Showing posts with label warta. Show all posts
Showing posts with label warta. Show all posts

Monday, 6 April 2015

Makna Hari Jadi Kabupaten Banyumas Pada Tahun 1582

Kabupaten Banyumas kini sudah berumur 433 tahun, tepatnya pada tanggal 6 April 1582. Pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Peraturan Pemerintah Kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah, termaksud dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.

Daerah–daerah yang termasuk wilayah provinsi Jawa tengah ada 28 daerah kabupaten, antara lain Kabupaten Banyumas termasuk nomor urut ke 14 yaitu :

1. Semarang, 2. Dan seterusnya 13. Blora, 14. Banyumas, 15. Cilacap, 16. Dan seterusnya, sampai dengan 28. Wonogiri.

Peraturan in ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 18 Agustus 1950, yang di tandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Pemangku Jabatan sementara Mr. As Saat, dengan Mendagri : Susanto Tirtoprojo, yang kemudian diundangkan pada tanggal 8 Agustus 1950 oleh Menteri Kehakiman A.G. PRINGGODIGDO.

Setelah kita tahu berdirinya, apakah kita tahu makna berdirinya pada tahun 1852?


Candra atau surya sengkala untuk hari jadi Kabupaten Banyumas adalah
“BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” artinya tahun 1582
Bektining, kata asal bekti artinya sembah angka ( 2 )
Manggala, artinya pimpinan angka ( 8 )
Tumataning, kata asal tata (administrasi) angka ( 5 )
Praja, artinya bumi/budhi angka ( 1 )
Bila diartikan dengan kalimat adalah “ KEBAKTIAN DALAM UJUD KERJA SESEORANG PIMPINAN/MANGGALA MENGHASILKAN AKAN TERTATANYA ATAU TERBANGUNNYA SUATU PEMERINTAHAN “

Demikian makna berdiri pada tahun 1582. Semoga bermanfaat dan menjadi kenangan budaya yang harus dilestarikan.

Mengenang Sejarah Banyumas

Logo Kabupaten Banyumas
Kabupaten Banyumas yang kita kenal saat ini memang sudah cukup megah dan modern. Bukan Banyumas pada saat itu yang masih tradisional. Banyak perubahan yang terjadi di Banyumas. Apalagi anak anak sekarang yang sudah dicekoki ilmu dan teknologi sejak dini, mungkin Banyumas hanya sekedar kabupaten yang cukup ditempati.

Adalah manusia yang tidak menhargai jika tidak tahu sejarah berdirinya dan siapa saja yang telah berjasa untuk Kabupaten Banyumas. Oleh karena itu, marilah sobat Banyumasan mengulas sedikit sejarah Banyumas secara singkat.

Berawal pada suatu peristiwa yang menyebabkan kematian Adipati Wirasaba ke - 6 (Warga Utama ke-I) dikarenakan kesalah pahaman dari kanjeng sultan pada waktu itu. Sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang), sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang. 

Dari peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya, sultan Pajang memanggil para putra Adipati Wirasaba, Namun tidak ada yang berani menghadap. Kemudian salah satu diantara putra menantunya memberanikan diri menghadap, Joko Kahiman namanya. Namun apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan apabila mendapatkan anugerah, mohon kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata beliau diberi anugerah dengan diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke-7.

Semenjak itulah Raden Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Kemudian sekembalinya dari kesultanan Pajang atas kebesaran hatinya, dan dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian yang kemudian diberikan kepada para iparnya.

Pembagian Wilayah Wirasaba oleh Joko Kahiman:
  1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
  2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
  3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
  4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dengan membuka hutan mangli, yang kemudian dibangun pusat pemerintahan dan yang kemudian menjadi nama Kabupaten Banyumas.


Kabupaten Banyumas berdiri pada tanggal 6 April 1582 atau bertepatan dengan tanggal 12 Robiul
Awal 990 Hijriyah. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1990.

Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama, dikenal dengan julukan atau gelar Adipati Marapat (Adipati Mrapat), karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para iparnya.









 




Siapakah Adipati Mrapat atau Joko Kahiman itu ?
Raden Joko Kahiman adalah putra Raden Banyak Sosro dengan ibu dari Pasir Luhur. Raden Banyak Sosro adalah putra Raden Baribin, seorang Pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran dan akhirnya dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran.

Sedangkan Nyi Banyak Sosro, ibu Raden Joko Kahiman adalah Putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Mranggi, semudi kejawar yang dikenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu Putri Raden Baribin yang bungsu.

Adipati Banyak Galeh adalah keturunan ke-9 dari Raden Arya Bangah dari Galuh Pakuan Putra pajajaran. Dari sejarah terungkap bahwa Raden Joko Kahiman adalah merupakan SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan :

  1. Sifat altruistis, yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri.
  2. Pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon.
  3. Pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh Pakuan, Pajajaran) menjadi satu daerah dan memberikan kesejahteraan kepada semua saudaranya.

Dengan demikian tidak salah apabila MOTTO dan ETOS KERJA untuk Kabupaten Banyumas adalah SATRIA.

Sunday, 5 April 2015

PARIKAN JAWA BANYUMASAN: Pancen Lucu dan patut dilestarikan

Banyumas memang kaya budaya dari wisata sampai adat. Waktu kecil pasti kalian mengenal parikan. Biasanya orang kuna mengenalkannya buat menghibur anak anak kecil, kemudian anak kecil menirukannya. Sehingga turun temurun parikan ini masih dikenal. Sayangnya hanya beberapa orang yang masih melestarikannya, parikan ini sudah tergantikan lagu pop masa kini.

Siapa yang masa kecilnya kurang bahagia? Mari kita menyanyikannya lagi sedulur.

Sapa sing weruh umahe guteng
Ayo teng-tengok jaran
Ayo ran-rante sepur
Ayo pur-purwokerto
Ayo to-toko baru
Ayo ru-rumah sakit
Ayo kid-kidang mlayu
Ayo yu-yuyu kangkang
Ayo kang-kanggo gawe
Ayo we-wedang kopi
Ayo pi-pilagesut babaran mbambu entut

Lirik ini mungkin versinya admin Banyumasan. Beda daerah beda lagi. Mana versimu? ayo lestarikan !!

DESTINASI WISATA: 12 Curug Mengagumkan di Banyumas


Banyumas merupakan kabupaten yang memiliki khas tersendiri dibanding daerah lainnya. Potensi alam yang mengagumkan dengan budaya yang mbanyumas banget "Ngapak" membuat daerah ini banyak dikunjung wisatawan. Selain itu juga cukup banyak perguruan tinggi "ngadeg" di Banyumas.

Budaya dan wisata alam Banyumas ini sangat cocok untuk pendatang, terutama mahasiswa dari luar Banyumas. Kita kenal wisata Baturaden yang terletak dilereng Gunung Slamet. Nah, Kabar gembira sobat Banyumasan, akhir akhir ini muncul destinasi menarik, Curug Nangga namanya. Curug Nangga terletak Di Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen. Selain itu masih banyak curug yang bisa kita kunjungi. Berikut curug curug yang berada di Banyumas beserta alamatnya:


Curug Ceheng Desa Gandatapa Kecamatan Sumbang, Banyumas
Curug Cipendok Desa Karangtengah, Cilongok, Banyumas

Curug Bayan Desa Ketenger, Baturaden, Banyumas.

Curug Penganten di Dukuh Kalipagu, Desa Ketenger, kecamatan Baturaden, Banyumas



Curug Telu di Desa Karangsalam, Baturaden, Banyumas.
CurugGomblang  Desa kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas

Curug Song di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Banyumas

Curug Tempuhan di Desa Ketenger, Baturaden, Banyumas.

Curug Gemawang di Desa Kemawi, Somagede, Banyumas

Curug Gede di desa ketenger,  Baturaden, Banyumas

Curug Naga Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen















































Demikian curug curug yang ada di Banyumas yang sangat cocok buat mengisi waktu libur. Semoga info ini bermanfaat. Terima kasih

Fotografer : Danar Dwi Hartanto
Blog : http://tantodanardwi.blogspot.com

Saturday, 4 April 2015

Apa itu Ngrinso? Mengais Gabah di Sawah

Panen padi/liputan6
BANYUMASAN-Ngrinso adalah istilah yang digunakan untuk mengais gabah disawah. Mengais dari sisa panen padi. Jika musim panen berlangsung, ibu ibu di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi rezeki tersendiri sebagai tukang ngrinso atau pencari gabah. Seperti yang dilansir Liputan9.com pada Ahad (5/3) pagi, puluhan wanita yang kebanyakan telah berusia lanjut berkumpul di sawah-sawah untuk mencari gabah. Mereka mendatangi tempat-tempat para petani tengah melakukan panen padi.

Di Banyumas, profesi mencari gabah ini memang populer. Para tukang ngrinso itu mengais sisa-sisa gabah yang telah diambil petani untuk kemudian dikumpulkan dalam karung yang mereka bawa. Biasanya, mereka berkelompok dan terdiri dari tiga hingga lima orang. Hasil gabah yang didapat kemudian mereka bagi rata yang sebelumnya telah dipilih agar tidak bercampur dengan gabah yang busuk. Ada juga yang sendiri sendiri tergantung daerah di Banyumas.

Kebanyakan kaum ibu di wilayah Banyumas memang menjadikan musim panen sebagai saat datangnya berkah. Bagaimana tidak, mereka dapat mencari gabah untuk dijadikan beras dan dimakan tanpa perlu membeli. Meski hasilnya pas-pasan, panas dan capek tetap lumayan bisa membantu penghasilan sumai. Biasanya, Sepanjang hari sejak pukul enam pagi hingga menjelang malam, para ibu tukang ngrinso bekerja pada musim panen.

Namun dalam dekade ini para perinso berkurang karena kemajuan teknologi. Warga yang panen kini anyak yang menggunakan mesin padi, tidak menggunakan istilah gepyok lagi. Gepyok adalah memisahkan padi dari batangnya dengan cara menggepyok atau memukul ke alat yang dinamakan Gripyak.

Sangat disayangkan jika seorang warga Banyumas tidak mengerti istilah yang ada di Banyumas. Periharalah budayamu, jika tidak kelihalangan jadi dirimu. Semogaa selalu terpelihara istilah istilag budaya ngrinso, gepyok dan gripyak.

Thursday, 2 April 2015

Ulasan masalah toko modern di Banyumas

toko modern: alfamart


Menjamurnya toko modern di Kabupaten Banyumas tidak lepas dari sinergisme masyarakat terhadap kebutuhan barang praktis yang mudah diperoleh. Namun, kejelasan ijab pendirian tko modern antara pihak toko modern, pemerintah daerah dan masyarakat kurang jelas.

Lambat laun masalah toko modern dalam artian banyak alfamart dan indomart menjulang dalam ranah esekusi hukum. Toko toko modern yang terbukti tidak memiliki surat ijin usaha dan surat ijin membangun usaha banyak yang disegel, bahkan di bongkar. Me-review terjadinya pembongkaran toko indo di Desa Tambak Sari, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas pada 22 september 2014 yang terbukti tidak mengantongi surat izin usaha dan surat izin mendirikan bangunan dan beberapa penyegelan toko modern seperti indomart yang berada di Jl. Soeparno, Grendeng, Purwokerto utara.

Keberadaan toko modern memang bukan hal negatif yang harus dipermasalahkan kehadirannya. Kehadiran toko modern merupakan bukti rasionalitas dan perkembangan zaman. Ketika konsumen memilih pelayanan dan praktis itu hal wajar. Konsumen akan memilih barang yang sedikit mahal dengan pelayanan yang nyaman, seperti peribahasa jawa “rega nggawa rupa”, sekalipun barang yang dijual di toko modern dan toko kelontong sebenarnya sama.

Hal ini pun di tegaskan oleh Firdaus Putra selaku Direktur Utama KOPKUN swalayan dalam Kajian Lingkar Banyumas bahwa ketika konsumen memilih toko modern itu rasional, karena mereka (konsumen) merasa nyaman membeli di toko modern daripada toko kelontong. Seharusnya pihak toko kelontong upgrade atau memodernisasi tokonya agar dapat bersaing dengan toko modern seperi alfamart dan indomart. Jika permasalahan toko modern dikaitkan dengan keberadaan toko kelontongan warga.

Permasalahan kehadiran toko modern yang perlu diluruskan adalah tata letak dan perizinan. Selain itu, transparansi pemerintah daerah dalam menyetujui jalannya toko modern. Tata letak toko modern yang tertera dalam peraturan daerah (perda) No 3 Tahun 2010 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang mengatur tentang jarak antara toko modern dan pasar tradisional minimal 500 meter. Kenyataanya, toko modern banyak yang tidak mengikuti peraturan tersebut. Ada pula toko modern yang berhadapan dengan pasar tradisional.

Perizinan izin usaha dan mendirikan bangunan yang diatur pada peraturan daerah (Perda) No 7 Tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) maupun Izin Usaha Toko Modern (IUTM). Tentunya, setiap seseorang akan mendirikan usahanya harus mendapat IMB dan IUTM untuk menjalankan usaha tersebut. Sayang, kejelasan pihak yang mendirikan usaha dan pemda kurang jelas. Hal tersebut, memungkinkan adanya penyelewengan mengenai izin usaha baik pihak yang mendirikan usaha dan pemda yang menangani izin usaha.

Pelanggaran yang mungkin terjadi adalah toko modern yang tidak mengurusi izinya, sehingga terjadi pembongkaran seperti pembongkaran toko indo di Desa Tambak Sari dan penyelewengan dana pihak pemda yang mengurusi izin usaha seperti penerimaan gafitikasi terkait perizinan toko modern oleh Kasatpol PP Banyumas Rusmiyati. Tapi perlu diketahui tentang pembongkaran toko modern apakah mereka benar benar tidak mengantongi izin atau diselewengkan oleh pihak yang mengurusi izin. Jika saja toko modern sudah tidak megantongi izin dari awal, seharusnya pihak pemda melakukan penolakan sebelum toko modern itu di bangun.

Memang permasalahan perizinan adalah permasalahan moral tentang kedisiplinan individu dan kelompok yang mempunyai tingkat kesadaran yang berbeda. Lebih khususnya, masalah perizinan yang harus jelas pihak toko modern dan pelayanan publik pemda dalam menangani izin toko modern. Sehingga tidak terjadi hal serupa terulang terkait perizinan toko modern.

TOKOH BANYUMAS: Uang hanya alat tukar, bukan alat ukur.

ilustri uang seratus ribu rupiah

PURWOKERTO- Kekhawatiran para tokoh banyumas dan sekitarnya terhadap keberalihan fungsi uang. Para tokoh mewacanakan bahwa uang hanya sebagai alat tukar, bukan alat ukur dalam forum islam pluralisme “ juguran syafa’at” ,di pendopo wakil bupati, Purwokerto.

“Siapa yang tidak butuh uang? Semua pasti butuh untuk memenuhi kebutuhannya” lontaran dari kukuh salah satu penyelenggara untuk membuka jalannya diskusi. Tidak dikota ataupun di desa, tidak memandang jabatan, profesi dan pendidikan. Segala hal yang ingin kita miliki membutuhkan ‘uang’.

Uang memang sebagai alat pemuas kebutuhan dan erat hubungannya dengan sistem ekonomi kapitalis. Segalanya dihitung dengan uang. Namun, pada kesempatan kali ini tokoh banyumas menggemborkan untuk bertransformasi ke era ekonomi gratis atau freenomics.

Freenomics berupa prinsip yang dipakai tokoh atau sesepuh masyarakat dalam membangun sistem social dimasyarakatnya. Dengan prinsip freenomics para sesepuh masyarakat menciptakan keadaan masyarakat yang harmonis. Karena harmonis itulah terciptanya gotong royong, kerigan, sistem kondangan yang tidak membebani anggota masyarakat.

Sayangnya, gotong royong dan kerigan mulai luntur dengan sistem sosial ekonomi dimana masyarakat teguh memakai prinsip ekonomi. Dalam artian lain, kondisi masyarakat sudah tidak harmonis. Kegiatan kegiatan didesa sudah banyak disponsori pihak luar.

Alasan itu memang cukup kuat karena beralihnya hubungan kemanusiaan ke sistem transaksional “Dulu, mati ya gari mati, tidak membutuhkan biaya besar karena dulu masih terikat yang namanya kasih saying. Sekarang, apa apa perlu biaya besar karena menggunakan sistem transaksional” jelas agus selaku pembicara. Sehingga sistem transaksional membuat masyarakat perlu bukti sebagai ukuran untuk mendapatkan sesuatu, yaitu uang.

“Banyak pertimbangan diluar manfaat dalam memenuhi kebutuhan yang menjadi ukuran ukuran tertentu” tambah agus. Jadi, hal yang semestinya tidak perlu menjadi perlu karena adanya ukuran yang menjadi dasar untuk mendapatkan sesuatu. Padahal banyak hal yang dilakukan tanpa uang seperti hal hal yang berkaitan dengan freenomics.

Namun, jika kita lihat asal usul uang, uang hanya sebagai alat tukar. Hal yang memang benar benar sudah dilupakan. Uang diciptakan untuk mempermudah kegiatan pemasaran atau tukar menukar dalam memenuhi kebutuhan. Sebelum uang diciptakan, orang orang purba sudah mengerti sistem tukar, dimana mereka saling menukar barang kepunyaannya.

Kegiatan tukar menukar mengalami kesulitan, karena belum ada alat tukar yang pasti dan sulit untuk menemukan orang yang saling membutuhkan barang yang akan ditukar. Dari situlah uang mulai diciptakkan sebagai alat tukar untuk memenuhi kebutuhan.

Banyumas yang kini, bagai surga yang hilang bidadarinya

ilustrasi curug naga, pekuncen

Wong jawa, Banyumas khususnya memang terkenal dengan negara yang ramah, santun jika dilihat dari sistem sosialnya, Daerah yang agraris jika dilihat dari kesuburan tanahnya. Sistem kerja gotong royong di Banyumas mengindikasi hubungan sosial masyarakat yang harmonis.

Wacana tersebut sudah hilang setelah bertahun tahun kita hanya membacanya, menurut ki titut salah satu budayawan banyumas menuturkan bahwa Banyumas adalah sorga yang hilang bidadarinya, tidak ada kebahagiaan. Segala diukur dengan uang. Hal hal yang bersifat kemanusian mulai luntur.

Orang orang yang bercocok tanam sudah jarang. Ibarat mencari orang yang mau kerja di sawah sangat sulit, harus mendatangkan orang dari daerah lain untuk kerja disawah untuk menanam. Padahal negara ini subur, sayang petani kita bukan petani yang memiliki lahan. Petina kita hanyalah buruh tani.

Tidak hanya itu, tanaman tanaman yang dulu bisa kita ambil seperti daun singkong saja tidak banyak. Hanya beberapa segelintir orang yang menanamnya. Walau progam progam pemanfaatan lahan kosong digalakan melalui ibu ibu PKK, tapi muspra hasilnya. Sebab, banyak lubang di saluran dana menuju ke desa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyataan diatas adalah berubahnya sistem sosial dan ekonomi seperti yang dituturkan oleh agus (16/03) bahwa saat ini apa apa perlu biaya besar, karena beralihnya hubungan kemanusiaan yang bersifat kasih sayang ke sistem transaksional.

Lebih dari itu, hilangnya tokoh tokoh masyarakat yang mengedepankan prinsip ekonomi gratis atau freenomics, tidak membebani masyarakat membuat masyarakat tidak harmonis dan terombang ambing. Sehingga mudah terpengaruh pada kebiasaan kebiasaan buruk yang terpaksa menjadi budaya.

Tokoh masyarakat dalam membangun sistem sosial dimasyarakatnya menggunakan prinsip freenomics untuk menciptakan keadaan sistem sosial yang harmonis. Dari keadaan yang harmonis itu kegiatan yang bersifat kemanusiaan seperti gotong royong, kerigan, sistem kondangan muncul ditengah masyarakat.

Sayangnya, gotong royong dan kerigan mulai luntur dengan sistem sosial ekonomi dimana masyarakat teguh memakai prinsip ekonomi, dengan pengeluaran seminimal mungkin mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam artian lain, kondisi masyarakat sudah tidak harmonis dan takut tidak memiliki hal yang dapat diukur dengan uang.

Oleh karena itu, sudah menjadi fardu bagi kita yang tau, paham dan berpotensi untuk mengubah system social yang harmonis kembali. Tidak menjadi masyarakat yang kuno diera modern. Sebisanya, kita menjalankan fungsi agen of change dari posisis kita sebagai mahasiswa dan pemuda Banyumas.

Keanekaragaman Banyumas dan sejarahnya

ilustrasi panginyongan

Purwokerto- Keanekaragaman Banyumas dan sejarahnya secara terbuka dikemukan oleh seorang profesor.  Melalui karya sastra, khususnya buku yang dia buat. Prof. Sugeng Priyadi memberi pemahaman secara lebih lengkap dan sederhana untuk mempelajari Budaya Banyumas. (Baca: sejarah-ebeg-banyumasan)

 “Dilihat dari sejarahnya, ada sekitar 65 versi Babad Banyumas,” kata Sugeng Priyadi. Beliau menambahkan bahwa Banyumas ingin menuju masa keemasan, bisa dimulai dari membuat sebuah karya sastra mengenai Sejarah Banyumas. Seperti halnya pak titut budayawan banyumas yang menciptakan lagu balapan tengu. (Lihat : Video-Balapan Tengu)

Pembuatan buku ini mengacu pada teks Babad Banyumas yang ditulis oleh Wiriaatmadja Patih Banyumas. “Meskipun tidak semua babad itu karya sastra, tapi mau mengacu kemana lagi kalau berbicara tentang sejarah ya pasti ke teks babad,” tambahnya.

"Banyumas sebagai nama untuk menuju masa keemasan, seperti dari arti kata Banyumas yang berarti air dan emas" Tuntas Sugeng. Hal tersebut mendapat tanggapan Profesor Husain Haikal dari Universitas Pekalongan yang hadir menjadi pembicara.

Husain mengatakan kalau daerah di Jawa bukan hanya Banyumas. Jadi berbicara soal Jawa, semua kota di Jawa memang memiliki potensi untuk menuju kota yang unggul. “Menggali Banyumas bisa saja semaksimal mungkin, tapi lebih baik kita melihat ke-Indonesiaannya,” kata Husain