Showing posts with label Catatan Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Catatan Pribadi. Show all posts

Monday, 4 July 2016

Dialog Teras Rumah - Si Polan bawa nyawa dalam amplop

Juguran di teras rumah lebih membudaya dari pada juguran di masjid sambil mengulas habis kitab suci. Setiap malam warga baik bapak atau ibu ibu selalu berdialog di teras rumah membahas persoalan HOT di linkungan. Kata mereka, inilah salah satu komunikasi sosial yang paling tepat dalam mempererat persaudaraan di kampung, selain gotong royong. Adanya dialog sehat tiap malam menjadi pandangan tersendiri masyarakat terhadap masalah yang ada daripada menonton TV, karena esensinya sama membahas masalah yang lagi rama saat ini. Kita juga punya pendapat, timpalnya (Warga-red).

Suatu malam yang seperti biasa, beberapa warga mulai kumpul setelah melaksanakan 23 rakaat dengan cepat, lainnya terus berdatangan. Mereka mulai membahas apa saja yang sudah dilakukan dan dirasa itu perlu diungkapkan. Warga bergantian mengeluarkan ungkapan hingga tiba saat titik temu topik yang cocok untuk dibahas oleh warga yang duduk diteras rumah. Setiap malam seperti itu, meski hujan, mereka tetap dialog.

Suatu kejadian ada si tuan polan bawa keranda kosong

Malam malam lain sudah terjadi seperti biasa, tetap malam lalu ada dialog menarik ketika polan datang dengan tugas membawa keranda kosong untuk menjemput nyawa. Ya, sebuah amplop putih berisi daftar nama manusia yang sudah meninggal, mereka akan didoakan dengan syarat rupiah seikhlasnya. Hal itu sudah biasa terjadi ketika ada acara besar keagamaan.

Polan datang sedikit malu karena beberapa orang langsung menatapnya, nampaknya polan adalah utusan pertama dari atasannya. 

"Maaf, pak, bu, saya mau membagikan khaul " ucapan polan sebagai sambutan kepada beberaoa warga yang sedang asyik berdialog.

Salah satu warga menjawab dengan ramah "Ya sini, duduk dulu, dari mana dan untuk apa?"

"saya diutus dari ponpes .... untuk acara menyambut hari raya" jawab polan lugu sambil menyerahkan amplop putih berisi daftar nama

"Ini diisi sekarang atau kamu mau ambil lagi besok?"

"Sekarang boleh, besok juga boleh"

"Oh, iya, kalau saya sekarang aja gimana tapi saya ga bawa uang?" salah satu warga nampaknya menguji si polan yang baru pertama kali

Si polan bingung, mau jawab apa, karena pesan sang guru agar setidaknya bisa sambil mengumpulkan dana untuk kegiatan lain.

Polan tahu, mereka sedang menguji keikhlasan dirinya, dia mengangguk sambil memberi pena yang dipegangnya.

Warga yang sedang mengisi daftra nama itu sambil bicara " Nanti siapa yang mau doain?"

"Pak kyai dan jajarannya, pak" jawab polan

"Mas, saya besok aja ya, saya ga bawa uang cukup untuk mengisi amplop" sahut warga lainnya.

"Iya ga papa pak, saya datang lagi" jawab polan sambil menengok ke arah warga yang menyahut tadi

Polan mengambil amplop yang sudah terisi nama nama mayat yang akan didoakan. Lalu polan beranjak, dan pamit. Namun warga yang mengisi daftar nama tiba tiba memegang pundak polan.

"Mas, ini uangnya, tetapi ini uang untukmu, bukan untuk nyawa yang sudah saya tulis"

Polan bingung lagi, sambil geleng geleng kepala, dia tidak mau. Dia seperti ketakutan akan hal tersebut. 

Lalu orang tiu menjelasnkan, "ini uang untukmu, saya sedekah kepada anda sebagai rasa terima kasih, trima saja,"

"Kalau saya ngisi uang dalam amplop, walau saya ikhlas, tetapi saya tidak meminta doa yang berbayar, tidak mau"

"kalau sodakoh, saya rasa boleh boleh saja tidak aturannya seperti zakat dll"

Akhirnya dia menerima dan berterima kasih, dan pulang ke rumah guru.

Itulah seceblek kejadian kemarin sore. Jangan tanggapi dengan hal macam macam. Ini sebuah bahasan yang jelas untuk melakukan metode yang lebih baik lagi.

Tuesday, 9 February 2016

L-G-B-T Juga Makhluk Ciptaan Tuhan, Sikapilah.

Semua orang tidak mau direndahkan, dikucilkan dan diberi hukuman yang timpang tak terkecuali LGBT, Lesbi Gay, Biseksual dan Transgender. Apalagi orang normal pada umumnya? Coba anda katakan 'ASU' pada kawan anda, atau sebaliknya. Atau yang lebih ringan saja, KETEK! apa reaksi anda? Tidak perlu dijelaskan bagaimana perasaan dan tindakan yang akan anda lakukan.


Menyangkut hal kemanusiaan memang tidak mudah untuk disamakan, karena manusia memiliki dogma yang beragam. Ada yang melarang, ada yang tidak dan ada pula yang acuh. Hal yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Tuhan menciptakan kaum seperti itu? kenapa?

Jika kita pernah menghayati surat Al baqarah 30, anda pasti memahami sampai saat ini. Kenapa Tuhan menurunkan manusia ke bumi? padahal ada malaikat yang selalu bertasbih. Sikapilah..

4:57 Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

4:124 Barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
 
4:173 Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shaleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.

Amalnya, bukan kebenaran dan kesempurnaan kita yang akan diterima disisi Tuhan. Jadi sikapilah, jika anda masih mengaku manusia yang memiliki rasa kemanusiaan. Walaupun Tuhan telah menurunkan firman mengenai kejadian ini di beberapa ayat Adz Dzaariyat, Al Ankabuut, Al Hijr, Asy syu'araa, huud, al Qamar dan lainnya.

Dalam surat itu, menjelaskan bahwa kaum LGBT adalah kaum yang melakukan perbuatan keji dan pasti kena azab dari Tuhan. Sama halnya jika kita memperlakukan mereka dengan keji, kita juga merasakan azab Tuhan. Sikapi!

Tuhan telah menyempurnakan manusia dengan akal pikiran rasa adalah untuk menghadapi masalah sedemikian rupa agar kelak sesama manusia bisa menjadi khalifah dibumi ini.

Thursday, 28 January 2016

Pengadilan Jalanan

Gue mah mau crita bukan tentang  agama. Bukan. Gue mau bicara tentang Hak azazi manusia, HAM. Lu tau kan Gafatar ? Kalo lu sering baca berita pasti taulah. Gue mau ngbahas GAFATAR yang katanya di "cap" sesat oleh hampir seluruh umat agama yang bersangkutan. Bahkan ame sopir agama aja ikut ikutan. Biar jelas! 


GAFATAR kepanjangan Gerakan Fajar Nusantara terdiri atas beragam latar belakang pendidikan, umur, pekerjaan dan suku. GAFATAR cukup pesat dalam mencari pentolan dan pengikutnya. Bisa dibilang tidak sedikit orang yang berkumpul di GAFATAR. Dalam kasus beberapa waktu lalu, Kelompok ini mendapat pengusiran paksa sama masyarakat dan petugas setempat. Bukan hanya diusir, harta benda mereka juga dibakar ludes. Sisanya hanya abu, tetapi bukan abu rijal bahri yang suka pakai baju kuning.

Banyak kerugian yang dialami anggota GAFATAR baik itu materi maupun non materi, yang jelas adalah trauma berkepanjangan dan kebencian pada sesama manusia, terutama manusia yang melakukan tindakan tersebut dan umat yang melabeli dengan aliran sesat. Hal ini menjadi targedi beulang ulang dimana 'pengadil jalanan' akan selalu cepat bergerak daripada pengadil sesungguhnya. Kasian memang, bukannya membela, tetapi gue juga manusia yang punya rasa kemanusiaan. 

Gue si bukan ustad, bukan pula orang yang punya dengkul bersih tentang spiritual. Hampir semua manusia percaya bahwa Tuhan memandang karena kebaikan kita. Lantas kenapa si pengadil jalanan tega semena mena sama manusia? Yang tidak lain adalah sesama makhluk sederajat Ciptaan Tuhan. Entah lu setuju atau ngga. Itu urusan lo pada. 

Kalau soal hidup di Indonesia pastinya lu berjanji mengikuti ayat ayat konstitusi bahwa indonesia dengan beragam suku, agama dan ras. Kalau soal agama bolehlah menjunjung ayat ayat suci. Lantas, nyatanya elu pada menjadi rasis begitu soal agama. heran. Untung yang minor minor memahami tindakan yang mayoritas. Kalau tidak? 

Itu salah satu contoh broboknya hukum di Indonesia. Banyak contoh kasus hukum yang ditawar dan bahkan di kangkangi begitu saja. Pokoknya banyak deh. Gue si cuma bisa mengharap pengadilan esungguhnya di Indonesia menjadi yang pengadilan yang cepat bergerak. Gue juga ga mau ngbahas lebih dalam tentang keadilan, karena bang iwan fals pernah bilang "Jangan bicara tentang keadilan, sebab keadilan bukan untuj diperdebatkan". Ujung ujungnya Tuan yang banyak uang yang menang.

Wednesday, 14 October 2015

Katanya Kita adalah Dajjal

Dunia ini masih dipenuhi manusia yang sedang membabi buta dengan segala jurus andalan untuk menaklukan satu sama lain. Orang islam bilang kiamat sudah dekat, salah satu tanda kiamat ada manusia bermata satu yang mengaku Tuhan. Katanya, punya segalanya bak Allah SWT (Tuhan Islam).

Dajjal-islam-milenium.blogspot.com
Rumangsa manusia memiliki akal sehat, rasa dan karya sudah sepantasnya lebih bagus dari dajal. Lho kenapa? Pikirlah sendiri dengan akal sehat, rasakan dengan jiwa yang tenang dan bertindaklah layaknya manusia. Ojo koyo celeng(babi hutan) nek wis mlayu angel belok.

Kita, manusia punya mata lebih banyak. Dua mata yang seimbang, ora dendek duwur, nganti ana mata hati, mata kaki lan mata iwaken. Dibanding dajal, rupanya saja tidak jelas, matanya cuma satu. Mereka (muslim) pada ketakutan jika melihat mata satu. Mata satu itu orang cacat yang harus dikasihani. Mari mengkaji ulang dengan pemberian karunia Tuhan yang tak habis habis, mikir !

Lalu siapakah dajal? Tidak seorang pun tahu katanya, tetapi muslim menunjuk saudaranya kafir, mengatakan syiah itu pengikut dajjal. Lho katanya yang mengatakan kafir ke orang lain, maka orang itu kafir juga. Dajjal dong? ora bisa ndelok karo mata normal, siji tok !

 Dajjal adalah seorang tokoh dalam eskatologi Islam yang akan muncul menjelang kiamat. Ya begitu, mungkin saja saya, kau dan mereka dajjal, dan kalian pengikutnya. Salah seorang yang akan menjadi tokoh bermata satu dunia yang tidak memandang kebenaran, kesadaran dan keikhlasan.

Kita biarkan kemunafikan, kesombongan membumbung dada kita. Kita buang jauh jauh kebenaran, mengucilkan mereka yang benar benar menjadi manusia. Kita bela kelicikan, kedengkian sebagai karakter abadi dalam diri kita.

Lalu mengapa merasa dipihak benar, padahal salah, lalu mengapa kita merasa dipihak yang baik, padahal kita buruk. Sama saja kita bermata satu, DAJJAL !!!

Friday, 11 September 2015

NASEHAT Bagai mendaki gunung datar

Gunung Meja Venezuela/ sumber: sidomi.com
Inilah lelucon jika manusia terlalu berperasa atau dalam bahasa wong ora genah 'baper-an'. Lagi lagi, saya dihadapi dengan manusia yang meminta selembar coretan, katanya lagi kesusahan, banyak beban. Mungkin saya beruntung, saya dianggap lebih baik, namun sayalah seburuk buruknya manusia saat ini.

Pikirku, sebagus bagusnya manusia adalah mereka yang indah dalam berbudi akal, menggunakan akal pikirnya, lalu tak lupa mereka menghaluskan akal pikirnya dengan perasaan. Bukan masalah agama mereka apa, tetapi bagaimana mempunyai nilai nilai kehidupan, nilai kemanusiaan yang selalu diwujudkan dalam kehidupan sehari hari.

Pikirku lagi, Seberat beratnya berpikir itu adalah jalan, seringan ringannya perasaan adalah beban. Jika sudah terlalu berat, jalannya adalah sebuah kelegaan rohani . Ya, itulah yang selama ini saya jalani, jika kalian meminta saranku, silakan ambil baiknya saja.

Setiap makhluk punya iman dan mengimani satu Tuhan. Ada cara cara beriman dan beradab (agama). Iman itu sebagai industri nasehat, agar industri nasehatmu tetap utuh, tentu butuh biaya, apa itu ? Ikhlas. Iman yang diikhlaskan pada suatu zat yang tunggal (Tuhan). Inilah kelegaan

Jika ada seseorang yang meminta nasihat darimu, kuatkan imannya, ikhlaskan imannya. Kemudian dia akan sehat imannya dan mulai berpikir bagaimana perasaannya terjaga. Mungkin hanya itu, nasehat yang saya bisa berikan pada seseorang yang telah membantuku dikala saya sakit sebulan lalu.

Berat rasa, berat pikir mari kita ikhlaskan, yakini itulah kelegaan. Ini tak seberat mendaki gunung yang datar.

Saturday, 25 July 2015

Tulisan itu sampah

Ruang hampa, luas dan tak berbatas adalah ruang yang nyaman untuk menulis. Ini teori terbalik dari ilmu kepenulisan dan asumsi penulis-penulis pemula. Apabila kita balik dan ubah sedikit kalimat itu maka akan menjadi "Menulis adalah ruang hampa, luas dan tak berbatas" itulah esensi menulis.

Bagaimana? jika kalian susah menulis, maknailah kalimat diatas. Tidak lama kemudian kalian akan segera menulis dengan mudah. Sekalipun masih berantakan, anggap saja tulisanmu itu sampah ! sampah yang akan terus kalian buat setiap hari.

Seorang yang pandai menulis akan mempunyai ruangan luas, tenang, bebas dan tak berbatas walau ditempat yang sempit, ramai, dan berdesakan. Apakah selama ini kalian belum merasakan keadaan ini? belajarlah lagi menulis sampah.

Kok menulis sampah? menulis sama seperti mengeluarkan kotoran dari tubuh. Memberi kelegaan sendiri pada tubuh. Renungi saja, siapa membuang kotoran akan merasa lega. Siapa orang yang berhasil menulis itu lega.

Semakin lancar membuang kotoran tubuh, sehatlah badan anda. Semakin anda menulis, semakin sehat tulisan anda. Sampah sampah yang akan berlimpah sama (tulisan tulisan yang berlimpah) adalah anugerah.

Bagaimana cara mengeluarkan kotoran, kita makan dulu. Bagaimana cara memulai menulis, baca dulu. Tulislah apa yang menjadi sampah dipikiranmu, ASU, BANGSAT, TAEK, Boleh boleh saja. Sastra tidak mengenal kejelekan, tulisan adalah  pesan. sekian dan terima kasih


Informasi penting !
  1. Bagi kalian sudah mengirim naskah puisi bersama wadahcerpen, terima kasih banyak atas partisipasinya.
  2. Pemenang adalah peserta yang naskahnya sudah dinominasikan (Silakan menghubungi saya selaku pj event di 083893833037 atau di 7e729f55 (pin bb) sampai tanggal 10 agustus)
  3. Bagi yang ingin bertanya mengenai lomba juga silakan, saya terbuka bagi siapapun.

Saturday, 18 July 2015

Untuk Papua, Papua Kita

Ilustrasi: orang papua merenung keadaan di Indonesia

Sangat disayangkan, insiden di Tolikara, Papua berbau konflik agama. Mungkin bukan pertama kali. Peristiwa serupa sudah terjadi sebelumnya. Papua dibombardir oleh isu yang mengarah konflik di Papua menjadi horizontal dengan isu keagamaan. Apapun yang berkaitan dengan agama itu sensitif, karena manusia sekarang kecenderungan hanya memiliki fanatisme agamis, kurang memiliki esensi beragama yang mengajarkan kebaikan.

Beberapa kali pun insiden serupa terjadi, namun karena kerukunan dan kecintaan hidup bersama orang Papua dengan warga lain yang berbeda, baik agama maupun suku bangsa, Papua masih ada untuk Indonesia, untuk kita. Itulah nilai yang dimiliki oleh masyarakat Papua.

Informasi insiden Tolikara "Masjid dibakar ketika sholat id" yang menyebar begitu cepat, bagai wabah penyakit zoonosis. Media berlomba menyebar informasi dengan narasumber sangat terbatas, membuat dan membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua. Apalagi asumsi netizen ampuh mempengaruhi masyarakat, bobrok !

Asumsi masyarakat pada media yang terlalu kuat, membuat fakta dan opini yang bergulir pating timbrung. Mintailah masyarakat, pimpinan agama, wakil-wakil masyarakat adat, untuk mengambil peran maksimal, menenangkan warga dan memberi penjelasan khususnya kepada media-media arus besar nasional terkait dengan fakta peristiwa yang sangat kita harapkan tidak menyulut konflik lebih luas. Ini menyangkut kemanusiaan.

Hal lain lagi yang kurang diperhatikan adalah hubungan aparat dengan konflik yang terus terusan dengan kekerasan. Bukan dialogis, apalagi arahan. Mungkin ini kelalaian aparat aparat hukum yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Tangani manusia dengan manusiawi, mungkin lebih baik.

Untuk pemerintah, ambilah langkah langkah preventif agar isu dapat dicegah dengan fakta. Sebagai ulasan mengenai  menyebarnya surat Edaran dari Gereja Injil di Indonesia (GIDI) di media sosial secara sistematis dan cepat. fakta keanehan dari  surat menggunakan Kop Surat/logo GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) pada tanggal 11 Juli 2015 yang ditujukan kepada Umat Muslim Se Kabupaten Tolikara.

Surat itu ditembuskan kepada DPRD Tolikara, Bupati Kabupaten Tolikara, Polres Tolikara, semestinya dapat segera di atasi dari awal. Kok bisa? Ya itulah sisi buruk pihak pemerintah dan kepolisian tidak melakukan upaya preventif (pencegahan dini) sehingga isu cepat mewabah tanpa dasar yang jelas.

Mungkin akses sulit ke TKP membuat awak media memilih beropini daripada mencari fakta, nyatanya dokumen kejadian sama, contoh foto dan kutipan tokoh atau pihak terkait. Sebuah surat yang mengatasnamakan organisasi agama tertentu di Papua belum terklarifikasi keaslian sumbernya.
Semoga peristiwa ini menjadi catatan untuk tidak lagi beropini dan berasumsi negatif tentang papua, pergeseran ke isu agama.
Untuk Papua, Papua kita
Kami turut beruda mendalam bagi mereka yang menjadi korban.

Riview Papuaitukita.net

Thursday, 16 July 2015

Masalah manusia Indonesia

sahabat lpm sketsa/ supri dan fatur
Saya seorang mahasiswa kudet (kurang update) dari salah satu universitas di kota satria, Purwokerto. Tidak lebih dari mahasiswa kupu kupu dan tidak pernah memikirkan nilai bagus, pacar dan profesi yang bertahta. Saya mungkin lagi beruntung bisa kuliah karena Negara ini benar benar memberikan keadilan, imposible. Progam pendidikan kepada golongan paria yang sedikit bersih dengkulnya ini memberikan saya banyak peluang untuk belajar di ranah pendidikan tinggi. Benar benar berkat kuliah saya membuka ‘mata’, mengupas tebelnya sifat apatis terhadap lingkungan.

Kali ini saya mau sedikit menuntaskan kebahangan otak saya setelah kedua mata mulai terbuka. Ya, berawal dari pemilu presiden tahun 2014, saya tertarik dengan wacana revolusi mental dari capres no. 2 yang kini lagi menahkodai Negara Maritim, eloknya. Huforia public dengan adanya revolusi mental membangkitkan kaum kecil semakin percaya diri menghadirkan pemimpin yang kurasa tegas saat itu. Jelasnya, kita rasakan saat ini. Bagaimana regulasi dan taktik yang diterapkan atau hanya retorika untuk memungut suara secara cuma cuma.

Sebuah Hopeless atau lebih trend-nya PHP, seorang pemimpin menyandang gelar a new hope tidak reliable dengan tuturnya. Namun, bukan tidak mungkin negara ini jadi negara adi daya, minimal ASEAN untuk segala aspeknya. Jika retorika itu berakhir pada pengimplementasian yang didukung rakyat sepenuhnya. Lagi, sebelum rakyat menyublimkan kepercayaan kepada mantan gubernur DKI Jakarta yang belum cuci tangan dari jabatannya.

Hubungan kemanusiaan

Pemimpin bukan semena mena menjadi peracik adonan dasar pengembangan negara ini dan wakil rakyat (wakil rakyat yang punya jabatan) tidak berhak mempunyai hak rakyat. Sungguh, keadaan ini tumpang tidih. Ketika rakyat menganggap pemimpin tidak bejus dan pemimpin menganggap rakyat itu bodoh. Inilah yang terjadi dinegara ini, hubungan kemanusiaan yang luntur.

Hubungan kemanusiaan yang menganut unsur unsur kedekatan manusia dengan manusia, bukan manusia dengan materi dan alat ukurnya merupakan salah satu kunci membongkar masalah-masalah kemanusiaan. Tidak perlu contoh masalahnya apa. Simak saja dimedia informasi, kita akan langsung menemukan informasi tentang konflik manusia dengan manusia yang sifatnya monoton, bahkan menjadi headline.

Sementara penegak hukum yang katanya bisa membantu malah ikut ikutan terlibat masalahnya. Arep kepriwe maning lur? Orang kita juga lupa sama peribahasa yang sangat sederhana ini “Tak kenal, maka tak sayang”. Simpel lagi, kita hapal kan sila ke 2 kemanusiaan yang beradab? Salah satu ciri kemanusiaan yang beradab adalah hubungan kemanusiaan yang harmonis.

Hubungan kemanusiaan yang harmonis tentunya menimbulkan kegiatan kegiatan social yang baik seperti gotong royong, forum musyawarah, kerja bakti yang tidak sama sekali membebani rakyat. Sayang, kita tidak memikirkan itu, kita hanya memikirkan apa yang akan kita ukur. Seperti hidup dijaman kuno yang baru, berburu dan meramu.

Dari paragraph sebelumnya, seyogyanya kita paham. Masalah kemanusiaan diperbaiki dengan unsur kemanusiaan dan selesaikan dengan jalan kemanusiaan. Hukum ada karena adanya manusia dengan manusia saling menghargai dan mengerti apa yang seharusnya tidak dilakukan dan dilakukan. Percuma jika penegak hukum tidak mempunyai hubungan kemanusiaan baik dengan rakyat. Hukum juga milik rakyat.

Kembali pada bahasan yang lebih luas, sistem hubungan kemanusiaan jika diterapkan dalam aspek lebih luas memang ngambang seperti ditingkat bangsa. Namun, bukan ngambang karena tidak jelas, tetapi perlu hubungan kemanusiaan yang struktur dan massif. Dalam contoh lain, kita harus punya struktur yang bersifat kemanusiaan lagi seperti dulu.

Apa itu struktur yang bersifat hubungan kemanusiaan? Struktur yang dipakai manusia dalam membentuk kelompoknya, membentuk kelompok dari kelompok kelompok yang ada. Memang, struktur itu sudah ada, tapi hilangnya sebuah hubungan kemanusiaan yang tergantikan system social ekonomi. Kalau kita baca buku sejarah Indonesia, pasti ada sumpah pemuda. Betapa pemuda masa lalu sudah paham, mereka perlu mengakui tanah air, bahasa, dan bangsa Indonesia.
Bersambung...

Sunday, 7 June 2015

Diskriminasi dalam dompet


Sore ini hujan memaksa tetanggaku mengankat jemuran, kayu bakar yang hampir kering dan sisa nasi kemarin dengan tergesa gesa. Mereka bagai mainan yang dikontrol oleh remot, mereka serentak bergerak dari dalam rumah mengambil apa yang sedang dijemur. Itulah remot, remot alam yang akan menyusahkan ketika kita tidak mengenal lingkungan.

Di atas tanah yang mulai becek, ada sedikit yang menarik. Selembar daun tetean, mainan anak dulu yang dijadikan uang mainan. Daun itu sudah basah dan kotor yang akan terbawa air hujan. Air hujan adalah perubahan dan kau daun adalah hal yang akan selalu terbawa dalam perubahan.

Hujan, apakah engkau pernah berpikir berhenti menjatuhkan air dari atas? Manusia sudah tidak sama ketika mengharapakanmu sebagai anugrah. Kini kau penyebab bencana. Berbeda ketika ayah dan ibu belum melarang bermain denganmu di sawah kering kala kau turun pertama kali.

Ini rinduku, Hujan. Bak lelaki yang merindukan kekasihnya di malam minggu. Aku kini kesepian mengharapkan hujan sebagai teman bermain. Sulit bagiku untuk memetik daun sebagai mahkota. Bercumbu dengan tanah, sungai dan tentu denganmu, Hujan.

Mungkin ini lamunan masa kecil dan masa kini yang jauh berbeda. Tidak ada bising motor, tidak ada bising pabrik dan tidak ada bising media politik. Hanya ada kicau burung dan riangnya anak, suara air mengalir dan suara semangat gotong royong.

Alamku yang terdiskriminasi oleh aku sendiri. Tidak disadari akulah pelakunya. Ketika aku mulai senang membeli mainan plastik dari orang sitip. Ketika uang jadi alat serba guna menunaikan ibadah. Gopoh tubuh ini, ketika mendengar temanku bangga membeli roda besi, wungkal berbaterei dan kain bule.

Maafkan aku alam, aku tidak mencintaimu.  Sungguh kejam, tempat yang kutempati sudah dimiliki oleh orang lain. Kini hanya ada sejarah tertulis rapi tiada bukti dilembaran buku yang ditulis oleh para pemenang perang. Tempatku hilang....

Ludbizar, 6 juni 2015

Tuesday, 7 April 2015

Desakan ke arah Perbaikan Ekonomi

Di bawah kapitalisme, Aku sebagai orang biasa menikmati kemudahan kemudahan yang di jaman dungteng tidak dikenal. Kemudahan yang tidak dapat dinikmati oleh penduduk terkaya sekalipun. Tetapi, emm tentu, materi berupa sesuatu yang bisa diukur ora ujug ujug (tiba-tiba) membuat orang menjadi bahagia. Begitu seseorang memperoleh materi tersebut, ia mungkin lebih senang daripada sebelumnya. Sayangnya, begitu sejumlah hasratnya terpuaskan, hasrat-hasrat baru pun akan mencuat ke permukaan, bahkan lebih banyak. Begitulah manusia, kodrat manusia, kodrat aku dan kalian.

Katakanlah sedikit penduduk disekitarku, penduduk Indonesia yang belum menyadari sepenuhnya realita bahwa negara mereka menikmati standar hidup tinggi dan bahwa pandangan hidup rata-rata penduduk tampak luar biasa, sesungguhnya berada di luar jangkauan sebagian besar masyarakat yang hidup di negara-negara non-kapitalistik.

Kebanyakan orang kurang menghargai apa yang mereka miliki dan apa yang dapat mungkin mereka capai, dan malah mendambakan hal-hal yang tidak dapat mereka akses. Sia-sia meratapi hasrat yang tak mungkin terpuaskan untuk mendapatkan barang lain lebih banyak lagi. Tepatnya nafsu akan hal inilah yang mendorong orang untuk memperbaiki ekonomi. Hanya berpuas diri atas apa yang telah dimiliki atau terhada hal yang gampang diperoleh, serta menahan diri secara apatetis dari upaya peningkatan kondisi material bukanlah kebajikan. Sikap demikian justru lebih mirip dengan tingkah laku hewan, ketimbang perilaku manusia yang mampu berpikir.

Ciri paling khas kemanusiaan adalah bahwa ia tidak berhenti berupaya memajukan kesejahteraannya melalui aktivitas-aktivitas yang bertujuan. Namun, usaha semacam itu harus disesuaikan dengan tujuannya. Jerih yang diambil harus sesuai dengan efek yang dituju. Yang salah bagi kebanyakan sejawat kita bukan terletak pada kenyataan bahwa mereka amat mendambakan keberlimpahan persediaan barang, melainkan bahwa mereka memilih cara yang keliru demi mencapai tujuan mereka. Mereka mengikuti ideologi-ideologi palsu.

Mereka memilih kebijakan-kebijakan yang kontradiktif bagi kepentingan vital yang sesungguhnya mereka pahami. Akibat terlalu pandir untuk melihat konsekuensi jangka panjang yang tak terelakkan dari perilaku mereka, mereka hanya mencari kesenangan dalam efek jangka-pendek kebijakan yang ditempuh. Mereka mendukung banyak upaya yang dapat dipastikan akan berakhir sebagai pemiskinan secara umum, disintegrasi kerjasama sosial di bawah prinsip pembagian kerja, dan kembali kepada barbarisme.

Untuk meningkatkan kondisi-kondisi material kemanusiaan, hanya terdapat satu cara: yakni dengan meningkatkan pertumbuhan alokasi kapital (modal) untuk mengimbangi pertumbuhan populasi. Semakin besar volume kapital yang ditanam per kepala pekerja, semakin banyak dan semakin baik pula barang yang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Inilah yang telah dihasilkan dan terus dihasilkan oleh kapitalisme, sebuah sistem keuntungan yang sering dicaci. Kendati demikian, hampir semua pemerintah dan partai politik dewasa ini sangat bersemangat untuk menghancurkan system ini.

Mengapa kapitalisme begitu dihujat? Mengapa mereka, seraya menikmati limpahan kesejahteraan berkat kapitalisme, merindukan keindahan “tempo doeloe” dan kondisi-kondisi buruk semacam yang dialami para buruh di Indonesia saat ini?

Source : Ludwig von Mises

Saturday, 4 April 2015

Kembali

Sudah tengah malam, orang orang penunggu orang sakit tidak segan melepas kantuknya. Alunan sendu karunia Tuhan mengalir merdu ke telingaku. Sang pemberi asi yang terus memuntahkan suara kecemasan, tampak layu raut mukanya. Jelasnya, aku tak bisa menahan hari demi hari di ruang kecil yang berbatas. Gerah, aliran keringat mengalir. Kondisi ini dirundung dika.

Ruang yang semakin sempit dengan tatapanku yang hanya melihat tembok tembok putih. Apalagi, orang orang cengeng yang mendekatiku. Sungguh, aku ingin berdiri dan lari ke halaman belakang rumah. Mendapati sepoinya angin dengan pandangan tanaman padi yang hijau.

Mungkin sebuah banyolan aku melompat dari keadaan ini. Cepat atau lambat pasti bisa melewati keadaan terbatas ini. Berdoa mungkin jadi tindakan mulia, ketika berjanji dan bersumpah menjadi luntur oleh lembeknya jiwa.

Aku tak menganggap besok adalah hari baikku. Setidaknya, aku bisa bersender untuk melihat tegak kedepan, bukan keatas yang selalu nampak putih dan fana. Kemudian bisa mengangguk untuk setiap pertanyaan “kamu tidak apa apa?”

Lebih dari sebuah renungan panjang ketika berbaring lama disini, terlalu lama !!. Aku ingin segera bangkit, aku ingin melolohi hobi hobi kesayanganku.

Ku rasa sudah tepatnya, sang dewi kembali. Membuang hidangan busuk, membersihkan jiwa dan menuntunku ke kamar peristihatan terakhir. Lebihnya, para penyandang baju hitam membawakan ragaku kelubang pertiwi.

Kita kenal kereta jawa yang beroda manusia. Itu kendaraan istinewa dan suci manusia. Aku akan terbujur di kendaraan itu. Kalian pun pasti ingin menaikinya kelak. Walau akhirmu tiada prediksi terhebat yang sanggup menganggukinya.

Kemudian aku hanya bisa melihat dunia yang fana. Kembbali menikmati kehidupan abadi di tumpukan kebaikanku yang ada. Buruknya, jika tumpukan itu tidak terlalu sanggup menahanku. Aku jatuh dalam bara panas dan busuk.

Thursday, 26 March 2015

Judulnya Aku



Judulnya aku
Oleh Ludbizar


Remah gerabah di tubuh pemuda
Tubuh yang membahang di ruang apatis
Celah cahaya menyuat mata
Sebuah jendela yang menata diri

Jangkauan daya guna kaki yang memendek
Malas melangkah, berjalan, apalagi berlari
Hanya menindihkan kepala di peristirahatan
Melupakan arena pertandingan di gedung megah

Melihat jutaan orang berlomba memboyong kuasa
Menjalankan segala hak yang bisa disusun
Sebisa manusia melontakan fardhunya
Dalam ruang sempit belas kasih

Ini dilema, dilema putra buruh
Sebuah kejujuran dalam aksara
Menyanyi tanpa suara lantang
Menari tanpa keelokan

Antara Radikal dan konservatif


Ilmu akan selalu berjalan seiring seberapa anda berpikir. Berpikir menunjukan bahwa manusia itu ada, lantas sudahkah berpikir hari ini? Kemungkinan anda sudah berpikir, karena anda sudah pernah bingung.

Kali ini akan membahas "apa itu radikal dan contoh sikapnya serta sikap konservatif sebagai sifat lawan katanya. Mari kita bahas sama sama, radikal adalah sikap dan tindakan keras dan mendasar (prinsip) terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Radikal mempunyai hubungan erat dengan radikalisasi dan radikalisme.

Radikalisasi berupa proses dari tindakan radikal tersebut dan Radikaslisme adalah paham dari radikalisme. Contoh sikap dan tindakan radikal atau radikalisme bisa anda kutip dari kelompok militan ISIS atau negara islam irak suriah. Sifatnya keras, kaku, dan ingin merubah.

Lho kok kita bawa Antara radikalisme dan konservatisme? tentu aada hubungannya, karena ini sifatnya lawan kata. Konservatifme adalah sifat bertahan atau mempertahankan prinsip secara kuat dan sulit ingin dirubah. Radikalisme dan konserfatisme sama sama dipakai sebagai paham yang diakui suatu kelompok atau pandangan sikap kelompok lain terhadap kelompok lainnya.

Radikal ini digunakan sebagai alasan mereka bergerak. Paham radikalisme yang sekarang muncul dianggap tidak meyakini keyakinannnya seutuhnya,mereka biasanya mengaku pembawa kebenaran. Mereka berpedoman kita suci dan Tuhan yang sama.


Untuk itu perlu dijelaskan mengenai sikap sikap ini agar kelak kalian tidak bingung dan tidak terjerumus dalam kelompok kedua tersebut, karena sama sama mempunyai kekurangan dan dibenci oleh kaum kaum demokrasi dan kelompok maju.

Rata rata kelompok itu membawa kebenaran yang ada pada kebenaran golongan, apa itu paham konservatisme? belum tentu Mengapa mereka (paham radikalisme) berkembang dan menganggap paham konservatisme itu layaknya diperbarui?


Mereka belajar selama ini demi perkembangan keyakinan, belajar memaknai isi setiap ayat. bukan terjemahan. Mereka muncul pun dari sebuah tempat belajar.dengan sanad yang diakui kompeten.
terus apa yang dipelajari dari paham yang sudah ada? apa si? jilboobs?



Memang masalah ini terkait dengan ajaran agama, kalau kita lengah untuk menyisip nyisipkan pengetahuan keppada anak anak muda. Brabeh negri ini. Oleh karenaa itu agar terhindar dari paham ini adalah belajar dengan memahami. Sekian dan terima kasih