Saturday, 4 April 2015

Kembali

Sudah tengah malam, orang orang penunggu orang sakit tidak segan melepas kantuknya. Alunan sendu karunia Tuhan mengalir merdu ke telingaku. Sang pemberi asi yang terus memuntahkan suara kecemasan, tampak layu raut mukanya. Jelasnya, aku tak bisa menahan hari demi hari di ruang kecil yang berbatas. Gerah, aliran keringat mengalir. Kondisi ini dirundung dika.

Ruang yang semakin sempit dengan tatapanku yang hanya melihat tembok tembok putih. Apalagi, orang orang cengeng yang mendekatiku. Sungguh, aku ingin berdiri dan lari ke halaman belakang rumah. Mendapati sepoinya angin dengan pandangan tanaman padi yang hijau.

Mungkin sebuah banyolan aku melompat dari keadaan ini. Cepat atau lambat pasti bisa melewati keadaan terbatas ini. Berdoa mungkin jadi tindakan mulia, ketika berjanji dan bersumpah menjadi luntur oleh lembeknya jiwa.

Aku tak menganggap besok adalah hari baikku. Setidaknya, aku bisa bersender untuk melihat tegak kedepan, bukan keatas yang selalu nampak putih dan fana. Kemudian bisa mengangguk untuk setiap pertanyaan “kamu tidak apa apa?”

Lebih dari sebuah renungan panjang ketika berbaring lama disini, terlalu lama !!. Aku ingin segera bangkit, aku ingin melolohi hobi hobi kesayanganku.

Ku rasa sudah tepatnya, sang dewi kembali. Membuang hidangan busuk, membersihkan jiwa dan menuntunku ke kamar peristihatan terakhir. Lebihnya, para penyandang baju hitam membawakan ragaku kelubang pertiwi.

Kita kenal kereta jawa yang beroda manusia. Itu kendaraan istinewa dan suci manusia. Aku akan terbujur di kendaraan itu. Kalian pun pasti ingin menaikinya kelak. Walau akhirmu tiada prediksi terhebat yang sanggup menganggukinya.

Kemudian aku hanya bisa melihat dunia yang fana. Kembbali menikmati kehidupan abadi di tumpukan kebaikanku yang ada. Buruknya, jika tumpukan itu tidak terlalu sanggup menahanku. Aku jatuh dalam bara panas dan busuk.

0 komentar:

Post a Comment