Tuhan pasti tidak mengatakan
siapa yang melempar aku ke ruang rasa yang tak berbatas,
Aku rasa ini karunia, Aku pikir ini dunia.
Dunia,,
Pagi ini tidak ada sebilah kata satu pun untuk memukulmu.
Pagi ini begitu lesu membuat tersayup sayup di tempat tidur.
Kian membosankan dengan segala pekerjaan di depan komputer.
Mata keruh sulit menghadapi terang diluar sana.
Diluar yang penuh fatamorgana kehidupan.
Mungkin disinilah kenyataan, didalam kegelapan,
karena didalam kegelapan aku bisa melihat siapa yang putih dan siapa gelap,
siapa yng terang dan siapa yang redup.
Mungkin dengan Secangkir kopi ini akan kucukupkan bersama senja,
bersama anak anak kecil yang riang mengenakan pakaian beribadah.
Puji syukurku sebagai bagian darimu,
wahai kalian anak anak yang telah ditinggalkan bapak ibumu.
Ibu,
Biarkan saja gelap menelanmu hari ini lebih cepat
Aku masih disini, memandangmu dengan jelas
Karena lelahmu bersinar diantara keringatmu yang masih mengalir
Nyamanlah disampingku, malam ini dan malam malam yang lain.
Aku,
Lama lama bisa ku pukul bayanganmu
Bayanganmu membuat lamur akalku
pergilah, bermain dengan hayal
jengahlah pada cita yang sudah melambai
Pergilah
Malam ini aku akan bermalam dengan tenang
Menyibak bersih hayal dengan doa
Sudahlah tidur,
sepotong malam ini akan kusimpan.
Biarkan saja lampu lampu taman sendirian.
Jangan sampai cahaya menyibakku esok hari.
0 komentar:
Post a Comment