Kesetiaan Sahabat
Oleh Alifah Resiani
![]() |
| Ilustrasi Alifah dan sahabat |
Teng..teng..teng…bel tanda pulang pun berbunyi. Akhirnya
setelah lama menunggu, Rere, Wita, Cindy, dan fina bergegas menyambar tas dan
pulang. “rasanya lama banget kalo pas pelajaran matematikanya bu Weny! Gumam
Cindy di tengah perjalanan pulang. “iya tuh, berasa di kurung di tengah hutan
dehhh” sambar Fina menambahi perkataan Cindy. Serentak mereka tertawa bersamaan
“haaaahaaaa…..”. Eeiittt, kalian tuh jangan gitu sama guru sendiri, lagian enak
kok kalo ibu Weny ngasih materi, bisa nyambung di otakku, ujar Rere yang dari
tadi hanya diam. “iyalah, namanya juga murid kesayangan, pasti ya gurunya
selalu di bela” tukas Fina mencibir.
Rere merupakan sosok yang selalu mengalah jika
teman-temannya sedang berdebat hebat, dia akan menengahi dan memberi nasehat kepada
teman-temannya, Fina merupakan anak yang bawel dan cerewet. Sedangkan Cindy
merupakan anak yang super rajin dan di siplin dengan waktu, Bertolak belakang
dengan si Wita, Wita merupakan anak yang selalu ngaret dan tidak tepat waktu.
Itulah sifat mereka berempat, walaupun banyak perbedaan mereka saling memaklumi
satu sama lain.
Candaan, ejekan, dan gurauan dari ke empat sekawan itu tak
pernah diambil hati oleh mereka. Karena mereka sudah terbiasa bersama sejak
mereka masih SD, dan sekarang mereka duduk di kelas 2 SMA. Persahabatan mereka
bermula karena jarak rumah mereka yang cenderung berdekatan di tambah sekolah
mereka yang selalu sama. Rumah Rere dengan Cindy hanya bersebrangan jalan,
sedangkan rumah Wita dan Fina berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rere dan
Cindy, tetapi walaupun lumayan jauh, mereka kemana-mana selalu bersama.
Hari minggu pagi biasanya mereka jogging ke taman dekat rumah Wita dan Fina. Diantara mereka
berempat yang paling malas bangun pagi adalah Wita, jadi mereka harus kerja
keras jika membangunkan Wita. “witaaaaa….” Mereka bertiga serempak membangunkan
Wita. “arrgggg.. “,Wita hanya menggeliat lalu menarik selimut kembali. Karena
tidak sabar membangunkan Wita, akhirnya mereka bertiga mempunyai akal untuk
membangunkan Wita, dan alhasil mata Wita langsung melek dan bergegas bangun.
Ternyata Wita paling tidak suka dengan aroma bunga melati, dan kebetulan di
depan rumah Fina banyak bunga melati. “haaahaha, mereka ngakak melihat aksi
Wita yang kelimpungan mencari aroma bunga melati. “hmmmm…dasar ya kalian,
tunggu pembalasanku nanti, gerutu Wita sambil bergegas bangun.
Saat jam istirahat, Wita dan Rere pergi ke kantor karena ada
guru yang memanggil mereka berdua, dan tinggallah Cindy dan Fina di dalam
kelas. “Fin, kamu tau gak tim basket sekolah kita, yang di kelas 12.A itu
lho..” ucap Cindy memulai pembicaraan. “iya ya..aku tau, yang anaknya ramah,
tim basket sekolah kita kan? Ujar Fina menaggapi. “aku seneng banget kalo lagi
liat dia main basket, trus kemaren itu pas aku di perpustakaan, gak sengaja aku
ngambil buku yang sama dengan dia, kemudian dia tersenyum kepadaku, waaaww,
rasanya seperti mau terbang.hihihi” fina mulai bercerita dengan hati
berbunga-bunga.
Di lain tempat, Cindy juga menceritakan hal yang sama
mengenai Danang tim basket sekolah mereka. Beda dengan Wita, kalau Cindy ketemu
Danang ketika mereka sama-sama pergi ke mushola, tetapi memang danang anak yang
ramah, jadi ketemu siapa aja pasti senyum. Wita dan Cindy yang merespon lebih
dan beranggapan bahwa Danang menyukai mereka. Sejak saat itu Wita dan Cindy
sering senyum-senyum sendiri dan jarang mau pulang bareng, mereka selalu
menunggu kesempatan untuk pulang bareng dengan Danang. Walaupun mereka tahu
bahwa mereka menyukai orang yang sama, tetapi mereka tidak saling bermusuhan
dan mereka berencana untuk bersaing secara sehat.
Satu bulan sudah Wita dan Cindy bersaing untuk mendapatkan
hati Danang, dan sampai saat itu Danang tidak menerima satu dari mereka, karena
Danang tahu, jika dia memiih salah satu maka persahabatan mereka akan hancur.
Suatu hari Rere di panggil bu Weny untuk menghadap ke kantor. Ternyata Rere
diberi kepercayaan oleh bu Weny untuk mewakili sekolahnya dalam olimpiade
Matematika. Setelah sampai kantor, Rere
kaget karena rekannya yang di kirim untuk mewakili sekolahnya adalah Danang,
cowok yang diidolakan sahabatnya. Rencananya Rere akan memberitahukan kepada
sahabatnya mengenai Danang, tetapi karena waktu olimpiade hanya tinggal 1
minggu maka Rere belum sempat memberitahunya. Hingga pada akhirnya Wita dan Cindy
melihat Rere sedang berdua bersama Danang di perpustakaan. Mereka berdua
langsung mengira kalau Rere telah menghianati mereka berdua.
“aku gak nyangka, ternyata Rere bisa seperti itu kepada kita
wit,” ucap Cindy dengan nada sedikit geram. “iya Cin, diam-diam dia telah
menghianati kita, dia sering tidak ikut pelajaran ternyata hanya ingin berduaan
dengan Danang, sambung Wita menambahkan. Kesalahpahaman Wita dan Cindy membuat
Fina menjadi bingung dan penuh tanda Tanya. Tetapi setiap Fina bertanya, mereka
tidak ada yang mau buka mulut. Kebingungan Fina bertambah setelah melihat
perlakuan Wita dan Cindy yang begitu dingin kepada Rere.
“wit. Apa kamu liat bukuku?” Tanya Rere yang dari tadi
mengobrak-abrik tas miliknya. “apa kamu menuduhku?” jawab Wita cetus. “aku gak
bermaksud menuduhmu, aku hanya bertanya, siapa tau bukuku nyelip ditas kamu,
ucap Rere menjelaskan. “jelas-jelas bukan Wita yang mengambil, kenapa kamu
masih menuduhnya? Kata Cindy memojokkan Rere. Fina hanya menggeleng-gelengkan
kepala melihat sahabat-sahabatnya saling berdebat. Fina semakin heran kenapa
Wita dan Cindy selalu memojokkan Rere. Karena Fina penasaran dan ingin tahu apa
yang terjadi, sehingga fina mencari tahu penyebab Wita dan Cindy memusuhi Rere.
Setelah Fina menyelidiki, akhirnya Fina mengetahui apa
penyebab Wita dan Cindy menjauhi Rere. Ternyata itu semua gara-gara mereka
melihat kedekatan Rere dan danang tanpa mengetahui apa alasannya terlebih
dahulu. Kemudian Fina mengajak sahabatnya brkumpul dan menyuruh mereka untuk
saling memaafkan. “aku tidak mengerti mengapa kalian seperti ini kepada Rere,
jika ada masalah tolong beritahu, siapa tahu aku bisa membantu.” Ucap Fina
membuka percakapan. “kamu tidak tahu apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur,
kata Wita. “oh, rupanya kalian sudah tidak menganggapku sebagai sahabat kalian
lagi? Oke fine, terimakasih untuk kejujuran kalian, tapi aku harap kalian
berikan alasan kenapa kalian membenci Rere,” tukas Fina. “emmm..bukan maksud aku dan Wita seperti itu
Fin, tolong jangan salah faham dulu.” Kata Cindy menjelaskan. “sudah-sudah, ini
semua salahku, aku tau sekarang kenapa akhir-akhir ini kalian membenciku, aku
minta maaf karena belum sempat menjelaskan apa maksudku sering bersama Danang.”
Ucap Rere menengahi.
Setelah mendengar penjelasan dari Rere, mereka semua menjadi
mengerti dan Cindy mulai memaafkan Rere. Lain halnya dengan Wita, sepertinya
Wita masih belum bisa memaafkan Rere lalu Wita berlari keluar kelas dan di
ikuti dengan Fina. Wit, kamu mau kemana? Tunggu dulu, ucap Fina seraya menyambar
tangan Wita. “aku benci dengan Rere, kenapa dia gak pernah cerita sebelumnya,
biasanya kalau ada apa-apa pasti dia cerita dulu kepada kita, apa dia udah gak
menganggap kita sahabatnya lagi? Wita terus bertanya kepada Fina. Selang
beberapa menit, terlihat Rere dan Cindy mnyusul mereka berdua. Karena rasa
bersalahnya, Rere lalu memohon kepada Wita untuk memaafkan Rere. Atas
penjelasan Fina akhirnya Wita dapat memaafkan Rere. “wit, kenapa kamu belum
bisa memaafkan Rere? Harusnya kita sebagai sahabatnya mendukung dan memberikan
support kepadanya karena sebentar lagi dia akan mewakili sekolah kita untuk
mengikuti olimpiade, Rere pasti sedih, karena di saat dia butuh dukungan,
ternyata sahabat-sahabatnya malah membencinya. Ucap Fina. “iya aku sadar,
tindakanku selama ini salah, Rere aku benar-benar minta maaf karena di saat
seperti ini kita tidak mendukungmu, ucap Wita dengan suara serak dan tak kuasa
menahan butiran airmatanya. Mereka berempat pun saling berpelukan, dan saling
menyadari kesalahan masing-masing.
Berkat dukungan dan doa dari para sahabatnya akhirnya Rere
berhasil meraih juara pertama olimpiade matematika antar sekolah. Setelah
kejadian itu, mereka banyak mengambil pelajaran yaitu tidak ada yang lebih
berharga kecuali sahabat yang selalu ada dalam setiap moment dan selalu
memberikan support tanpa pamrih.

0 komentar:
Post a Comment