Monday, 20 April 2015

Kekesalan Intelektual si Duke

Duke sebagai orang-biasa pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan mereka yang telah mendulang kesuksesan melebihi dirinya. Duke hanya berdialetika dalam lingkar sesama orang biasa. Ia tidak pernah bertemu dengan bosnya secara sosial, tidak pernah belajar dari pengalaman pribadi tentang betapa berbedanya seorang pengusaha dalam hal-hal menyangkut kecakapan dan kemampuan yang diperlukan agar berhasil melayani konsumen. Rasa iri dan kesal yang timbul kemudian ini tidak dapat dilampiaskan kepada orang lain yang sama-sama terdiri atas darah dan daging, kecuali pada pada abstraksi-abstraksi yang samar  seperti “pengelola”, “modal”, dan “Wall Street.”  Kebenciannya kepada bayangan samar tersebut tidak mungkin dapat dilampiaskan dengan kegetiran yang sama seperti yang mungkin dirasakannya terhadap sesamanya, yang ditemuinya sehari-hari.

Lain halnya dengan orang-orang yang oleh sebab kondisi-kondisi khusus dari pekerjaan atau afiliasi keluarga, memiliki kesempatan untuk berhubungan secara pribadi dengan para pemenang “tropi” kompetisi yang–dalam keyakinan mereka–sudah selayaknya mereka peroleh. Terhadap mereka, rasa frustrasi akibat ambisi yang gagal menjadi kian pahit sebab kebencian yang timbul adalah terhadap makhluk hidup yang konkret. Mereka membenci kapitalisme karena kapitalisme ternyata menyerahkan kedudukan yang mereka dambakan kepada para pemenang tersebut.

Begitulah yang terjadi dengan orang-orang yang umum disebut sebagai kaum intelektual. Mari telaah para dokter. Rutinitas dan pengalaman sehari-hari membuat setiap dokter menyadari kenyataan bahwa ada hirarki yang memeringkat para praktisi kesehatan berdasarkan prestasi dan tingkat pencapaian. Mereka yang lebih unggul daripada dirinya, yang metode dan inovasi mereka harus ia pelajari dan praktikkan agar ia tetap mutakhir, dulunya adalah teman-teman sekelas ketika di fakultas kedokteran.

Dulu, mereka bekerja bersamanya sebagai internes; bersama-sama mengikuti pertemuan-pertemuan di berbagai asosiasi medis. Ia bertemu dengan mereka di ranjang pasien, juga di saat berlangsung kenduri sosial. Di antara mereka mungkin teman-teman pribadinya atau pernah terkait dengannya. Semuanya memperlakukannya dalam tingkat kesopanan tertinggi, bahkan menyebutnya sebagai kolega yang baik. Tetapi mereka menjulang jauh lebih tinggi melampauinya, dalam hal apresiasi masyarakat dan seringkali juga dalam hal penghasilan. Mereka telah mengalahkannya dan kini dapat digolongkan sudah berbeda “kelas”.

Bila ia membandingkan dirinya dengan mereka, ia akan dilanda rasa hina. Namun, ia harus senantiasa hati-hati dalam menekan kekesalan dan rasa irinya. Sedikit saja tanda tersebut terlihat, itu akan dianggap sebagai perilaku yang amat buruk dan derajatnya akan jatuh di mata semua orang. Ia harus menelan semua hal yang memalukan ini dan membelokkan kesumatnya kepada target pelampiasan. Semuanya ini pada akhirnya ia arahkan pada tata perekonomian masyarakat, yaitu sistem kapitalisme yang keji.

Kalau bukan lantaran sistem yang tidak adil ini, ia pasti akan mendapatkan kekayaan yang setimpal dengan segala kemampuan, bakat, semangat dan pencapaiannya. Hal serupa juga berlaku bagi pengacara, guru, pekerja seni, penulis, wartawan, arsitek, peneliti ilmiah, insinyur, ahli kimia, atau lainnya. Mereka rentan terhadap rasa frustrasi jika kolega-kolega mereka, yang dulunya merupakan para sahabat dan kroni saat di kampus dulu, mendapat promosi. Kekesalan ini bahkan tertoreh semakin dalam dengan adanya kode etis dan perilaku profesional yang memberi tabir kesetiakawanan dan kemitraan di atas realitas kompetisi.

Untuk dapat memahami kebencian seorang intelektual terhadap kapitalisme, orang harus menyadari bahwa di dalam dirinya sistem ini terinkarnasi dalam diri beberapa rekan sejawat yang telah berhasil, yang keberhasilannya membuat dirinya gusar dan yang ia anggap bertanggungjawab atas rasa frustrasi akibat ambisi yang jauh di luar jangkauannya. Ketidaksenangannya yang mendalam terhadap kapitalisme hanyalah tabir kebencian terhadap kesuksesan beberapa rekan sekerja.

Riview Ludwig von Mises

0 komentar:

Post a Comment