Thursday, 26 March 2015

Judulnya Aku



Judulnya aku
Oleh Ludbizar


Remah gerabah di tubuh pemuda
Tubuh yang membahang di ruang apatis
Celah cahaya menyuat mata
Sebuah jendela yang menata diri

Jangkauan daya guna kaki yang memendek
Malas melangkah, berjalan, apalagi berlari
Hanya menindihkan kepala di peristirahatan
Melupakan arena pertandingan di gedung megah

Melihat jutaan orang berlomba memboyong kuasa
Menjalankan segala hak yang bisa disusun
Sebisa manusia melontakan fardhunya
Dalam ruang sempit belas kasih

Ini dilema, dilema putra buruh
Sebuah kejujuran dalam aksara
Menyanyi tanpa suara lantang
Menari tanpa keelokan

BiBu



Bibi dan Buku (bibu)
Oleh Ludbizar*



Abu-abu menghibur pagi, menampung derajat kegirangan orang orang yang menyapa kemenangan.  Lupa memandang awan, hari ini menyisihkan sebagian kebahagian di hari kemenangan. Bara semangat tidak beku meski udara dingin menguasai hari ini.
Gerak bibir manis mereka memudarkan kegelisahanku dan bibi dari gubuk kecil. Puluhan wajah baru sepanjang hari dengan pakaian rapi, mendatangi kami. Mereka adalah orang-orang yang sedang merayakan kemenangan. Berbeda dengan kami yang selalu berteduh di gubuk dengan harapan besar ada seorang yang mau berbagi kemenangan dengan kami.
Mereka berkata “minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin,  ” sempat bertanya pada sang bibi “itu siapa bi?” Tanyaku lugu, bibi menjawab mereka adalah saudara kita, yang akan membantu kita. Bibi selalu menuliskan kalimat di buku kecil, bibi melakukannya agar aku paham jawaban bibi. Walau seperti bibi tidak pernah mendengarkanku, tetapi, bibi selalu menulis dibuku kecil dengan pensil untuk menjawab setiap pertanyaanku. Bibi tidak pernah mengabaikan pertanyaanku.
Dunia sunyi, memperjelas keadaanku yang sehari hari di kursi berayun. Aku bergerak kala bibi disampingku, menyuapiku dan memandikanku. Kesendirian, membuat rasa penasaran untuk meramaikan perbedaanku diluar sana.
Aneh, setiap sore aku makan, dan pagi buta. Aku dibangunkan untuk melahap sedikit jerih payah bibi. Namun, pagi itu bibi memberiku semangkuk ketupat dan ayam. Pagi yang cerah dan tidak biasa dengan banyak orang lalu lalang menghampiri. Karena heran, aku pun bertanya pada bibi.
“kenapa bibi memberikan aku makan pagi hari?” tanya aku. Tak lupa bibi merangkai aksara untuk aku lewat buku kecilnya, sekalipun saya membaca masih terbata.
“ini adalah pintu keluar, pintu keluarnya cahaya dari kegelapanmu, nak”.
Aku bingung dengan penjelasan bibi. Lantas aku mencoba menunjuk gerombolan anak yang sedang bermain,
“bibi sedang apa mereka?, kenapa mereka menutup telinga setelah melemparkan benda itu?”
lewat buku kecil, bibi menjawab bahwa mereka sedang bermain petasan.
Entah apa yang ingin aku mengerti, keadaan ini seperti pernah aku alami. Apalagi ketika mereka berlarian. Aku ingin sekali mengikuti mereka tetapi, dayaku hanya bisa melihat dipundak bibi. Aku tidak tega menyuruh bibi mendekati mereka.

Melihat
mereka, aku kebingungan. Bibi menyodorkan bukunya ”bibi lelah nak, ayo kita masuk dan istirahat”. Bibi tersenyum cerah walau harus menahan berat badanku di pundaknya. Bibi pun segera masuk, dan menaruh aku ke tempat biasa, kursi berayun buatannya. Sambil berayun, aku merasakan keindahan hari ini. Meski aku bingung dengan kehidupanku.
Tiba tiba muncul laki laki berkaca mata. Dia masuk dan mengelus rambut kumalku sambil tersenyum. Walau aku tidak mengenal, aku pun membalas senyumnya. Laki laki sepertinya mencari bibi. Dia bertatap muka lama dengan bibi. Aku juga menatap mereka berharap aku tahu keadaannya. Setelah lelaki itu pergi, bibi mendekatiku. Menyodorkan buku kecilnya “besok bibi mau pergi cukup lama, kamu hati hati dirumah ya? Bibi mau bertemu dengan seseorang yang akan menolong kita”. Aku pun mengangguk dengan sedikit keberatan.
Malam hari, bibi tidur disebelahku sambil memeluk erat tubuhku. Aku berdoa, semoga bibi kuat merawatku sampai aku besar nanti. Sunyinya malam aku lewati, tak lupa melafalkan doa doa umtuk bibi. Pagi buta bibi belum terbangun, masih terlelap. Hari ini tidak seperti biasanya, kala aku dibangunkan bibi untuk melahap makanan.
Sampai pagi aku hanya terlelap beberapa waktu yang tidak lama. Bibi sudah terbangun dengan pekerjaan ringan yang rutin. Menyapu dan mencuci. Bibi melirikku dengan senyum.
tanpa jeda, aku langsung menanyakan kepergiannya.
“bi, katanya bibi mau pergi? Pergi kemana? Aku tidak diajak.”
Dengan sabar aku menunggu bibi menjawab lewat buku kecil yang hampir penuh.
“Bibi pergi sebentar lagi, setelah memandikanmu nak. Bibi pergi ke rumah laki laki yang kemarin datang. Bibi tidak mau kamu kenapa kenapa. Jadi, kamu lebih baik tinggal disini, disana banyak orang jahat, baik baik ya” Bibi menatapku, dan meneteskan air matanya sambil memelukku. Sekalipun diusap, bibi terlihat sedih. Mungkin agar aku tetap bahagia di matanya.
Bibi pun pergi dengan mata cerah dan wajah sumringah. Aku berpikir, apakah bibi akan meninggalkanku selamanya? Dalam benakku, mungkin bibi akan diberi batuan oleh laki laki itu. Bibi tidak akan meninggalkan aku. Tetapi, Aku menangis deras takut bibi benar-benar meninggalkanku.
Beberapa waktu tangisku berhenti. Sekelompok orang datang memakai baju putih panjang. “Ada apa ini?” Sejenak berpikir, mungkinkah bibi mengalami nasib serupa. Aku menjerit memanggil bibi.
“Bibi, bibiii, bibiiiii....!!! ” mereka membawaku dalam sebuah mobil berwarna putih. Aku tidak bisa melawan, hanya jeritan yang diabaikan oleh mereka. Mereka menutup mulut dan hidungku sampai
aku tidak sadar.
Dalam ruangan kecil dengan sebuah tempat tidur, aku sadar. Ruangan aneh yang baru aku lihat. Aku langsung teringat bibi
“bi, bibi dimana? Apakah bibi benar benar meninggalkanku”. Ucap aku
Datang seorang laki laki, dia adalah orang yang dituju oleh bibinya sebelum meninggalkanku. Aku langsung bangun dengan setengah badan.
“hey, dimana bibiku ?!” bentak keras aku kepada laki laki itu.
Dia tidak menjawab, “apakah kamu tidak mendengarkanku ?!  katakan !” tambah aku.
“Cepat, katakan !! meninggi.
Sontak, dia menunduk dan meneteskan air matanya.
Aku pun bingung ditengah nada tinggiku dan terengah engah. Dia memberikanku sebuah buku kecil, buku milik bibi.
“dimana bibi? Kenapa buku bibi ada di kamu?” Sambil menarik tangan laki laki itu.
“bibimu menitipkan sebuah buku kecil kepadaku untuk kamu, dia memberikan pesan untukmu dihalaman terakhir bukunya” kaget aku, aku bisa mendengar jelas suara dari dia berbicara. Aku sadar kenapa bibi menuliskan ucapannya di buku itu.
dia meneruskan pembicaraannya bahwa bibiku yang sangat baik itu memberikan jantungnya kepada istriku, dia berpesan kepadanya “ nanti kalau istrimu sembuh dengan jantungku, mohon anda mau mengobati telinga dan kaki Qonat serta merawatnya sebagai anaknya” dia menyetujuinya.
Ternyata namaku Qonat. Aku diam, lemas dan menangis sambil memeluk erat buku kecil bibi. Aku kehilangan orang yang sangat menyayangiku. Sekalipun aku mendapatkan hidup baru, aku merasa bersalah dan berhutang budi kepada bibi yang telah merawatku  sampai sekarang ini.
Laki laki itu mendekat, lalu memelukku “ nak, sudah nak. Bibimu sudah tenang dan bahagia disana, apalagi kalau kamu berhenti menangis” laki laki itu juga menjelaskan Qonat adalah pemberian nama bibimu. Bibimu mengadopsimu dari seorang ibu yang telah meninggal karena kecelakaan didekat gubuk bibimu.
“Semakin jelas bahwa aku bukan siapa siapa. Tetapi Tuhan memberikan aku orang orang yang sangat baik disekelilingku” ucap aku dalam isak tangis
“Aku sadar, betapa besar pengorbanan bibi terhadapmu. Aku juga berutang budi terhadap bibimu, aku akan merawatmu seperti anakku sendiri nak” tanggap laki laki itu yang juga menangis.
Isak tangis terhenti, aku ingin membaca pesan terakhir dari bibi,
“Nak, maafkan bibimu nak
bibimu tidak bisa menepati janji untuk merawatmu.
tetapi, bibi akan menemanimu sampai kapan pun
bibi kasihan kepadamu yang tidak bisa mendengar dan berjalan
bibi sering menangis tengah malam meratapi kesedihanmu nak
bibi tidak tega, melihatmu menderita
jadi, bibi putuskan untuk mendonorkan jantung ke yang membutuhkan
bibi membuat perjanjian,
kalau sembuh, keluarganya akan mengobatimu dan merawat seperti anak kandungnya.
jika kamu membaca surat ini, ini jadi pesan terakhirku nak
semoga kamu baik baik saja
berbahagialah dengan kehidupan barumu nak
aku sangat menyayangimu, Qonat.”
Derai air mata tidak bisa aku tahan, menghadapi kenyataan seperti ini. Suara, kaki dan buku kecil ini jadi saksi betapa mulia bibi. Aku janji akan mendoakan bibi, memanfaatkan kehidupan baruku agar tidak sia sia. Bibi, bibi, bibi yang sangat aku sayangi.
Setelah pulih, aku hidup bersama orang tua angkatku, mereka menerima dan menyayangiku. Namun, tidak jarang aku mengunjungi makam bibi yang dimakamkan didalam gubuk yang dulu bibi tinggali bersamaku. Saya membiarkan gubug itu tetap utuh dengan kursi berayun yang aku gunakan waktu itu.

Cara menghindari Bid’ah



Cara menghindari Bid’ah

Oleh Ludbizar, 22 februari 2015

Bid'ah adalah pembaruan ajaran islam tanpa berpedoman Al qu'an dan hadist. Bid’ah juga berarti perbuatan yg dikerjakan tidak menurut contoh yg sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Dalam artian kasar, bid’ah mempunyai arti kebohongan dan kedustaan. Tetapi, banyak muslim menghindari bid'ah begitu saja. Jadi, mereka menganggap ilmu dan teknologi sebagai bid'ah dan hal yang bersifat meragukan sebagai bid'ah. Padahal yang dimaksud dalam banyak ayat alquran dan hadist, umat islam dituntut mencari ilmu, tidak hanya beriman. iman tanpa ilmu itu bisu. Terkesan konservatif dan animisme. Hanya percaya dan percaya. Mudah terprovokasi, agamis dan fanatic. Makanya banyak timbul golongan baru di agama islam yang mengungkapkan kebenarannya masing masing.

Marilah tengok beberapa ayat cara mengindari bid'ah yg benar :

Hadits “Kewajiban Mencari Ilmu”
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Hadits “Keutamaan Mencari Ilmu”
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi).

Dalam hadist ini dijelaskan orang yang keluar, keluar kemana? Salah satunya mempelajari bid’ah. Walaupun kadang dikucilkan dan dibuang karena pernyataannya paradoks atau berbicara diluar kebiasaan. Tetapi Tuhan pasti menuntunnya hingga dia selesai mempelajarinya. Itu pasti ! karena dia beriman.

Hadits “Kewajiban dan Keutamaan Menuntut Ilmu”
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا الْجَنَّةِ
Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Dari beberapa ayat diatas, sudah sangat jelas ! cara menghindari bid’ah adalah menuntut ilmu atau belajar.
Kita memang dituntut untuk  serius, tetapi legalah hati dan pikiran jika menuntut ilmu dan berpedoman pada alqur’an dan hadist.
Berselancar di media informasi memang banyak sekali orang orang yang dianggap menentang kitab alqur’an dengan logika pikiran, ilmu yang dia dapatkan selama hidup. Salah satu yang ditentang adalah bid’ah, kebenaran agama dan hal yang meragukan. Mereka bertahun tahun mempelajari apa yang ada pada alqu’an, apa itu islam. Padahal muslim tau siapa yang dianggap menentang. Mereka adalah orang orang atheis dan tokoh agama lain. Apa hasilnya? Mereka mendapatkan hidayahnya, kebenaran sejati, yaitu kebenaran Tuhan(Alloh SWT) dan kitabnya. Sesungguhnya mereka tidak menentang tetapi mereka sedang  menuntut ilmu. Allohu Akbar, apakah kamu muslim hanya diam saja? Melihat orang lain diberi hidayahnya dari Tuhan?

Mari menuju masyarakat madani !
Tulisan ini ditulis oleh saya sendiri. Jika ada kalimat yang mengundang rasa benci mohon dimaafkan. Muslim yang baik selalu terbuka dan tidak anti kritik dan anti theis. Semoga bermanfaat.

Antara Radikal dan konservatif


Ilmu akan selalu berjalan seiring seberapa anda berpikir. Berpikir menunjukan bahwa manusia itu ada, lantas sudahkah berpikir hari ini? Kemungkinan anda sudah berpikir, karena anda sudah pernah bingung.

Kali ini akan membahas "apa itu radikal dan contoh sikapnya serta sikap konservatif sebagai sifat lawan katanya. Mari kita bahas sama sama, radikal adalah sikap dan tindakan keras dan mendasar (prinsip) terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Radikal mempunyai hubungan erat dengan radikalisasi dan radikalisme.

Radikalisasi berupa proses dari tindakan radikal tersebut dan Radikaslisme adalah paham dari radikalisme. Contoh sikap dan tindakan radikal atau radikalisme bisa anda kutip dari kelompok militan ISIS atau negara islam irak suriah. Sifatnya keras, kaku, dan ingin merubah.

Lho kok kita bawa Antara radikalisme dan konservatisme? tentu aada hubungannya, karena ini sifatnya lawan kata. Konservatifme adalah sifat bertahan atau mempertahankan prinsip secara kuat dan sulit ingin dirubah. Radikalisme dan konserfatisme sama sama dipakai sebagai paham yang diakui suatu kelompok atau pandangan sikap kelompok lain terhadap kelompok lainnya.

Radikal ini digunakan sebagai alasan mereka bergerak. Paham radikalisme yang sekarang muncul dianggap tidak meyakini keyakinannnya seutuhnya,mereka biasanya mengaku pembawa kebenaran. Mereka berpedoman kita suci dan Tuhan yang sama.


Untuk itu perlu dijelaskan mengenai sikap sikap ini agar kelak kalian tidak bingung dan tidak terjerumus dalam kelompok kedua tersebut, karena sama sama mempunyai kekurangan dan dibenci oleh kaum kaum demokrasi dan kelompok maju.

Rata rata kelompok itu membawa kebenaran yang ada pada kebenaran golongan, apa itu paham konservatisme? belum tentu Mengapa mereka (paham radikalisme) berkembang dan menganggap paham konservatisme itu layaknya diperbarui?


Mereka belajar selama ini demi perkembangan keyakinan, belajar memaknai isi setiap ayat. bukan terjemahan. Mereka muncul pun dari sebuah tempat belajar.dengan sanad yang diakui kompeten.
terus apa yang dipelajari dari paham yang sudah ada? apa si? jilboobs?



Memang masalah ini terkait dengan ajaran agama, kalau kita lengah untuk menyisip nyisipkan pengetahuan keppada anak anak muda. Brabeh negri ini. Oleh karenaa itu agar terhindar dari paham ini adalah belajar dengan memahami. Sekian dan terima kasih

Friday, 20 March 2015

Puisi : BBM (Bocah Bodo Maca)



BBM (Bocah Bodo Maca)

Bukan Buat Masyarakat
Buat Bapak Minyak
Bisa Buat Mikir
Bisa buat miskin

Bunyi besar masyarakat
Buang Bobot Membeli
Bukti Banda Mengerucut
Bela Bumbu Masak

Balung Bumi Menghilang
Butuh berabad mendapatkan
Bisa Bisa Melambung
Bahan Bakar Melayang

Bunyi Besar Masyarakat
BeRakhir Berhayal Menyanyi
Bahan Bakar menurun
Buat Bapak Miskin

Benar benar Menyusahkan
Bahan Bahan Menjanjikan
Bisa Bisa Melupakan
Benda Berharga Milik Negara

Aryani- SMP N 8 Purwokerto

Cepatlah berkontribusi disini...