Saturday, 25 April 2015

Bumbu Sentong

Bumbu bumbu kehidupan didalam sentong
Sudah habiskah untuk membumbui hidup ini
Bumbu makna sumber kehidupan manusia
Bumbu yang ada di mbritan rumah
Masih kah tertanam rapi?
atau sudah terpagar rasa ketagihan?
Bumbu dari luar yang beraji

Kunir, kuning yang melekat dijidad
Jidad bayi yang belum ada jatidiri
Kencur, bau segar dari anak anak
Anak-anak penerus blakasuta
Jahe, rasa hangat dari pemuda satria
Satria pelindung serayu dan slamet
Serta isi dari hakikat bumi yang gemah

Rantai budi yang mulai seret
Tak lagi melaju sesuai hakiki
Ambang khayal bersua "better"
Dari deretan  penandu sipanji
Sudahkah mencicipi bumbu yang ada?
Bumbu yang masih melekat di jidat?
Cobalah, selagi masih jadi satria

Friday, 24 April 2015

CERPEN JAWA BANYUMASAN : BAKUL WEDHUS

Bakul Wedhus

Duke karo Mame

Mbreng…. mbreng…., suara mobil coake mame mbedah esuk sing esih sepi. Gawe kaget bae wong sekitare sing esih krodong sarung. Jam 5 esuk dina setu wayahe mame karo aku adol wedus neng Pasar Sokaraja. “Duke,,, duk, ayuh mangkat” suarane mame mblosnong maring kupingku. Aku langsung njimprak kang kasur nuju maring suarane mame. “iya kang, mayuh”. Aku karo mame langsung mangkat maring pasar.

On my way, Mame takon maring aku,
 “duk, kepriwe tanggapanmu maring pemimpin saiki sing gawe gulu wong cilik mengkerut ora teyeng mbaor? Koe kan cah sekolah, mesti pikirane mandan gamblang” ora ana angina ora ana apa, aku langsung cekakakan “tumben tumbene rika mikiri kaya kuwe, arep dadi mentri peternakan? hahaha” “Ndasmu !!!, wong SD be ora tamat kon mikiri wong senegri” jawabane mame ngegas.
Mame banjur nglanjutna critane,
mame : kaya kiye duk, bocah paling ganteng ng pasar kewan. Aku kawit ngingu wedus batine ora sepira, kawit jamane metu sekolah tekan seprene nggo mangan anak bojo kadang ora nyukup. Sebabe, wong sing cokane goleti wedus kue kaya asu, bajingan !. Gole tuku murah neng kandang didol meh separone, mbok kaya asu kencoten?, terus sing nggal dina ngarit ng swah panasan kudanen, nganti puyeng mbok langka suket, batine ora sepira. Sing ngingu wulanan karo sing kerja sedina, batine akeh sing kerja sedina, mbok ora adil? Mulane siki aku adol dewek, bati bati nggo dwek.
aku : oohh, kaya kuwe? Terus aku kon ngapa?
mame : Ohh tai ngasu, koe !, genah genah koe sing sekolah, sing Mandan ngerti masalah wong nduwur koh.
aku : ya kaya kiye kang, genah system utawa aturane ng Indonesia kaya ciwel, lembek!!, wis ngerti dewek mbok? Ya kaya miki rika crita, sing ngode taunan karo sedina gajine gede sing sedina, kecuali kerja njunjung gunung lha patut, wong mung adar eder nawakna dagangan tok, karo cocote sing ndawa, lanyap kaya bebek gajihe lewih gede. Ibarate system tata dagang sing ora karuan amburadul kaya rupane rika.
mame: Allahhh, kaya ganteng gantengaa.., ngaca kuwe karo watu akik !, oh dadi sing amburadul kuwe system tata dagange?
aku : kurang lewih kaya kuwe kang, urusane wong duwur karo wong ngisor kuwe sebenare langka dalan, dalane ditutupi karo wong sing ngelegi duit mentah mentah, arep ngurus kprwe, urung tekan tempate wis dijejeli duit” penjelasane aku
mame : Apa doyan ngeleg duit? Wong ciwel be kayane ra doyan?” Gobloge kang mame metu. Aku : Mulane mangan bangku sekolah, ditamat sekolahe kang, maksude kuwe korupsi kang!?
Mame : Ya aja ngegas, iyaya,,genah aku lagi sekolah maring ko sing wis mangan bangku nganti sewidak
Aku : congor congor wong desa pancen munine ya kaya kuwe, iya arep takon apa maning kang?
mame : kaya ko uripe wong ndesa ngarani aku kaya kuwe, lha kuwe sing jenenge korupsi deneng sering temen metu ng tifi?
Aku: iya memang sering kuwe, tapi mun metu tok. Ukumane ora metu, anu disumpel duit si.
Mame: jan jane ya korupsi kuwe kudu degorok gulune ya duk? Mangani duit wong cilik, ibarate wong cilik ya kaya sandal jepit “sing cilik ditekek, sing ng ngisor didek”, ya ora?
aku: waduhh, rika sinau ng ndi kuwe, nggoli ngibaratake cocok karo topike?
mame: lah sinau ming panjenenang mas duke, tapi ya jujur asline nyong anu pinter tapi anu dong dongan, kaya gurune.
Let suwe goli kandah banjur wis tekan pasar kewan sokaraja. Aku karo mame golet panggonan sing nggo adol wedus.
Bersambung……..


Note : Cerita “Bakul Wedus: duke dan mame” ini akan terbit setiap jum’at malam. Terima kasih Salam ngapak raya !!!

Monday, 20 April 2015

Kekesalan Intelektual si Duke

Duke sebagai orang-biasa pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan mereka yang telah mendulang kesuksesan melebihi dirinya. Duke hanya berdialetika dalam lingkar sesama orang biasa. Ia tidak pernah bertemu dengan bosnya secara sosial, tidak pernah belajar dari pengalaman pribadi tentang betapa berbedanya seorang pengusaha dalam hal-hal menyangkut kecakapan dan kemampuan yang diperlukan agar berhasil melayani konsumen. Rasa iri dan kesal yang timbul kemudian ini tidak dapat dilampiaskan kepada orang lain yang sama-sama terdiri atas darah dan daging, kecuali pada pada abstraksi-abstraksi yang samar  seperti “pengelola”, “modal”, dan “Wall Street.”  Kebenciannya kepada bayangan samar tersebut tidak mungkin dapat dilampiaskan dengan kegetiran yang sama seperti yang mungkin dirasakannya terhadap sesamanya, yang ditemuinya sehari-hari.

Lain halnya dengan orang-orang yang oleh sebab kondisi-kondisi khusus dari pekerjaan atau afiliasi keluarga, memiliki kesempatan untuk berhubungan secara pribadi dengan para pemenang “tropi” kompetisi yang–dalam keyakinan mereka–sudah selayaknya mereka peroleh. Terhadap mereka, rasa frustrasi akibat ambisi yang gagal menjadi kian pahit sebab kebencian yang timbul adalah terhadap makhluk hidup yang konkret. Mereka membenci kapitalisme karena kapitalisme ternyata menyerahkan kedudukan yang mereka dambakan kepada para pemenang tersebut.

Begitulah yang terjadi dengan orang-orang yang umum disebut sebagai kaum intelektual. Mari telaah para dokter. Rutinitas dan pengalaman sehari-hari membuat setiap dokter menyadari kenyataan bahwa ada hirarki yang memeringkat para praktisi kesehatan berdasarkan prestasi dan tingkat pencapaian. Mereka yang lebih unggul daripada dirinya, yang metode dan inovasi mereka harus ia pelajari dan praktikkan agar ia tetap mutakhir, dulunya adalah teman-teman sekelas ketika di fakultas kedokteran.

Dulu, mereka bekerja bersamanya sebagai internes; bersama-sama mengikuti pertemuan-pertemuan di berbagai asosiasi medis. Ia bertemu dengan mereka di ranjang pasien, juga di saat berlangsung kenduri sosial. Di antara mereka mungkin teman-teman pribadinya atau pernah terkait dengannya. Semuanya memperlakukannya dalam tingkat kesopanan tertinggi, bahkan menyebutnya sebagai kolega yang baik. Tetapi mereka menjulang jauh lebih tinggi melampauinya, dalam hal apresiasi masyarakat dan seringkali juga dalam hal penghasilan. Mereka telah mengalahkannya dan kini dapat digolongkan sudah berbeda “kelas”.

Bila ia membandingkan dirinya dengan mereka, ia akan dilanda rasa hina. Namun, ia harus senantiasa hati-hati dalam menekan kekesalan dan rasa irinya. Sedikit saja tanda tersebut terlihat, itu akan dianggap sebagai perilaku yang amat buruk dan derajatnya akan jatuh di mata semua orang. Ia harus menelan semua hal yang memalukan ini dan membelokkan kesumatnya kepada target pelampiasan. Semuanya ini pada akhirnya ia arahkan pada tata perekonomian masyarakat, yaitu sistem kapitalisme yang keji.

Kalau bukan lantaran sistem yang tidak adil ini, ia pasti akan mendapatkan kekayaan yang setimpal dengan segala kemampuan, bakat, semangat dan pencapaiannya. Hal serupa juga berlaku bagi pengacara, guru, pekerja seni, penulis, wartawan, arsitek, peneliti ilmiah, insinyur, ahli kimia, atau lainnya. Mereka rentan terhadap rasa frustrasi jika kolega-kolega mereka, yang dulunya merupakan para sahabat dan kroni saat di kampus dulu, mendapat promosi. Kekesalan ini bahkan tertoreh semakin dalam dengan adanya kode etis dan perilaku profesional yang memberi tabir kesetiakawanan dan kemitraan di atas realitas kompetisi.

Untuk dapat memahami kebencian seorang intelektual terhadap kapitalisme, orang harus menyadari bahwa di dalam dirinya sistem ini terinkarnasi dalam diri beberapa rekan sejawat yang telah berhasil, yang keberhasilannya membuat dirinya gusar dan yang ia anggap bertanggungjawab atas rasa frustrasi akibat ambisi yang jauh di luar jangkauannya. Ketidaksenangannya yang mendalam terhadap kapitalisme hanyalah tabir kebencian terhadap kesuksesan beberapa rekan sekerja.

Riview Ludwig von Mises

Sunday, 12 April 2015

Autobiografis

Sepanjang sore pria itu mencoba tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa, nampak lebih keras. Ia tetap menekan tinta dengan kesumukan. Tetapi justru menodong secangkir the hangat. Aneh, ia seakan tidak peduli dengan hawa ini.

Ia mengambil lembaran folio terus menerus dari ia mulai menulis. Folio itu berserakan dengan bekas genggaman kuat. Entah, ia sedang mengalirkan rasanya pada sebuah tulisan atau yang lain. Ia mencoba menelusuri masa nakalnya, karena terlihat sebuah raut wajah penyesalan dan bermonolog “maafkan aku, mama”. tapi hanya coretan tak tampak saling berkaitan yang timbul dalam folio. .

Ia menggeleng, meskipun kenyataan Ibunya dulu adalah orang paling memuakkan di seluruh semesta alam. Ia mengambil mainan kecilnya, dan duduk kembali pada posisi ia menulis. Ia mencoba untuk mengingat ingat. Ia pun berpikir, ”Apa yang membuat ibunya memuakkan?” dan kemudian menuliskan jawabannya.

Tetapi yang muncul di kepalanya hanyalah rupa orang memuakan. Ia menatap kertas, membaca kalimat pertama tulisannya: ”ibu biasanya membawa beberapa buku dan menghabiskan waktu dengan membaca.” Ia mengernyit, merasa membaca buku bukanlah karakter yang memuakkan, ibu.

Ia pun mengganti jawabanya. Ia memikirkan ”shop buatan ibu” dan akan menuliskan apapun respons otaknya terhadap rangsangan kata itu. Ya, kemuakan itu justru semakin homogen.m Ia menghela napas putus asa. Siapapun yang menulis kisah ini, pikirnya, pastilah rancu dan amatiran.

Ia memutuskan untuk berhenti menulis kisah itu. Ia mulai membaca, dan mengambil surat kabar mingguan yang tergeletak di meja. Belum lama, ia langsung melotot pada salah satu rubik surat kabar. Tentu dan apalagi kalau bukan cerpen. Hanya satu cerpen yang tercetak. Ia mulai membaca dengan saksama. “Intravert” itulah judulnya.

Ia terus menatap matanya pada cerpen itu. Gamang, "Apa maksudnya ini semua, pikirnya, ketimpangan dan ketidaksempurnaan ini?” Aku tidak bisa memahami cerpen ini”. Apa gunanya mencipta apabila kau tak mampu mencukupi apa yang ciptaanmu butuhkan? Ia berharap penulisnya paling tidak masih ingat bahwa semua orang memerlukan cinta, semua orang, tidak hanya dirinya.

seseorang telah menuliskan untuknya. Ia berharap ceritanya bukanlah kisah konyol yang diniatkan untuk menjaring pembaca-pembaca putus asa. Ia berharap ceritanya ditulis tanpa melibatkan soda jahat.
 
Berpikir kegilaan ini akan berakhir. apabila tidur cukup. Ia berharap, meski ia telah tahu ini mustahil akan terbangun sebagai manusia biasa keesokan harinya.

Di istirahat, ia teringat ada tugas membuat cerpen tentang pengembangan diri. Ia tak sempat membujur lemas. Ia bergegas menuju meja belajar dan membuat cerpen.

Ia mencoba membayangkan apa yang harus dikembangkan dirinya, ini rupa penulis yang menuliskan cerita yang aneh. Apa ia konyol? Atau aneh? Seperti pikirnya, kalau ia mengembangkna dirinya sebagai orang idiot yang suka menulis tentang keidiotannya.

“aku mustahil bernasib semalang ini” lanjut pikirnya. Kalau begitu tentu tidak memiliki kesempatan kuliah layak, berpenghasilan dan kaya.

Jangan-jangan ia menuliskan itu hanya sebuah karya autobiografis, pikir ia, sehingga bisa jadi di atas sana, di balik awan, di balik bintang-bintang, di balik tepi-tepi dari semesta yang terus mengembang perlahan, ada seorang lelaki yang sepertinya.

Barangkali ia sudah lama ingin menulis sebuah cerita metafiksi, dan habis pulang kuliah ia memulainya samapi tertidur di subuh. Ia mulai berpikir lagi, semua ini, kehidupanku ini, adalah kesia-siaan, dan ada hanya karena seseorang yang kurang kerjaan.

Tuesday, 7 April 2015

Desakan ke arah Perbaikan Ekonomi

Di bawah kapitalisme, Aku sebagai orang biasa menikmati kemudahan kemudahan yang di jaman dungteng tidak dikenal. Kemudahan yang tidak dapat dinikmati oleh penduduk terkaya sekalipun. Tetapi, emm tentu, materi berupa sesuatu yang bisa diukur ora ujug ujug (tiba-tiba) membuat orang menjadi bahagia. Begitu seseorang memperoleh materi tersebut, ia mungkin lebih senang daripada sebelumnya. Sayangnya, begitu sejumlah hasratnya terpuaskan, hasrat-hasrat baru pun akan mencuat ke permukaan, bahkan lebih banyak. Begitulah manusia, kodrat manusia, kodrat aku dan kalian.

Katakanlah sedikit penduduk disekitarku, penduduk Indonesia yang belum menyadari sepenuhnya realita bahwa negara mereka menikmati standar hidup tinggi dan bahwa pandangan hidup rata-rata penduduk tampak luar biasa, sesungguhnya berada di luar jangkauan sebagian besar masyarakat yang hidup di negara-negara non-kapitalistik.

Kebanyakan orang kurang menghargai apa yang mereka miliki dan apa yang dapat mungkin mereka capai, dan malah mendambakan hal-hal yang tidak dapat mereka akses. Sia-sia meratapi hasrat yang tak mungkin terpuaskan untuk mendapatkan barang lain lebih banyak lagi. Tepatnya nafsu akan hal inilah yang mendorong orang untuk memperbaiki ekonomi. Hanya berpuas diri atas apa yang telah dimiliki atau terhada hal yang gampang diperoleh, serta menahan diri secara apatetis dari upaya peningkatan kondisi material bukanlah kebajikan. Sikap demikian justru lebih mirip dengan tingkah laku hewan, ketimbang perilaku manusia yang mampu berpikir.

Ciri paling khas kemanusiaan adalah bahwa ia tidak berhenti berupaya memajukan kesejahteraannya melalui aktivitas-aktivitas yang bertujuan. Namun, usaha semacam itu harus disesuaikan dengan tujuannya. Jerih yang diambil harus sesuai dengan efek yang dituju. Yang salah bagi kebanyakan sejawat kita bukan terletak pada kenyataan bahwa mereka amat mendambakan keberlimpahan persediaan barang, melainkan bahwa mereka memilih cara yang keliru demi mencapai tujuan mereka. Mereka mengikuti ideologi-ideologi palsu.

Mereka memilih kebijakan-kebijakan yang kontradiktif bagi kepentingan vital yang sesungguhnya mereka pahami. Akibat terlalu pandir untuk melihat konsekuensi jangka panjang yang tak terelakkan dari perilaku mereka, mereka hanya mencari kesenangan dalam efek jangka-pendek kebijakan yang ditempuh. Mereka mendukung banyak upaya yang dapat dipastikan akan berakhir sebagai pemiskinan secara umum, disintegrasi kerjasama sosial di bawah prinsip pembagian kerja, dan kembali kepada barbarisme.

Untuk meningkatkan kondisi-kondisi material kemanusiaan, hanya terdapat satu cara: yakni dengan meningkatkan pertumbuhan alokasi kapital (modal) untuk mengimbangi pertumbuhan populasi. Semakin besar volume kapital yang ditanam per kepala pekerja, semakin banyak dan semakin baik pula barang yang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Inilah yang telah dihasilkan dan terus dihasilkan oleh kapitalisme, sebuah sistem keuntungan yang sering dicaci. Kendati demikian, hampir semua pemerintah dan partai politik dewasa ini sangat bersemangat untuk menghancurkan system ini.

Mengapa kapitalisme begitu dihujat? Mengapa mereka, seraya menikmati limpahan kesejahteraan berkat kapitalisme, merindukan keindahan “tempo doeloe” dan kondisi-kondisi buruk semacam yang dialami para buruh di Indonesia saat ini?

Source : Ludwig von Mises

Monday, 6 April 2015

Makna Hari Jadi Kabupaten Banyumas Pada Tahun 1582

Kabupaten Banyumas kini sudah berumur 433 tahun, tepatnya pada tanggal 6 April 1582. Pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Peraturan Pemerintah Kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah, termaksud dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.

Daerah–daerah yang termasuk wilayah provinsi Jawa tengah ada 28 daerah kabupaten, antara lain Kabupaten Banyumas termasuk nomor urut ke 14 yaitu :

1. Semarang, 2. Dan seterusnya 13. Blora, 14. Banyumas, 15. Cilacap, 16. Dan seterusnya, sampai dengan 28. Wonogiri.

Peraturan in ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 18 Agustus 1950, yang di tandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Pemangku Jabatan sementara Mr. As Saat, dengan Mendagri : Susanto Tirtoprojo, yang kemudian diundangkan pada tanggal 8 Agustus 1950 oleh Menteri Kehakiman A.G. PRINGGODIGDO.

Setelah kita tahu berdirinya, apakah kita tahu makna berdirinya pada tahun 1852?


Candra atau surya sengkala untuk hari jadi Kabupaten Banyumas adalah
“BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” artinya tahun 1582
Bektining, kata asal bekti artinya sembah angka ( 2 )
Manggala, artinya pimpinan angka ( 8 )
Tumataning, kata asal tata (administrasi) angka ( 5 )
Praja, artinya bumi/budhi angka ( 1 )
Bila diartikan dengan kalimat adalah “ KEBAKTIAN DALAM UJUD KERJA SESEORANG PIMPINAN/MANGGALA MENGHASILKAN AKAN TERTATANYA ATAU TERBANGUNNYA SUATU PEMERINTAHAN “

Demikian makna berdiri pada tahun 1582. Semoga bermanfaat dan menjadi kenangan budaya yang harus dilestarikan.

Mengenang Sejarah Banyumas

Logo Kabupaten Banyumas
Kabupaten Banyumas yang kita kenal saat ini memang sudah cukup megah dan modern. Bukan Banyumas pada saat itu yang masih tradisional. Banyak perubahan yang terjadi di Banyumas. Apalagi anak anak sekarang yang sudah dicekoki ilmu dan teknologi sejak dini, mungkin Banyumas hanya sekedar kabupaten yang cukup ditempati.

Adalah manusia yang tidak menhargai jika tidak tahu sejarah berdirinya dan siapa saja yang telah berjasa untuk Kabupaten Banyumas. Oleh karena itu, marilah sobat Banyumasan mengulas sedikit sejarah Banyumas secara singkat.

Berawal pada suatu peristiwa yang menyebabkan kematian Adipati Wirasaba ke - 6 (Warga Utama ke-I) dikarenakan kesalah pahaman dari kanjeng sultan pada waktu itu. Sehingga terjadi musibah pembunuhan di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo (sekarang), sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang. 

Dari peristiwa tersebut untuk menebus kesalahannya, sultan Pajang memanggil para putra Adipati Wirasaba, Namun tidak ada yang berani menghadap. Kemudian salah satu diantara putra menantunya memberanikan diri menghadap, Joko Kahiman namanya. Namun apabila nanti mendapatkan murka akan dihadapi sendiri, dan apabila mendapatkan anugerah, mohon kemurahan putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata beliau diberi anugerah dengan diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke-7.

Semenjak itulah Raden Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Kemudian sekembalinya dari kesultanan Pajang atas kebesaran hatinya, dan dengan seijin Kanjeng Sultan, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian yang kemudian diberikan kepada para iparnya.

Pembagian Wilayah Wirasaba oleh Joko Kahiman:
  1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
  2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
  3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
  4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dengan membuka hutan mangli, yang kemudian dibangun pusat pemerintahan dan yang kemudian menjadi nama Kabupaten Banyumas.


Kabupaten Banyumas berdiri pada tanggal 6 April 1582 atau bertepatan dengan tanggal 12 Robiul
Awal 990 Hijriyah. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 Tahun 1990.

Raden Joko Kahiman yang kemudian menjadi Bupati yang pertama, dikenal dengan julukan atau gelar Adipati Marapat (Adipati Mrapat), karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat untuk para iparnya.









 




Siapakah Adipati Mrapat atau Joko Kahiman itu ?
Raden Joko Kahiman adalah putra Raden Banyak Sosro dengan ibu dari Pasir Luhur. Raden Banyak Sosro adalah putra Raden Baribin, seorang Pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan maka menghindar ke Pajajaran dan akhirnya dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran.

Sedangkan Nyi Banyak Sosro, ibu Raden Joko Kahiman adalah Putri Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kahiman diasuh oleh Kyai Mranggi, semudi kejawar yang dikenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu Putri Raden Baribin yang bungsu.

Adipati Banyak Galeh adalah keturunan ke-9 dari Raden Arya Bangah dari Galuh Pakuan Putra pajajaran. Dari sejarah terungkap bahwa Raden Joko Kahiman adalah merupakan SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani oleh segenap warga Kabupaten Banyumas khususnya karena mencerminkan :

  1. Sifat altruistis, yaitu tidak mementingkan dirinya sendiri.
  2. Pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon.
  3. Pembangkit jiwa persatuan kesatuan (Majapahit, Galuh Pakuan, Pajajaran) menjadi satu daerah dan memberikan kesejahteraan kepada semua saudaranya.

Dengan demikian tidak salah apabila MOTTO dan ETOS KERJA untuk Kabupaten Banyumas adalah SATRIA.