![]() |
| Ilustrasi: orang papua merenung keadaan di Indonesia |
Sangat disayangkan, insiden di Tolikara, Papua berbau konflik agama. Mungkin bukan pertama kali. Peristiwa serupa sudah terjadi sebelumnya. Papua dibombardir oleh isu yang mengarah konflik di Papua menjadi horizontal dengan isu keagamaan. Apapun yang berkaitan dengan agama itu sensitif, karena manusia sekarang kecenderungan hanya memiliki fanatisme agamis, kurang memiliki esensi beragama yang mengajarkan kebaikan.
Beberapa kali pun insiden serupa terjadi, namun karena kerukunan dan kecintaan hidup bersama orang Papua dengan warga lain yang berbeda, baik agama maupun suku bangsa, Papua masih ada untuk Indonesia, untuk kita. Itulah nilai yang dimiliki oleh masyarakat Papua.
Informasi insiden Tolikara "Masjid dibakar ketika sholat id" yang menyebar begitu cepat, bagai wabah penyakit zoonosis. Media berlomba menyebar informasi dengan narasumber sangat terbatas, membuat dan membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua. Apalagi asumsi netizen ampuh mempengaruhi masyarakat, bobrok !
Informasi insiden Tolikara "Masjid dibakar ketika sholat id" yang menyebar begitu cepat, bagai wabah penyakit zoonosis. Media berlomba menyebar informasi dengan narasumber sangat terbatas, membuat dan membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua. Apalagi asumsi netizen ampuh mempengaruhi masyarakat, bobrok !
Asumsi masyarakat pada media yang terlalu kuat, membuat fakta dan opini yang bergulir pating timbrung. Mintailah masyarakat, pimpinan agama, wakil-wakil masyarakat adat, untuk mengambil peran maksimal, menenangkan warga dan memberi penjelasan khususnya kepada media-media arus besar nasional terkait dengan fakta peristiwa yang sangat kita harapkan tidak menyulut konflik lebih luas. Ini menyangkut kemanusiaan.
Hal lain lagi yang kurang diperhatikan adalah hubungan aparat dengan konflik yang terus terusan dengan kekerasan. Bukan dialogis, apalagi arahan. Mungkin ini kelalaian aparat aparat hukum yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Tangani manusia dengan manusiawi, mungkin lebih baik.
Hal lain lagi yang kurang diperhatikan adalah hubungan aparat dengan konflik yang terus terusan dengan kekerasan. Bukan dialogis, apalagi arahan. Mungkin ini kelalaian aparat aparat hukum yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Tangani manusia dengan manusiawi, mungkin lebih baik.
Untuk pemerintah, ambilah langkah langkah preventif agar isu dapat dicegah dengan fakta. Sebagai ulasan mengenai menyebarnya surat Edaran dari Gereja Injil di Indonesia (GIDI) di media sosial secara sistematis dan cepat. fakta keanehan dari surat menggunakan Kop Surat/logo GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) pada tanggal 11 Juli 2015 yang ditujukan kepada Umat Muslim Se Kabupaten Tolikara.
Surat itu ditembuskan kepada DPRD Tolikara, Bupati Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, semestinya dapat segera di atasi dari awal. Kok bisa? Ya itulah sisi buruk pihak pemerintah dan kepolisian tidak melakukan upaya preventif (pencegahan dini) sehingga isu cepat mewabah tanpa dasar yang jelas.
Mungkin akses sulit ke TKP membuat awak media memilih beropini daripada mencari fakta, nyatanya dokumen kejadian sama, contoh foto dan kutipan tokoh atau pihak terkait. Sebuah surat yang mengatasnamakan organisasi agama tertentu di Papua belum terklarifikasi keaslian sumbernya.
Semoga peristiwa ini menjadi catatan untuk tidak lagi beropini dan berasumsi negatif tentang papua, pergeseran ke isu agama.
Semoga peristiwa ini menjadi catatan untuk tidak lagi beropini dan berasumsi negatif tentang papua, pergeseran ke isu agama.
Untuk Papua, Papua kita
Kami turut beruda mendalam bagi mereka yang menjadi korban.
Kami turut beruda mendalam bagi mereka yang menjadi korban.
Riview Papuaitukita.net

0 komentar:
Post a Comment