Friday, 11 September 2015

NASEHAT Bagai mendaki gunung datar

Gunung Meja Venezuela/ sumber: sidomi.com
Inilah lelucon jika manusia terlalu berperasa atau dalam bahasa wong ora genah 'baper-an'. Lagi lagi, saya dihadapi dengan manusia yang meminta selembar coretan, katanya lagi kesusahan, banyak beban. Mungkin saya beruntung, saya dianggap lebih baik, namun sayalah seburuk buruknya manusia saat ini.

Pikirku, sebagus bagusnya manusia adalah mereka yang indah dalam berbudi akal, menggunakan akal pikirnya, lalu tak lupa mereka menghaluskan akal pikirnya dengan perasaan. Bukan masalah agama mereka apa, tetapi bagaimana mempunyai nilai nilai kehidupan, nilai kemanusiaan yang selalu diwujudkan dalam kehidupan sehari hari.

Pikirku lagi, Seberat beratnya berpikir itu adalah jalan, seringan ringannya perasaan adalah beban. Jika sudah terlalu berat, jalannya adalah sebuah kelegaan rohani . Ya, itulah yang selama ini saya jalani, jika kalian meminta saranku, silakan ambil baiknya saja.

Setiap makhluk punya iman dan mengimani satu Tuhan. Ada cara cara beriman dan beradab (agama). Iman itu sebagai industri nasehat, agar industri nasehatmu tetap utuh, tentu butuh biaya, apa itu ? Ikhlas. Iman yang diikhlaskan pada suatu zat yang tunggal (Tuhan). Inilah kelegaan

Jika ada seseorang yang meminta nasihat darimu, kuatkan imannya, ikhlaskan imannya. Kemudian dia akan sehat imannya dan mulai berpikir bagaimana perasaannya terjaga. Mungkin hanya itu, nasehat yang saya bisa berikan pada seseorang yang telah membantuku dikala saya sakit sebulan lalu.

Berat rasa, berat pikir mari kita ikhlaskan, yakini itulah kelegaan. Ini tak seberat mendaki gunung yang datar.

0 komentar:

Post a Comment