Sunday, 12 April 2015

Autobiografis

Sepanjang sore pria itu mencoba tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa, nampak lebih keras. Ia tetap menekan tinta dengan kesumukan. Tetapi justru menodong secangkir the hangat. Aneh, ia seakan tidak peduli dengan hawa ini.

Ia mengambil lembaran folio terus menerus dari ia mulai menulis. Folio itu berserakan dengan bekas genggaman kuat. Entah, ia sedang mengalirkan rasanya pada sebuah tulisan atau yang lain. Ia mencoba menelusuri masa nakalnya, karena terlihat sebuah raut wajah penyesalan dan bermonolog “maafkan aku, mama”. tapi hanya coretan tak tampak saling berkaitan yang timbul dalam folio. .

Ia menggeleng, meskipun kenyataan Ibunya dulu adalah orang paling memuakkan di seluruh semesta alam. Ia mengambil mainan kecilnya, dan duduk kembali pada posisi ia menulis. Ia mencoba untuk mengingat ingat. Ia pun berpikir, ”Apa yang membuat ibunya memuakkan?” dan kemudian menuliskan jawabannya.

Tetapi yang muncul di kepalanya hanyalah rupa orang memuakan. Ia menatap kertas, membaca kalimat pertama tulisannya: ”ibu biasanya membawa beberapa buku dan menghabiskan waktu dengan membaca.” Ia mengernyit, merasa membaca buku bukanlah karakter yang memuakkan, ibu.

Ia pun mengganti jawabanya. Ia memikirkan ”shop buatan ibu” dan akan menuliskan apapun respons otaknya terhadap rangsangan kata itu. Ya, kemuakan itu justru semakin homogen.m Ia menghela napas putus asa. Siapapun yang menulis kisah ini, pikirnya, pastilah rancu dan amatiran.

Ia memutuskan untuk berhenti menulis kisah itu. Ia mulai membaca, dan mengambil surat kabar mingguan yang tergeletak di meja. Belum lama, ia langsung melotot pada salah satu rubik surat kabar. Tentu dan apalagi kalau bukan cerpen. Hanya satu cerpen yang tercetak. Ia mulai membaca dengan saksama. “Intravert” itulah judulnya.

Ia terus menatap matanya pada cerpen itu. Gamang, "Apa maksudnya ini semua, pikirnya, ketimpangan dan ketidaksempurnaan ini?” Aku tidak bisa memahami cerpen ini”. Apa gunanya mencipta apabila kau tak mampu mencukupi apa yang ciptaanmu butuhkan? Ia berharap penulisnya paling tidak masih ingat bahwa semua orang memerlukan cinta, semua orang, tidak hanya dirinya.

seseorang telah menuliskan untuknya. Ia berharap ceritanya bukanlah kisah konyol yang diniatkan untuk menjaring pembaca-pembaca putus asa. Ia berharap ceritanya ditulis tanpa melibatkan soda jahat.
 
Berpikir kegilaan ini akan berakhir. apabila tidur cukup. Ia berharap, meski ia telah tahu ini mustahil akan terbangun sebagai manusia biasa keesokan harinya.

Di istirahat, ia teringat ada tugas membuat cerpen tentang pengembangan diri. Ia tak sempat membujur lemas. Ia bergegas menuju meja belajar dan membuat cerpen.

Ia mencoba membayangkan apa yang harus dikembangkan dirinya, ini rupa penulis yang menuliskan cerita yang aneh. Apa ia konyol? Atau aneh? Seperti pikirnya, kalau ia mengembangkna dirinya sebagai orang idiot yang suka menulis tentang keidiotannya.

“aku mustahil bernasib semalang ini” lanjut pikirnya. Kalau begitu tentu tidak memiliki kesempatan kuliah layak, berpenghasilan dan kaya.

Jangan-jangan ia menuliskan itu hanya sebuah karya autobiografis, pikir ia, sehingga bisa jadi di atas sana, di balik awan, di balik bintang-bintang, di balik tepi-tepi dari semesta yang terus mengembang perlahan, ada seorang lelaki yang sepertinya.

Barangkali ia sudah lama ingin menulis sebuah cerita metafiksi, dan habis pulang kuliah ia memulainya samapi tertidur di subuh. Ia mulai berpikir lagi, semua ini, kehidupanku ini, adalah kesia-siaan, dan ada hanya karena seseorang yang kurang kerjaan.

0 komentar:

Post a Comment