Thursday, 2 April 2015

Banyumas yang kini, bagai surga yang hilang bidadarinya

ilustrasi curug naga, pekuncen

Wong jawa, Banyumas khususnya memang terkenal dengan negara yang ramah, santun jika dilihat dari sistem sosialnya, Daerah yang agraris jika dilihat dari kesuburan tanahnya. Sistem kerja gotong royong di Banyumas mengindikasi hubungan sosial masyarakat yang harmonis.

Wacana tersebut sudah hilang setelah bertahun tahun kita hanya membacanya, menurut ki titut salah satu budayawan banyumas menuturkan bahwa Banyumas adalah sorga yang hilang bidadarinya, tidak ada kebahagiaan. Segala diukur dengan uang. Hal hal yang bersifat kemanusian mulai luntur.

Orang orang yang bercocok tanam sudah jarang. Ibarat mencari orang yang mau kerja di sawah sangat sulit, harus mendatangkan orang dari daerah lain untuk kerja disawah untuk menanam. Padahal negara ini subur, sayang petani kita bukan petani yang memiliki lahan. Petina kita hanyalah buruh tani.

Tidak hanya itu, tanaman tanaman yang dulu bisa kita ambil seperti daun singkong saja tidak banyak. Hanya beberapa segelintir orang yang menanamnya. Walau progam progam pemanfaatan lahan kosong digalakan melalui ibu ibu PKK, tapi muspra hasilnya. Sebab, banyak lubang di saluran dana menuju ke desa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyataan diatas adalah berubahnya sistem sosial dan ekonomi seperti yang dituturkan oleh agus (16/03) bahwa saat ini apa apa perlu biaya besar, karena beralihnya hubungan kemanusiaan yang bersifat kasih sayang ke sistem transaksional.

Lebih dari itu, hilangnya tokoh tokoh masyarakat yang mengedepankan prinsip ekonomi gratis atau freenomics, tidak membebani masyarakat membuat masyarakat tidak harmonis dan terombang ambing. Sehingga mudah terpengaruh pada kebiasaan kebiasaan buruk yang terpaksa menjadi budaya.

Tokoh masyarakat dalam membangun sistem sosial dimasyarakatnya menggunakan prinsip freenomics untuk menciptakan keadaan sistem sosial yang harmonis. Dari keadaan yang harmonis itu kegiatan yang bersifat kemanusiaan seperti gotong royong, kerigan, sistem kondangan muncul ditengah masyarakat.

Sayangnya, gotong royong dan kerigan mulai luntur dengan sistem sosial ekonomi dimana masyarakat teguh memakai prinsip ekonomi, dengan pengeluaran seminimal mungkin mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam artian lain, kondisi masyarakat sudah tidak harmonis dan takut tidak memiliki hal yang dapat diukur dengan uang.

Oleh karena itu, sudah menjadi fardu bagi kita yang tau, paham dan berpotensi untuk mengubah system social yang harmonis kembali. Tidak menjadi masyarakat yang kuno diera modern. Sebisanya, kita menjalankan fungsi agen of change dari posisis kita sebagai mahasiswa dan pemuda Banyumas.

Keanekaragaman Banyumas dan sejarahnya

ilustrasi panginyongan

Purwokerto- Keanekaragaman Banyumas dan sejarahnya secara terbuka dikemukan oleh seorang profesor.  Melalui karya sastra, khususnya buku yang dia buat. Prof. Sugeng Priyadi memberi pemahaman secara lebih lengkap dan sederhana untuk mempelajari Budaya Banyumas. (Baca: sejarah-ebeg-banyumasan)

 “Dilihat dari sejarahnya, ada sekitar 65 versi Babad Banyumas,” kata Sugeng Priyadi. Beliau menambahkan bahwa Banyumas ingin menuju masa keemasan, bisa dimulai dari membuat sebuah karya sastra mengenai Sejarah Banyumas. Seperti halnya pak titut budayawan banyumas yang menciptakan lagu balapan tengu. (Lihat : Video-Balapan Tengu)

Pembuatan buku ini mengacu pada teks Babad Banyumas yang ditulis oleh Wiriaatmadja Patih Banyumas. “Meskipun tidak semua babad itu karya sastra, tapi mau mengacu kemana lagi kalau berbicara tentang sejarah ya pasti ke teks babad,” tambahnya.

"Banyumas sebagai nama untuk menuju masa keemasan, seperti dari arti kata Banyumas yang berarti air dan emas" Tuntas Sugeng. Hal tersebut mendapat tanggapan Profesor Husain Haikal dari Universitas Pekalongan yang hadir menjadi pembicara.

Husain mengatakan kalau daerah di Jawa bukan hanya Banyumas. Jadi berbicara soal Jawa, semua kota di Jawa memang memiliki potensi untuk menuju kota yang unggul. “Menggali Banyumas bisa saja semaksimal mungkin, tapi lebih baik kita melihat ke-Indonesiaannya,” kata Husain

Sejarah Mendoan Banyumasan


Mendoan adalah jajanan atau makanan dari Banyumas. Istilah yang digunakan adalah mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Mendoan berarti memasak dengan minyak panas yang banyak dengan cepat sehingga masakan tidak matang benar.

Penyajian
Mendoan disajikan dalam keadaan panas disertai dengan cabe rawit atau sambal kecap. Mendoan tempe dapat dijadikan sebagai lauk makan ataupun makanan ringan untuk menemani minum teh atau kopi saat santai. Mendoan tempe mudah ditemui di warung-warung tradisional di wilayah eks karesidenan Banyumas dan Tegal. Untuk wilayah Banyumas, para pelancong membeli oleh-oleh mendoan tempe di daerah Sawangan, Purwokerto, yang merupakan pusat jajanan khas Purwokerto. Rasa yang "unik" membuat makanan ini menyebar hingga ke luar daerah Banyumas. Tempe Mendoan dapat ditemui di kota-kota besar Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta.

Resep dan cara membuat mendoan

Bahan
500 gram tempe, diiris tipis melebar
250 gram tepung terigu protein sedang
400 ml air
2 batang daun bawang, diiris halus
minyak goreng

Bumbu Halus
3 siung bawang putih
1 1/2 sendok teh garam
3/4 sendok teh ketumbar
1 cm kencur

Bahan Sambal Kecap Tengis (aduk merata)
5 sendok makan kecap manis
1 siung bawang putih, dihaluskan
4 buah cabai rawit merah, dihaluskan
1/8 sendok teh garam

Cara Membuat Tempe Mendoan Asli Banyumas
  1. Aduk rata tepung terigu, air, dan bumbu halus. Tambahkan daun bawang. Aduk rata.
  2. Celup tempe ke dalam adonan tepung. Goreng sampai setengah kering.
  3. Sajikan dengan sambal kecap tengis.

Sejarah Ebeg Banyumasan

Ilustrasi ebeg banyumasan

Ebeg atau kuda lumping merupakan tari adat tradisional di Banyumas. Ebeg sangat familiar dengan properti yang digunakan, yaitu berupa kuda kepang. Kesenian ini menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukkan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul & cépét. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe.

Sejarah
Ebeg sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Selain itu Ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain. 
Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak lengkap dengan logat khasnya. Jarang ada lagu Ebeg yang menggunakan lirik bahasa Jawa Mataraman dan bahasa selain Banyumasan. Beberapa contoh lagu-lagu dalam Ebeg yang sering dinyanyikan adalah Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, Waru Doyong, Ana Maning Modele Wong Purbalingga dan lain-lain.

Kesurupan atau wuru
Kesenian ini bisa dibilang magic karena pemain ebeg ini akan kesurupan disaat pemain dijantur. biasanya saat akan dijantur si penimbul biasanya membakar kemenyan untuk dikelilingi. setelah para pemain kesurupan mereka tidak sadarkan diri, bahkan mereka kadang melakukan adegan-adegan yang bisa dibilang membahayakan. namun pada saat itu mereka tidak merasakan sakit atau yang lainnya, karena mereka sedang dimasuki oleh roh lain ( indang ). namun setelah mereka sembuh dari kesurupan mereka, mereka akan merasa lemas dan kadang ada juga yang kesakitan.

Alat Musik
Biasanya ebeg ditampilkan dengan iringan musik calung banyumasan atau gamelan banyumasan. Nayaga atau pengiring sudah menyatu dengan para penarinya. Awalnya memang pertunjukan Ebeg biasanya diiringi dengan alat musik yang disebut Bendhe. Alat musik ini memiliki ciri fisik seperti gong akan tetapi berukuran lebih kecil terbuat dari logam. Kemudian peralatan musik lain adalah Gendhing Banyumasan pengiring seperti kendang, saron, kenong, gong dan terompet. Barongan Ebeg, salah satu karakter topeng macan sebagai pendukung pementasan seni ebeg di pasar Kroya. Mungkin masih berkaitan erat dengan barongsai, singo barong dan leak.

Sesaji
Ketersediaan sesaji atau menyan adalah syarat pementasan ebeg Sesaji digunakan untuk persembahan kepada para arwah maupun penguasa makhluk halus disekitar agar mau mendukung pementasan. Efeknya para pemain ebeg akan mengalami trans atau kerasukan yang dalam bahasa Banyumas disebut mendem karena dirasuki makhluk halus. Disaat inilah para pemain ebeg biasa memakan berbagai benda yang tidak lazim dimakan seperti pecahan kaca (beling), bunga-bunga sesaji, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, memakan dhedek (katul), bara api, dan lain-lain. Keadaan mendem ini menunjukkan bahwa pemain ebeg sedang menunjukan bahwa dirinya adalah Satria yang kuat. Pada akhir laga, pemain yang kerasukan akan disembuhkan oleh pemimpin grup Ebeg yang biasanya adalah seorang tetua adat dan disebut dengan istilah Penimbul.


Demikian cerita singkat tentang ebeg atau kuda lumping Banyumas. Terima Kasih sudah membaca Sejarah Ebeg Banyumasan

Pesan didalam Pelaksanaan Begalan Banyumas

ilustrasi begalan

Begalan merupakan sebuah tradisi yang harus tetap dilestarikan. Kenyataannya masih banyak yang menggunakan tradisi begalan, terutama masyarakat didesa. Adapapun pesan pesan yang terkandung dalam pelaksanaan begalan yang tersimbolkan oleh abrag abgrag atauperalatan dapur.

Cething
Cheting adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi yang terbuat dari bambu. Cething menjadi simbol bahwa manusia hidup di masyarakat sebagai mahluk sosial, melakukan semua hal sendiri tanpa bantuan orang lain dan lingkunganya.

Centhong
Centhong adalah alat yang digunakan untuk mengambil nasi. Centhong terbuat dari bahan kayu atau dari bahan tempurung kelapa. Centhong menjadi simbol seorang yang sudah berumahtangga harus mampu mengoreksi diri. Harapannya ketika terjadi perselisihan antara suami istri mereka dapat menyelesaikan dengan baik, mengutamakan musyawarah mufakat sehingga terwujud keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin.

Irus
Irus adalah alat untuk mengambil dan mengaduk sayur yang terbuat dari kayu atau tempurung kelapa. Irus menjadi simbol orang yang sudah berumah tangga hendaknya tidak tergiur atau tergoda dengan pria atau wanita lain yang dapat mengakibatkan retaknya hubungan rumah tangga.

Siwur atau ciduk
Siwur adalah alat untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa utuh dengan diberi tangkai kayu atau bambu. Siwur menjadi simbol orang yang sudah berumah tangga harus dapat mengendalikan hawa nafsu dan jangan suka menabur benih kasih sayang atau perasaan cinta kepada orang lain. Siwur juga sering dimaknai oleh masyarakat banyumas sebagai kependekan kata dari Asihe aja diawur-awur (rasa cintanya jangan ditebar).

Kukusan atau kusan
Kukusan adalah alat untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut seperti gunung. Kukusan menjadi simbol bagi orang yang sudah berumah tangga agar berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup semaksimal mungkin.

Ilir
Ilir adalah kipas yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya berbentuk segi empat. Ilir menjadi simbol bagi seseorang yang sudah berkeluarga supaya bisa membedakan perbuatan baik dan buruk.

Ian
Ian adalah alat untuk menaruh nasi pada saat dikipasi dengan ilir. Ian terbuat dari anyaman bambu yang menjadi simbol atau melambangkan bumi dimana tempat kita berpijak.

Saringan
Saringan adalah alat dapur yang terbuat dari bambu. Saringan adalah simbol bahwa dalam kehidupan berumahtangga harus bisa menyaring isu atau kabar, baik kabar baik maupun kabar buruk dengan sikap. Wangkring juga menjadi alat pelengkap dalam tradisi Begalan.

Selain alat diaras juga terdapat wangkring atau pikulan terbuat dari bambu sebagai simbol dalam kehidupan berumahtangga harus bisa memikul tanggungjawab bersama sebagai suami dan istri. Menurut Hadi Suwito, salah satu pemeran Begalan di Kabupaten Banyumas. Demikian pesan yang terkandung dalam tradisi begalan. Terima kasih sudah membaca Pesan didalam Pelaksanaan Begalan Banyumas.

Sejarah Begalan di Banyumas


Ilustrasi : Begalan
Begalan adalah salah satu dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Begalan biasanya dilaksanakan dalam rangkaian resepsi pernikahan. Jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan. Pagelaran Begalan pada resepsi pernikahan dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan pengantin ketika kelak mereka menjalani kehidupan rumah tangga.

Awal mula begalan berasal dari kisah pada Adipati Wirasaba, saat itu masih dalam wilayah kadipaten wirasaba. Adipati mempersunting putri dari Adipati Banyumas di hari sabtu pahing. Namun dalam perjalanan menuju banyumas sang adipati dihadang oleh garong atau  rampok. Layaknya begal yang dilakukan saat ini (2015).

Rombongan Adipati Wirasaba terpakssa mempertahan diri dengan rombongannya untuk menhadapi begall. Pertarungan tidak bisa dihindari hingga beberapa prajurit tewas. Untungnya, pertarungan dimenangkan oleh rombongan Adipati Wirasaba dan rombongannya. Tempat terjadinya pertarungan kemudian diberi nama Sokawera, kini menjadi nama sebuah desa di kabupaten Banyumas, karena Adipati Wirasaba yang bertarung secara rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Kemudian rombongan itu beristirahat sebentar di tengah hutan sambil memeriksa barang bawaan, dan ternyata barang yang dibawa itu kurang (long dalam bahasa banyumas). Sehingga tempat tersebut diberi nama Pegalongan. Dan ketika di tengah perjalanan hendak menyeberangi sungai, rombongan itu menemukan mayat dari perampok yang bernama Suradilaga. Tempat ditemukannya mayat dari perampok yang bernama Suradilaga, kemudian diberi nama Cindaga. Lalu perjalanan dilanjutkan sampai di tempat acara pernikahan, hingga pernikahan pun dapat terlaksana.

Cerita singkat ini, merupakan bagian yang melatarbelakangi adanya tradisi begalan pada masyarakat Banyumas. Cerita ini juga terlihat dalam pementasan Begalan, yang diperankan oleh dua orang. Seorang berperan sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka, dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna. Cerita ini juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Banyumas yang masih memegang kuat adat dan tradisi untuk menghindari bepergian jauh pada hari sabtu pahing. Mereka percaya jika orang bepergian jauh pada hari sabtu pahing maka bisa celaka.

Dalam pelaksanaan tradisi Begalan, seorang yang memerankan Gunareka akan membawa barang-barang yang dipikul. Barang-barang tersebut adalah peralatan dapur yang masing-masing alat memiliki makna dan pesan untuk pengantin pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Demikian cerita begalan di Banyumas. Terima kasih sudah membaca sejarah begalan di Banyumas.

Daftar Perguruan Tinggi di Kabupaten Banyumas (Purwokerto)

Kabupaten Banyumas adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Purwokerto. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes di utara; Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen di timur, serta Kabupaten Cilacap di sebelah selatan dan barat. Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah terdapat di ujung utara wilayah kabupaten ini. Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari wilayah budaya Banyumasan, yang berkembang di bagian barat Jawa Tengah. Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Banyumasan, yakni salah satu dialek bahasa Jawa yang cukup berbeda dengan dialek standar bahasa Jawa ("dialek Mataraman"). Masyarakat dari bahasa dan daerah lain kerap menjuluki "bahasa ngapak" karena ciri khas bunyi /k/ yang dibaca penuh pada akhir kata (berbeda dengan dialek Mataraman yang dibaca sebagai glottal stop).

Banyumas memiliki beberapa universitas baik negri maupun swasta. Berikut universitas atau perguruab tinggi di Banyumas.




  1. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto
    Alamat: Jalan. HR. Boenyamin No. 708 Purwokerto
    Telp: 0281-635292
  2. Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)
    Alamat: Jl. Raya Dukuhwaluh
    Telp. 630 588, 634 424 Purwokerto
  3. Universitas Wijaya Kusuma (Unwiku) Purwokerto
    ALamat: Jalan. Beji Karangsalam
    Telp. 635 889, 624 838 Fax. 634 611 Purwokerto
  4. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto
    Jl. Jend. A Yani 40 Telp. 628 250 Purwokerto 
  5. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satria Purwokerto
    Alamat: Jalan. HM Bachroen 45 Purwokerto
    Telp. 0281-632 938
  6. Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer Widya Utama
    Alamat: Jalan Jend. Sudirman 604 Telp. 0281-628 831 Purwokerto
  7. Sekolah Tinggi Teknik Wiworotomo
    Alamat: Jalan Sumingkir No. 1 Purwokerto Telp. 0281-632 870 Purwokerto
  8. Akademi Teknik TELKOM Purwokerto
    Alamat: Jalan. D. I. Panjaitan No. 128 Purwokerto
    Telp. 0281-641629 Fax. 641630
  9. Akademi Kebidanan YLPP Purwokerto
    Alamat: Jalan KH Wahid Hasyim 274A Purwokerto
    Telp. 0281-641655 Fax. 623273
  10. Akademi Kesehatan Lingkungan Baturaden
    Alamat: Jalan. Karangmangu – Baturaden
    Telp. 0281-681 709 Baturaden
  11. Akademi Pariwisata “Eka Sakti” Purwokerto
    Alamat: Jalan. Jend. Sudirman Sokaraja 48
    Telp. 0281-692 028 Sokaraja
  12. Politeknik PRATAMA Purwokerto
    Alamat: Jalan. Perintis Kemerdekaan No.187 Purwokerto
    Telp.0281- 633066 - 633077
  13. STIMIK AMIKOM Purwokerto
    Alamat: Jalan Let.Jend. Pol. Sumarto (Depan SPN) Purwokerto
    Telp: 0281-623321
  14. STIKES HARAPAN BANGSAJl. raya ledug

Demikian beberapa daftar perguruan tinggi di Kabupaten Banyumas. Terima Kasih sudah baca Daftar Perguruan Tinggi di Kabupaten Banyumas (Purwokerto)