manusia yang melakukan tindakan tersebut dan umat yang melabeli dengan aliran sesat. Hal ini menjadi targedi beulang ulang dimana 'pengadil jalanan' akan selalu cepat bergerak daripada pengadil sesungguhnya. Kasian memang, bukannya membela, tetapi gue juga manusia yang punya rasa kemanusiaan. 

Gue si bukan ustad, bukan pula orang yang punya dengkul bersih tentang spiritual. Hampir semua manusia percaya bahwa Tuhan memandang karena kebaikan kita. Lantas kenapa si pengadil jalanan tega semena mena sama manusia? Yang tidak lain adalah sesama makhluk sederajat Ciptaan Tuhan. Entah lu setuju atau ngga. Itu urusan lo pada. 

Kalau soal hidup di Indonesia pastinya lu berjanji mengikuti ayat ayat konstitusi bahwa indonesia dengan beragam suku, agama dan ras. Kalau soal agama bolehlah menjunjung ayat ayat suci. Lantas, nyatanya elu pada menjadi rasis begitu soal agama. heran. Untung yang minor minor memahami tindakan yang mayoritas. Kalau tidak? 

Itu salah satu contoh broboknya hukum di Indonesia. Banyak contoh kasus hukum yang ditawar dan bahkan di kangkangi begitu saja. Pokoknya banyak deh. Gue si cuma bisa mengharap pengadilan esungguhnya di Indonesia menjadi yang pengadilan yang cepat bergerak. Gue juga ga mau ngbahas lebih dalam tentang keadilan, karena bang iwan fals pernah bilang "Jangan bicara tentang keadilan, sebab keadilan bukan untuj diperdebatkan". Ujung ujungnya Tuan yang banyak uang yang menang.

Wednesday, 14 October 2015

Katanya Kita adalah Dajjal

Dunia ini masih dipenuhi manusia yang sedang membabi buta dengan segala jurus andalan untuk menaklukan satu sama lain. Orang islam bilang kiamat sudah dekat, salah satu tanda kiamat ada manusia bermata satu yang mengaku Tuhan. Katanya, punya segalanya bak Allah SWT (Tuhan Islam).

Dajjal-islam-milenium.blogspot.com
Rumangsa manusia memiliki akal sehat, rasa dan karya sudah sepantasnya lebih bagus dari dajal. Lho kenapa? Pikirlah sendiri dengan akal sehat, rasakan dengan jiwa yang tenang dan bertindaklah layaknya manusia. Ojo koyo celeng(babi hutan) nek wis mlayu angel belok.

Kita, manusia punya mata lebih banyak. Dua mata yang seimbang, ora dendek duwur, nganti ana mata hati, mata kaki lan mata iwaken. Dibanding dajal, rupanya saja tidak jelas, matanya cuma satu. Mereka (muslim) pada ketakutan jika melihat mata satu. Mata satu itu orang cacat yang harus dikasihani. Mari mengkaji ulang dengan pemberian karunia Tuhan yang tak habis habis, mikir !

Lalu siapakah dajal? Tidak seorang pun tahu katanya, tetapi muslim menunjuk saudaranya kafir, mengatakan syiah itu pengikut dajjal. Lho katanya yang mengatakan kafir ke orang lain, maka orang itu kafir juga. Dajjal dong? ora bisa ndelok karo mata normal, siji tok !

 Dajjal adalah seorang tokoh dalam eskatologi Islam yang akan muncul menjelang kiamat. Ya begitu, mungkin saja saya, kau dan mereka dajjal, dan kalian pengikutnya. Salah seorang yang akan menjadi tokoh bermata satu dunia yang tidak memandang kebenaran, kesadaran dan keikhlasan.

Kita biarkan kemunafikan, kesombongan membumbung dada kita. Kita buang jauh jauh kebenaran, mengucilkan mereka yang benar benar menjadi manusia. Kita bela kelicikan, kedengkian sebagai karakter abadi dalam diri kita.

Lalu mengapa merasa dipihak benar, padahal salah, lalu mengapa kita merasa dipihak yang baik, padahal kita buruk. Sama saja kita bermata satu, DAJJAL !!!

Saturday, 18 July 2015

Untuk Papua, Papua Kita

Ilustrasi: orang papua merenung keadaan di Indonesia

Sangat disayangkan, insiden di Tolikara, Papua berbau konflik agama. Mungkin bukan pertama kali. Peristiwa serupa sudah terjadi sebelumnya. Papua dibombardir oleh isu yang mengarah konflik di Papua menjadi horizontal dengan isu keagamaan. Apapun yang berkaitan dengan agama itu sensitif, karena manusia sekarang kecenderungan hanya memiliki fanatisme agamis, kurang memiliki esensi beragama yang mengajarkan kebaikan.

Beberapa kali pun insiden serupa terjadi, namun karena kerukunan dan kecintaan hidup bersama orang Papua dengan warga lain yang berbeda, baik agama maupun suku bangsa, Papua masih ada untuk Indonesia, untuk kita. Itulah nilai yang dimiliki oleh masyarakat Papua.

Informasi insiden Tolikara "Masjid dibakar ketika sholat id" yang menyebar begitu cepat, bagai wabah penyakit zoonosis. Media berlomba menyebar informasi dengan narasumber sangat terbatas, membuat dan membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua. Apalagi asumsi netizen ampuh mempengaruhi masyarakat, bobrok !

Asumsi masyarakat pada media yang terlalu kuat, membuat fakta dan opini yang bergulir pating timbrung. Mintailah masyarakat, pimpinan agama, wakil-wakil masyarakat adat, untuk mengambil peran maksimal, menenangkan warga dan memberi penjelasan khususnya kepada media-media arus besar nasional terkait dengan fakta peristiwa yang sangat kita harapkan tidak menyulut konflik lebih luas. Ini menyangkut kemanusiaan.

Hal lain lagi yang kurang diperhatikan adalah hubungan aparat dengan konflik yang terus terusan dengan kekerasan. Bukan dialogis, apalagi arahan. Mungkin ini kelalaian aparat aparat hukum yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Tangani manusia dengan manusiawi, mungkin lebih baik.

Untuk pemerintah, ambilah langkah langkah preventif agar isu dapat dicegah dengan fakta. Sebagai ulasan mengenai  menyebarnya surat Edaran dari Gereja Injil di Indonesia (GIDI) di media sosial secara sistematis dan cepat. fakta keanehan dari  surat menggunakan Kop Surat/logo GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) pada tanggal 11 Juli 2015 yang ditujukan kepada Umat Muslim Se Kabupaten Tolikara.

Surat itu ditembuskan kepada DPRD Tolikara, Bupati Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, semestinya dapat segera di atasi dari awal. Kok bisa? Ya itulah sisi buruk pihak pemerintah dan kepolisian tidak melakukan upaya preventif (pencegahan dini) sehingga isu cepat mewabah tanpa dasar yang jelas.

Mungkin akses sulit ke TKP membuat awak media memilih beropini daripada mencari fakta, nyatanya dokumen kejadian sama, contoh foto dan kutipan tokoh atau pihak terkait. Sebuah surat yang mengatasnamakan organisasi agama tertentu di Papua belum terklarifikasi keaslian sumbernya.
Semoga peristiwa ini menjadi catatan untuk tidak lagi beropini dan berasumsi negatif tentang papua, pergeseran ke isu agama.
Untuk Papua, Papua kita
Kami turut beruda mendalam bagi mereka yang menjadi korban.

Riview Papuaitukita.net

Thursday, 16 July 2015

Masalah manusia Indonesia

sahabat lpm sketsa/ supri dan fatur
Saya seorang mahasiswa kudet (kurang update) dari salah satu universitas di kota satria, Purwokerto. Tidak lebih dari mahasiswa kupu kupu dan tidak pernah memikirkan nilai bagus, pacar dan profesi yang bertahta. Saya mungkin lagi beruntung bisa kuliah karena Negara ini benar benar memberikan keadilan, imposible. Progam pendidikan kepada golongan paria yang sedikit bersih dengkulnya ini memberikan saya banyak peluang untuk belajar di ranah pendidikan tinggi. Benar benar berkat kuliah saya membuka ‘mata’, mengupas tebelnya sifat apatis terhadap lingkungan.

Kali ini saya mau sedikit menuntaskan kebahangan otak saya setelah kedua mata mulai terbuka. Ya, berawal dari pemilu presiden tahun 2014, saya tertarik dengan wacana revolusi mental dari capres no. 2 yang kini lagi menahkodai Negara Maritim, eloknya. Huforia public dengan adanya revolusi mental membangkitkan kaum kecil semakin percaya diri menghadirkan pemimpin yang kurasa tegas saat itu. Jelasnya, kita rasakan saat ini. Bagaimana regulasi dan taktik yang diterapkan atau hanya retorika untuk memungut suara secara cuma cuma.

Sebuah Hopeless atau lebih trend-nya PHP, seorang pemimpin menyandang gelar a new hope tidak reliable dengan tuturnya. Namun, bukan tidak mungkin negara ini jadi negara adi daya, minimal ASEAN untuk segala aspeknya. Jika retorika itu berakhir pada pengimplementasian yang didukung rakyat sepenuhnya. Lagi, sebelum rakyat menyublimkan kepercayaan kepada mantan gubernur DKI Jakarta yang belum cuci tangan dari jabatannya.

Hubungan kemanusiaan

Pemimpin bukan semena mena menjadi peracik adonan dasar pengembangan negara ini dan wakil rakyat (wakil rakyat yang punya jabatan) tidak berhak mempunyai hak rakyat. Sungguh, keadaan ini tumpang tidih. Ketika rakyat menganggap pemimpin tidak bejus dan pemimpin menganggap rakyat itu bodoh. Inilah yang terjadi dinegara ini, hubungan kemanusiaan yang luntur.

Hubungan kemanusiaan yang menganut unsur unsur kedekatan manusia dengan manusia, bukan manusia dengan materi dan alat ukurnya merupakan salah satu kunci membongkar masalah-masalah kemanusiaan. Tidak perlu contoh masalahnya apa. Simak saja dimedia informasi, kita akan langsung menemukan informasi tentang konflik manusia dengan manusia yang sifatnya monoton, bahkan menjadi headline.

Sementara penegak hukum yang katanya bisa membantu malah ikut ikutan terlibat masalahnya. Arep kepriwe maning lur? Orang kita juga lupa sama peribahasa yang sangat sederhana ini “Tak kenal, maka tak sayang”. Simpel lagi, kita hapal kan sila ke 2 kemanusiaan yang beradab? Salah satu ciri kemanusiaan yang beradab adalah hubungan kemanusiaan yang harmonis.

Hubungan kemanusiaan yang harmonis tentunya menimbulkan kegiatan kegiatan social yang baik seperti gotong royong, forum musyawarah, kerja bakti yang tidak sama sekali membebani rakyat. Sayang, kita tidak memikirkan itu, kita hanya memikirkan apa yang akan kita ukur. Seperti hidup dijaman kuno yang baru, berburu dan meramu.

Dari paragraph sebelumnya, seyogyanya kita paham. Masalah kemanusiaan diperbaiki dengan unsur kemanusiaan dan selesaikan dengan jalan kemanusiaan. Hukum ada karena adanya manusia dengan manusia saling menghargai dan mengerti apa yang seharusnya tidak dilakukan dan dilakukan. Percuma jika penegak hukum tidak mempunyai hubungan kemanusiaan baik dengan rakyat. Hukum juga milik rakyat.

Kembali pada bahasan yang lebih luas, sistem hubungan kemanusiaan jika diterapkan dalam aspek lebih luas memang ngambang seperti ditingkat bangsa. Namun, bukan ngambang karena tidak jelas, tetapi perlu hubungan kemanusiaan yang struktur dan massif. Dalam contoh lain, kita harus punya struktur yang bersifat kemanusiaan lagi seperti dulu.

Apa itu struktur yang bersifat hubungan kemanusiaan? Struktur yang dipakai manusia dalam membentuk kelompoknya, membentuk kelompok dari kelompok kelompok yang ada. Memang, struktur itu sudah ada, tapi hilangnya sebuah hubungan kemanusiaan yang tergantikan system social ekonomi. Kalau kita baca buku sejarah Indonesia, pasti ada sumpah pemuda. Betapa pemuda masa lalu sudah paham, mereka perlu mengakui tanah air, bahasa, dan bangsa Indonesia.
Bersambung...

Wednesday, 1 July 2015

Jika Manusia itu Manusia

 
 "Manusia adalah kita, kita yang mempunyai keyakinan dan mampu berbuat"


Segala anugerah telah tak terhitung kita terima sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang terbaik dari sebaik baiknya makhluk. Manusia menerima anugerah itu yang telah disama-ratakan kepada manusia saat manusia lahir di dunia. Hanya saja, Tuhan memberikan kesempatan kepada seluruh manusia untuk berlomba lomba mendapatkan anugerah Tuhan. Apa itu? tentu saja kenyamanan hidup atau kenikmatan.

Adalah kerugian anda sebagai manusia, jika anda tidak berlaku sebagai manusia. Apakah kau ingin bersifat seperti hewan? kau bisa dan kau sangat trampil, kau cukup makan. Apakah kau ingin bersifat seperti Jin? kau sangat bisa, kau cukup mengatakan bahwa aku waras. Dan apakah kau ingin bersifat seperti malaikat, atau sejenisnya? kau cukup yakin bahwa kau sangat tidak sempurna dan ketergantungan.

Sudah tahu apa itu manusia? kalau sudah tahu mari kita beriman dan beramal. Setelah itu beranjak melihat manusia dari sisi manusia. Pasti kau yakin berpandangan bahwa manusia sekarang bukan manusia yang kau inginkan. Betulkan begitu? jika iya, kau adalah manusia sebenarnya yang menjadi manusia.

Sama sama manusia

Manusia diciptakan sangat beragam, tidak ada yang sama, tidak pula yang beda. Jika kau ingin mengelompok, silahkan saja. Tetapi kau sama saja manusia, tidak akan beda dengan manusia lainnya. Tetapi, tak jarang manusia menginginkan kelompoknya menjadi kelompok manusia yang diridhoi Tuhan, boleh boleh saja asalkan kalian masih menjadi manusia, beriman dan beramal.

Apakah kau yang mengakui kebenaran di kelompokmu? Jika iya, kenapa kau membenci kelompok manusia lainnya, mereka juga manusia. Jika yakin kelompokmu paling benar? Siapa Tuhanmu? Apakah Tuhan menyuruhmu membenci sesama manusia?

Hubungan manusia

Hubungan manusia terjadi karena manusia tidak sempurna dan ketergantungan. Jika kau itu, manusia yang menjadi manusia kau ingin apa atas hubungan kemanusiaan? bukankah kau ingin berhubungaan dengan sama sama manusia dan menganggap manusia itu sama. Sudahkah mengerti manusia itu manusia yang ingin disebut manusia? Hal atau jawaban itu terletak pada judul bacaan ini

Monday, 4 May 2015

3 Hari yang Dilupakan Warga Indonesia

Kala seorang adik mempertanyakan kenapa 3 hari lalu libur berturut turut? "Mas, kok belajarnya libur?, kata mas belajar ga ada liburnya?" Begitu saya mendengar pertanyaan bocah mungil usia 5 tahun, saya justru langsung bertanya kepada diri saya. Bukan malah langsung menjawab slentikan kecil dari bunga hidupku itu.

Saya dituntut untuk tidak memberi jawaban klasik, saya berpikir sambil memeluknya. Pelan pelan saya menjawab "Begini de, Hari ini bapak dan ibu serta warga desa kita libur bekerja, mereka ingin istirahat karena mereka ingin upacara di kecamatan besok"

Kala itu pagi hari, banyak warga yang berangkat untuk bekerja menggarap sawah orang kaya. Lantas ia membelalak ke arah pandangan itu dan bertanya lagi "Kok, mereka tidak libur? hanya bapak dan ibu? Gamang pikiran, saya gagal menjawab.

Helai nafasku taham sebentar. Mungkin kebetulan adik saya memakai baju TK yang terdapat lambang pendidikan Indonesia. Saya lihatkan pada adik saya, "kamu tahu lambang ini?" Adiku cepat menjawab bahwa lambang itu adalah lambang pendidikan Indonesia dengan slogan "Tut wuri handayani". Tidak hanya itu, adik menjawab dengan lengkap.

Anak anak TK memang harus dibekali hafalan seperti itu, dan beruntunglah ketika mereka dewasa memahaminya. Dengan riangnya ia mengkorelasikan dengan pertanyaan sebelumnya "Apa hubungannya mas?, Besok, kata bu guru juga upacara kok katanya HARDIKNAS mas?

Pertanyaan ini mungkin lebih mudah, pikirku, "Mas juga upacara besok, (Nyatanya saya tidak upacara dan birokrat tempatku membilas dengkul memindah jadwal upacaranya) Kita semua wajib memperingati Hari Pendidikan Nasional, termasuk mereka yang kerja disawah saat ini. Adiku tak melanjutkan pertanyaannya, ia keluar di panggil temannya.

"Ing ngarso sung tulodho., ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" begitulah lengkapnya tutur dari Bapak Pendidikan Negri ini, Ki Hajar Dewantoro. Ucapan itu sempat diucapkan dengan lantang oleh adik. Begitu juga banner banner online yang menjadi headline media.

Hari jum'at dan sabtu saya lewati dengan tidak peduli dengan alam. saya tidak enak badan. Saya hanya melihat perkembangan alam yang fana ini dari media sosial. Ketika saya melihat beranda, saya mendapati tulisan menarik perhatian "Hidup ini hanya dikelola oleh regulasi orang idiot dan medianya orang kolot"

Saya tertawa lepas, kemudian pada tulisan berikutnya, ia menuliskan kritik pada media "Hay media kolot, kau sudah lupa hari lahirmu" Tulisan ini menjadi saya penasaran. Saya berkomentar dan menanyakan "Emang media kolot lahir tanggal berapa?" Beberapa menit ia menjawab "Hari ini, hari pers Internasional" Dengan jawaban itu saya paham dan berhenti berkomentar.

Itulah 3 hari yang terlupakan, hari peringatan untuk kita semua, buruh, pendidikan dan pers. Mungkin dari sekilas tulisan diatas kalian paham. Mereka lupa pada posisinya, mereka selalu diarea buta (Blind area), termasuk saya yang menulis.

Mereka yang bekerja disawah bukan petani, mereka buruh. Mereka yang di gedung sekolah bukan guru, tapi PNS (Pegawai Non Sosial) yang tidak sepenuhnya mengabdi. Para punggawa media kolot itu juga bukan penyampai kebebasan, tapi mereka mengurung kebebasan kita.

Ludbizar, awal mei 2015

Tuesday, 7 April 2015

Desakan ke arah Perbaikan Ekonomi

Di bawah kapitalisme, Aku sebagai orang biasa menikmati kemudahan kemudahan yang di jaman dungteng tidak dikenal. Kemudahan yang tidak dapat dinikmati oleh penduduk terkaya sekalipun. Tetapi, emm tentu, materi berupa sesuatu yang bisa diukur ora ujug ujug (tiba-tiba) membuat orang menjadi bahagia. Begitu seseorang memperoleh materi tersebut, ia mungkin lebih senang daripada sebelumnya. Sayangnya, begitu sejumlah hasratnya terpuaskan, hasrat-hasrat baru pun akan mencuat ke permukaan, bahkan lebih banyak. Begitulah manusia, kodrat manusia, kodrat aku dan kalian.

Katakanlah sedikit penduduk disekitarku, penduduk Indonesia yang belum menyadari sepenuhnya realita bahwa negara mereka menikmati standar hidup tinggi dan bahwa pandangan hidup rata-rata penduduk tampak luar biasa, sesungguhnya berada di luar jangkauan sebagian besar masyarakat yang hidup di negara-negara non-kapitalistik.

Kebanyakan orang kurang menghargai apa yang mereka miliki dan apa yang dapat mungkin mereka capai, dan malah mendambakan hal-hal yang tidak dapat mereka akses. Sia-sia meratapi hasrat yang tak mungkin terpuaskan untuk mendapatkan barang lain lebih banyak lagi. Tepatnya nafsu akan hal inilah yang mendorong orang untuk memperbaiki ekonomi. Hanya berpuas diri atas apa yang telah dimiliki atau terhada hal yang gampang diperoleh, serta menahan diri secara apatetis dari upaya peningkatan kondisi material bukanlah kebajikan. Sikap demikian justru lebih mirip dengan tingkah laku hewan, ketimbang perilaku manusia yang mampu berpikir.

Ciri paling khas kemanusiaan adalah bahwa ia tidak berhenti berupaya memajukan kesejahteraannya melalui aktivitas-aktivitas yang bertujuan. Namun, usaha semacam itu harus disesuaikan dengan tujuannya. Jerih yang diambil harus sesuai dengan efek yang dituju. Yang salah bagi kebanyakan sejawat kita bukan terletak pada kenyataan bahwa mereka amat mendambakan keberlimpahan persediaan barang, melainkan bahwa mereka memilih cara yang keliru demi mencapai tujuan mereka. Mereka mengikuti ideologi-ideologi palsu.

Mereka memilih kebijakan-kebijakan yang kontradiktif bagi kepentingan vital yang sesungguhnya mereka pahami. Akibat terlalu pandir untuk melihat konsekuensi jangka panjang yang tak terelakkan dari perilaku mereka, mereka hanya mencari kesenangan dalam efek jangka-pendek kebijakan yang ditempuh. Mereka mendukung banyak upaya yang dapat dipastikan akan berakhir sebagai pemiskinan secara umum, disintegrasi kerjasama sosial di bawah prinsip pembagian kerja, dan kembali kepada barbarisme.

Untuk meningkatkan kondisi-kondisi material kemanusiaan, hanya terdapat satu cara: yakni dengan meningkatkan pertumbuhan alokasi kapital (modal) untuk mengimbangi pertumbuhan populasi. Semakin besar volume kapital yang ditanam per kepala pekerja, semakin banyak dan semakin baik pula barang yang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Inilah yang telah dihasilkan dan terus dihasilkan oleh kapitalisme, sebuah sistem keuntungan yang sering dicaci. Kendati demikian, hampir semua pemerintah dan partai politik dewasa ini sangat bersemangat untuk menghancurkan system ini.

Mengapa kapitalisme begitu dihujat? Mengapa mereka, seraya menikmati limpahan kesejahteraan berkat kapitalisme, merindukan keindahan “tempo doeloe” dan kondisi-kondisi buruk semacam yang dialami para buruh di Indonesia saat ini?

Source : Ludwig von Mises

Saturday, 28 March 2015

Indonesia bagai surga yang hilang bidadarinya



Indonesia bagai surga yang hilang bidadarinya


Ilustrasi

Indonesia memang terkenal dengan negara yang ramah, santun jika dilihat dari system sosialnya, negara yang agraris jika dilihat dari kesuburan tanahnya. Sistem kerja gotong royong di Indonesia mengindikasi hubungan sosial masyarakat yang harmonis. Indonesia negara yang subur, apa saja bisa tumbuh di Indonesia. Seperti lirik lagu coesploes negara ini bagai kolam susu.

Wacana tersebut sudah hilang setelah bertahun tahun kita hanya membacanya, menurut ki titut salah satu budayawan banyumas menuturkan bahwa Indonesia adalah sorga yang hilang bidadarinya, tidak ada kebahagiaan. Segala diukur dengan uang. Hal hal yang bersifat kemanusian mulai luntur.

Orang orang yang bercocok tanam sudah jarang. Ibarat mencari orang yang mau kerja di sawah sangat sulit, harus mendatangkan orang dari daerah lain untuk kerja disawah untuk menanam. Padahal negara ini subur, sayang petani kita bukan petani yang memiliki lahan. Petina kita hanyalah buruh tani.

Tidak hanya itu, tanaman tanaman yang dulu bisa kita ambil seperti daun singkong saja tidak banyak. Hanya beberapa segelintir orang yang menanamnya. Walau progam progam pemanfaatan lahan kosong digalakan melalui ibu ibu PKK, tapi muspra hasilnya. Sebab, banyak lubang di saluran dana menuju ke desa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyataan diatas adalah berubahnya sistem sosial dan ekonomi seperti yang dituturkan oleh agus (16/03) bahwa saat ini apa apa perlu biaya besar, karena beralihnya hubungan kemanusiaan yang bersifat kasih sayang ke sistem transaksional.

Lebih dari itu, hilangnya tokoh tokoh masyarakat yang mengedepankan prinsip ekonomi gratis atau freenomics, tidak membebani masyarakat membuat masyarakat tidak harmonis dan terombang ambing. Sehingga mudah terpengaruh pada kebiasaan kebiasaan buruk yang terpaksa menjadi budaya.

Tokoh masyarakat dalam membangun sistem sosial dimasyarakatnya menggunakan prinsip freenomics untuk menciptakan keadaan sistem sosial yang harmonis. Dari keadaan yang harmonis itu kegiatan yang bersifat kemanusiaan seperti gotong royong, kerigan, sistem kondangan muncul ditengah masyarakat.

Sayangnya, gotong royong dan kerigan mulai luntur dengan sistem sosial ekonomi dimana masyarakat teguh memakai prinsip ekonomi, dengan pengeluaran seminimal mungkin mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam artian lain, kondisi masyarakat sudah tidak harmonis dan takut tidak memiliki hal yang dapat diukur dengan uang.

Oleh karena itu, sudah menjadi fardu bagi kita yang tau, paham dan berpotensi untuk mengubah system social yang harmonis kembali. Tidak menjadi masyarakat yang kuno diera modern. Sebisanya, kita menjalankan fungsi agen of change dari posisis kita sebagai mahasiswa.

Thursday, 26 March 2015

Cara menghindari Bid’ah



Cara menghindari Bid’ah

Oleh Ludbizar, 22 februari 2015

Bid'ah adalah pembaruan ajaran islam tanpa berpedoman Al qu'an dan hadist. Bid’ah juga berarti perbuatan yg dikerjakan tidak menurut contoh yg sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Dalam artian kasar, bid’ah mempunyai arti kebohongan dan kedustaan. Tetapi, banyak muslim menghindari bid'ah begitu saja. Jadi, mereka menganggap ilmu dan teknologi sebagai bid'ah dan hal yang bersifat meragukan sebagai bid'ah. Padahal yang dimaksud dalam banyak ayat alquran dan hadist, umat islam dituntut mencari ilmu, tidak hanya beriman. iman tanpa ilmu itu bisu. Terkesan konservatif dan animisme. Hanya percaya dan percaya. Mudah terprovokasi, agamis dan fanatic. Makanya banyak timbul golongan baru di agama islam yang mengungkapkan kebenarannya masing masing.

Marilah tengok beberapa ayat cara mengindari bid'ah yg benar :

Hadits “Kewajiban Mencari Ilmu”
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Hadits “Keutamaan Mencari Ilmu”
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi).

Dalam hadist ini dijelaskan orang yang keluar, keluar kemana? Salah satunya mempelajari bid’ah. Walaupun kadang dikucilkan dan dibuang karena pernyataannya paradoks atau berbicara diluar kebiasaan. Tetapi Tuhan pasti menuntunnya hingga dia selesai mempelajarinya. Itu pasti ! karena dia beriman.

Hadits “Kewajiban dan Keutamaan Menuntut Ilmu”
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا الْجَنَّةِ
Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Dari beberapa ayat diatas, sudah sangat jelas ! cara menghindari bid’ah adalah menuntut ilmu atau belajar.
Kita memang dituntut untuk  serius, tetapi legalah hati dan pikiran jika menuntut ilmu dan berpedoman pada alqur’an dan hadist.
Berselancar di media informasi memang banyak sekali orang orang yang dianggap menentang kitab alqur’an dengan logika pikiran, ilmu yang dia dapatkan selama hidup. Salah satu yang ditentang adalah bid’ah, kebenaran agama dan hal yang meragukan. Mereka bertahun tahun mempelajari apa yang ada pada alqu’an, apa itu islam. Padahal muslim tau siapa yang dianggap menentang. Mereka adalah orang orang atheis dan tokoh agama lain. Apa hasilnya? Mereka mendapatkan hidayahnya, kebenaran sejati, yaitu kebenaran Tuhan(Alloh SWT) dan kitabnya. Sesungguhnya mereka tidak menentang tetapi mereka sedang  menuntut ilmu. Allohu Akbar, apakah kamu muslim hanya diam saja? Melihat orang lain diberi hidayahnya dari Tuhan?

Mari menuju masyarakat madani !
Tulisan ini ditulis oleh saya sendiri. Jika ada kalimat yang mengundang rasa benci mohon dimaafkan. Muslim yang baik selalu terbuka dan tidak anti kritik dan anti theis. Semoga bermanfaat.