Monday, 30 March 2015

CERPEN : Kesetiaan Sahabat

 Kesetiaan Sahabat
Oleh Alifah Resiani
Ilustrasi Alifah dan sahabat

Teng..teng..teng…bel tanda pulang pun berbunyi. Akhirnya setelah lama menunggu, Rere, Wita, Cindy, dan fina bergegas menyambar tas dan pulang. “rasanya lama banget kalo pas pelajaran matematikanya bu Weny! Gumam Cindy di tengah perjalanan pulang. “iya tuh, berasa di kurung di tengah hutan dehhh” sambar Fina menambahi perkataan Cindy. Serentak mereka tertawa bersamaan “haaaahaaaa…..”. Eeiittt, kalian tuh jangan gitu sama guru sendiri, lagian enak kok kalo ibu Weny ngasih materi, bisa nyambung di otakku, ujar Rere yang dari tadi hanya diam. “iyalah, namanya juga murid kesayangan, pasti ya gurunya selalu di bela” tukas Fina mencibir.

Rere merupakan sosok yang selalu mengalah jika teman-temannya sedang berdebat hebat, dia akan menengahi dan memberi nasehat kepada teman-temannya, Fina merupakan anak yang bawel dan cerewet. Sedangkan Cindy merupakan anak yang super rajin dan di siplin dengan waktu, Bertolak belakang dengan si Wita, Wita merupakan anak yang selalu ngaret dan tidak tepat waktu. Itulah sifat mereka berempat, walaupun banyak perbedaan mereka saling memaklumi satu sama lain.

Candaan, ejekan, dan gurauan dari ke empat sekawan itu tak pernah diambil hati oleh mereka. Karena mereka sudah terbiasa bersama sejak mereka masih SD, dan sekarang mereka duduk di kelas 2 SMA. Persahabatan mereka bermula karena jarak rumah mereka yang cenderung berdekatan di tambah sekolah mereka yang selalu sama. Rumah Rere dengan Cindy hanya bersebrangan jalan, sedangkan rumah Wita dan Fina berjarak sekitar 500 meter dari rumah Rere dan Cindy, tetapi walaupun lumayan jauh, mereka kemana-mana selalu bersama.

Hari minggu pagi biasanya mereka jogging ke taman dekat rumah Wita dan Fina. Diantara mereka berempat yang paling malas bangun pagi adalah Wita, jadi mereka harus kerja keras jika membangunkan Wita. “witaaaaa….” Mereka bertiga serempak membangunkan Wita. “arrgggg.. “,Wita hanya menggeliat lalu menarik selimut kembali. Karena tidak sabar membangunkan Wita, akhirnya mereka bertiga mempunyai akal untuk membangunkan Wita, dan alhasil mata Wita langsung melek dan bergegas bangun. Ternyata Wita paling tidak suka dengan aroma bunga melati, dan kebetulan di depan rumah Fina banyak bunga melati. “haaahaha, mereka ngakak melihat aksi Wita yang kelimpungan mencari aroma bunga melati. “hmmmm…dasar ya kalian, tunggu pembalasanku nanti, gerutu Wita sambil bergegas bangun.

Saat jam istirahat, Wita dan Rere pergi ke kantor karena ada guru yang memanggil mereka berdua, dan tinggallah Cindy dan Fina di dalam kelas. “Fin, kamu tau gak tim basket sekolah kita, yang di kelas 12.A itu lho..” ucap Cindy memulai pembicaraan. “iya ya..aku tau, yang anaknya ramah, tim basket sekolah kita kan? Ujar Fina menaggapi. “aku seneng banget kalo lagi liat dia main basket, trus kemaren itu pas aku di perpustakaan, gak sengaja aku ngambil buku yang sama dengan dia, kemudian dia tersenyum kepadaku, waaaww, rasanya seperti mau terbang.hihihi” fina mulai bercerita dengan hati berbunga-bunga.

Di lain tempat, Cindy juga menceritakan hal yang sama mengenai Danang tim basket sekolah mereka. Beda dengan Wita, kalau Cindy ketemu Danang ketika mereka sama-sama pergi ke mushola, tetapi memang danang anak yang ramah, jadi ketemu siapa aja pasti senyum. Wita dan Cindy yang merespon lebih dan beranggapan bahwa Danang menyukai mereka. Sejak saat itu Wita dan Cindy sering senyum-senyum sendiri dan jarang mau pulang bareng, mereka selalu menunggu kesempatan untuk pulang bareng dengan Danang. Walaupun mereka tahu bahwa mereka menyukai orang yang sama, tetapi mereka tidak saling bermusuhan dan mereka berencana untuk bersaing secara sehat.

Satu bulan sudah Wita dan Cindy bersaing untuk mendapatkan hati Danang, dan sampai saat itu Danang tidak menerima satu dari mereka, karena Danang tahu, jika dia memiih salah satu maka persahabatan mereka akan hancur. Suatu hari Rere di panggil bu Weny untuk menghadap ke kantor. Ternyata Rere diberi kepercayaan oleh bu Weny untuk mewakili sekolahnya dalam olimpiade Matematika.  Setelah sampai kantor, Rere kaget karena rekannya yang di kirim untuk mewakili sekolahnya adalah Danang, cowok yang diidolakan sahabatnya. Rencananya Rere akan memberitahukan kepada sahabatnya mengenai Danang, tetapi karena waktu olimpiade hanya tinggal 1 minggu maka Rere belum sempat memberitahunya. Hingga pada akhirnya Wita dan Cindy melihat Rere sedang berdua bersama Danang di perpustakaan. Mereka berdua langsung mengira kalau Rere telah menghianati mereka berdua.

“aku gak nyangka, ternyata Rere bisa seperti itu kepada kita wit,” ucap Cindy dengan nada sedikit geram. “iya Cin, diam-diam dia telah menghianati kita, dia sering tidak ikut pelajaran ternyata hanya ingin berduaan dengan Danang, sambung Wita menambahkan. Kesalahpahaman Wita dan Cindy membuat Fina menjadi bingung dan penuh tanda Tanya. Tetapi setiap Fina bertanya, mereka tidak ada yang mau buka mulut. Kebingungan Fina bertambah setelah melihat perlakuan Wita dan Cindy yang begitu dingin kepada Rere.

“wit. Apa kamu liat bukuku?” Tanya Rere yang dari tadi mengobrak-abrik tas miliknya. “apa kamu menuduhku?” jawab Wita cetus. “aku gak bermaksud menuduhmu, aku hanya bertanya, siapa tau bukuku nyelip ditas kamu, ucap Rere menjelaskan. “jelas-jelas bukan Wita yang mengambil, kenapa kamu masih menuduhnya? Kata Cindy memojokkan Rere. Fina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabat-sahabatnya saling berdebat. Fina semakin heran kenapa Wita dan Cindy selalu memojokkan Rere. Karena Fina penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi, sehingga fina mencari tahu penyebab Wita dan Cindy memusuhi Rere.

Setelah Fina menyelidiki, akhirnya Fina mengetahui apa penyebab Wita dan Cindy menjauhi Rere. Ternyata itu semua gara-gara mereka melihat kedekatan Rere dan danang tanpa mengetahui apa alasannya terlebih dahulu. Kemudian Fina mengajak sahabatnya brkumpul dan menyuruh mereka untuk saling memaafkan. “aku tidak mengerti mengapa kalian seperti ini kepada Rere, jika ada masalah tolong beritahu, siapa tahu aku bisa membantu.” Ucap Fina membuka percakapan. “kamu tidak tahu apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur, kata Wita. “oh, rupanya kalian sudah tidak menganggapku sebagai sahabat kalian lagi? Oke fine, terimakasih untuk kejujuran kalian, tapi aku harap kalian berikan alasan kenapa kalian membenci Rere,” tukas Fina.  “emmm..bukan maksud aku dan Wita seperti itu Fin, tolong jangan salah faham dulu.” Kata Cindy menjelaskan. “sudah-sudah, ini semua salahku, aku tau sekarang kenapa akhir-akhir ini kalian membenciku, aku minta maaf karena belum sempat menjelaskan apa maksudku sering bersama Danang.” Ucap Rere menengahi.

Setelah mendengar penjelasan dari Rere, mereka semua menjadi mengerti dan Cindy mulai memaafkan Rere. Lain halnya dengan Wita, sepertinya Wita masih belum bisa memaafkan Rere lalu Wita berlari keluar kelas dan di ikuti dengan Fina. Wit, kamu mau kemana? Tunggu dulu, ucap Fina seraya menyambar tangan Wita. “aku benci dengan Rere, kenapa dia gak pernah cerita sebelumnya, biasanya kalau ada apa-apa pasti dia cerita dulu kepada kita, apa dia udah gak menganggap kita sahabatnya lagi? Wita terus bertanya kepada Fina. Selang beberapa menit, terlihat Rere dan Cindy mnyusul mereka berdua. Karena rasa bersalahnya, Rere lalu memohon kepada Wita untuk memaafkan Rere. Atas penjelasan Fina akhirnya Wita dapat memaafkan Rere. “wit, kenapa kamu belum bisa memaafkan Rere? Harusnya kita sebagai sahabatnya mendukung dan memberikan support kepadanya karena sebentar lagi dia akan mewakili sekolah kita untuk mengikuti olimpiade, Rere pasti sedih, karena di saat dia butuh dukungan, ternyata sahabat-sahabatnya malah membencinya. Ucap Fina. “iya aku sadar, tindakanku selama ini salah, Rere aku benar-benar minta maaf karena di saat seperti ini kita tidak mendukungmu, ucap Wita dengan suara serak dan tak kuasa menahan butiran airmatanya. Mereka berempat pun saling berpelukan, dan saling menyadari kesalahan masing-masing.

Berkat dukungan dan doa dari para sahabatnya akhirnya Rere berhasil meraih juara pertama olimpiade matematika antar sekolah. Setelah kejadian itu, mereka banyak mengambil pelajaran yaitu tidak ada yang lebih berharga kecuali sahabat yang selalu ada dalam setiap moment dan selalu memberikan support tanpa pamrih.

0 komentar:

Post a Comment